Fiction
Tambatan Hati [1]

26 Mar 2012

Langkahku terhenti. Dari geladak, sejenak melepas pandang, mengagumi keindahan alam sekitar pelabuhan Bau–Bau. Laut biru dikelilingi perbukitan hijau dengan tebaran rumah beratap seng. Atap–atap menyilaukan yang memantulkan cahaya mentari jelang siang. Kecintaan pada laut tidak menyisakan kejenuhan dalam mengisi kesendirianku menuju Pulau Buton.

Aku melangkah turun dari atas kapal. Menapaki anak tangga besi yang sudah kehitaman termakan karat. Sambaran angin seketika membuyarkan rambutku yang sesekali menghambat pandang. Hingga aku tidak melihat senyum Tante Liyan menyambut di kejauhan.

“Lea, apa kabar?” Dekapan hangat tubuh Tante Liyan membuatku sekian detik tak berkutik.

“Baik, Tante,” senyumku mengembang. Bahagia melihat rautnya ceria di tubuh yang mulai melar.

“Mana saja barangmu? Biar La Gani yang membawanya ke mobil. Hanya satu koper kecil ini?”

Satu koper ukuran kecil bagiku sudah cukup untuk berlibur selama seminggu. Memuat sejumlah baju, berupa beberapa T-shirt ketat, celana jins, baju renang, dan gaun pesta. Ditambah sepasang sandal karet untuk di rumah. Selebihnya adalah perlengkapan mandi, kamera saku, dan sebuah novel untuk mengusir sepi perjalanan.

Dalam mobil Tante Liyan, aku memandang alam lepas di balik jendela. Tampak asing setelah sekian lama tidak berkunjung ke sini. Sebuah pulau kecil di tenggara Sulawesi. Jalanan kota terlihat lengang, hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan lain. Melintasi jejeran rumah sederhana berpagar kayu yang sebagian besar sudah lapuk. Menyusuri sisi lapangan sepak bola, yang dikelilingi pepohonan cemara. Perhatianku tertuju pada rumah besar bercat putih bertiang bendera merah-putih.

“Itu rumah bupati. Kalau benderanya terpasang, berarti dia sedang ada di tempat,” Tante Liyan menjelaskan.

Di Jakarta aku tidak tertarik dengan apa pun yang menyangkut sosok-sosok pejabat. Bahkan, tidak peduli bila berpapasan dengan gubernur atau menteri sekalipun. Jakarta adalah kota yang keras. Kebanyakan penduduknya berjuang untuk bertahan hidup. Hingga tidaklah dirasa penting siapa pun yang memerintah, asalkan dapur senantiasa mengepul.

Keindahaan alam Buton sudah lumayan menghibur resah hati yang terbawa dari Jakarta. Namun, tiba-tiba ingatanku melambung pada sosok pria yang kubenci sepenuh hati.

“Mungkin, aku memang bukan pria yang sempurna. Tapi, aku adalah pria yang baik.” Suara pria itu seakan terngiang jelas di telinga.

“Ya, memang. Cukup baik untuk menjadi seorang penipu! Kalau dulu aku tahu kamu sudah beristri, mana mungkin mau berpacaran denganmu? Seperti tidak ada pria lain aja!”

“Lea, kamu kan tahu bahwa pernikahan kami karena perjodohan. Aku sama sekali tidak mencintai istriku, hanya ingin membahagiakan ibuku.”

“Salah sendiri!”

“Suatu saat kamu akan mengerti, bahwa cinta butuh pengorbanan".

Bagaimanapun aku masih mengharapkanmu, karena aku sangat mencintaimu, Lea. Kita bisa menikah secara diam-diam.”

“Kamu pikir aku sudi menikah dengan pria penipu macam kamu! Pria yang memperalat cinta untuk memperdayai wanita. Mulai detik ini kita tidak usah lagi bertemu!”

Terbayang pertemuan terakhirku dengan Farhan, pria yang membohongiku selama hampir setahun. Kami berpisah di sebuah kafe di pusat kota. Sebagai sekretaris di sebuah perusahaan retail, penghasilanku memang cukup untuk menikmati gemerlap dunia kota. Bersama teman-teman kerap melanglang buana, dari kafe ke kafe selepas kerja.

Pergaulan membuatku mengenal banyak pria dan berkencan tanpa beban, layaknya sosok wanita bebas metropolis. Sampai suatu ketika, entah mengapa, aku bisa kepincut pada Farhan, seorang pria eksekutif yang kukenal di salah satu kafe. Pria yang ternyata bukanlah jodohku. Setelah tak sengaja memergokinya di sebuah mal bersama anak dan istri.

“Bagaimana, apa kamu senang selama perjalanan?” suara lembut Tante Liyan membuyar lamunan.

“Ya, lumayan. Kapalnya singgah di beberapa pelabuhan. Pemandangan lautnya indah.”

Semoga Tante Liyan tidak memperhatikan. Betapa hampanya hatiku. Farhan semula adalah pria tambatan hati. Candanya melipur jiwa di kala duka menerpa. Kejenuhan bekerja selalu sirna kala bersama. Namun, ternyata segalanya terpaksa berakhir dengan menyakitkan. Sebagai wanita kota yang mandiri, sangatlah bodoh bila aku sudi menerima tawarannya untuk menikah. Sungguh penghinaan menjadi istri kedua!

Mobil meluncur di jalan berkelok yang menanjak di tepi jurang. Rumah Tante Liyan terletak di pinggir kota, di atas bukit berpanorama laut. Kubuka kaca jendela, membiarkan rambut kembali dikibarkan angin laut. Memandang hamparan laut biru beriak di bawah tebing. Riak yang terpantul sinar mentari itu menimbulkan kilauan bagai tebaran berlian di atas kain satin biru mengilat.

“Kalau lama di sini, kulitmu bisa hitam,” celetuknya.

“Lautnya benar-benar indah! Rasanya ingin sekali terjun berenang,” sahutku girang.

Mobil berhenti di depan pagar tinggi sebuah rumah besar bercat kuning menghadap laut. Terbayang betapa menyenangkan ngopi sore, sembari memandang ke laut lepas.

Tante Liyan adalah wanita karier yang sukses. Tampak dari rumahnya yang besar berperabotan indah. Tanpa anak, Tante Liyan hanya ditemani dua pembantu, Wa Siu dan Wa Dia.

Sebuah kamar telah disiapkan untukku menginap dengan jendela menghadap ke laut. Tentu saja lebih menghibur dibanding pemandangan beton rumah tetangga dari jendela kamarku di Jakarta. Tubuhku terempas di atas tempat tidur. Membiarkan sejenak terguncang di kasur empuk berlapis kain motif kembang.

“Lea, ayo, kita makan,” wajah Tante Liyan tersembul di balik pintu. Tanpa menunggu lama, aku segera menyusulnya ke ruang makan. Tampak hidangan laut menghampar di atas meja panjang. Sejumlah ikan gemuk berminyak yang terkulai di piring besar. Cumi-cumi segar dengan saus kecokelatan, segerombol udang berbumbu, dan semangkuk sambal dengan jeruk nipis. Sementara di ujung terdapat gundukan nasi putih mengepul. Menggiurkan! Tapi, makanan apa itu yang berbentuk kerucut di sudut?

“Ini kasuami, terbuat dari singkong. Makanan khas daerah sini. Enak juga dimakan dengan ikan.”

Aku hanya tersenyum. Sepertinya aneh bila singkong menjadi pengganti nasi.

“Wah, kalau begini terus, aku bisa gemuk!” entah sudah sendok keberapa aku menambah nasi. Menghabiskan sepotong utuh ikan goreng, udang, dan cumi–cumi. Membuat perut ini sedikit mem­buncit.

“Kapan lagi makan ikan segar? Mumpung ada di Buton,” Tante Liyan tertawa sambil mencuci tangannya dalam mangkuk berisi air. Kulihat piringnya sudah licin hanya menyisakan kepala dari makhluk-makhluk laut.

Untuk menghilangkan kenyang di perut, aku menyibukkan diri di kamar membenahi barang bawaan. Mengeluarkan perlengkapan mandi, sandal, dan handphone. Ya, ampun, aku nyaris lupa mengaktifkan kembali. Di kapal sengaja dimatikan. Percuma, tidak bisa menangkap sinyal. Pasti sudah banyak pesan yang tertunda selama perjalanan. Namun, saat kuaktifkan, handphone itu tetap tidak bisa menangkap sinyal. Aneh!

Tanpa handphone, rasanya seperti buronan yang kabur. Benar seperti kata Dita, sahabatku, tempo hari.

“Gila, mau kabur jangan jauh-jauh, dong!” Dita cemberut. Sementara asap rokok diembus keras, mengepul di sela rambutnya yang kemilau. “Kenapa, sih, hanya karena frustrasi, kamu jadi begini!”

“Dengar, ya, aku sama sekali nggak frustrasi! Aku pergi karena butuh ketenangan. Lagi pula, aku sedang jenuh kerja."

“Lea, apa kamu sedang tidur?” suara Tante Liyan di balik pintu menyentakku dari lamunan.

“Kalau kamu tidak capek, kita bisa jalan–jalan ke kota.”

Kali ini aku yang menyetir mobil, meluncur berdua Tante Liyan. Jalanan masih silau oleh terik mentari siang. Tante Liyan duduk tenang menyebar pandang. Sekilas aku memikirkan adik bungsu Mama ini. Usianya sudah kepala lima. Namun, wajahnya masih cantik dan terlihat bergaya. Mengenakan blus ketat dari bahan kaus bercorak abstrak dilengkapi kacamata hitam bergagang penyu.

Tergiang kata-kata Mama. “Lebih baik kamu berlibur di Buton. Sekaligus menengok Tante Liyan. Kasihan dia, sudah lama tidak ada yang datang berkunjung.”

Mendadak aku merasa iba pada Tante Liyan. Kalau saja dia menurut pada Eyang untuk tidak menikah dengan Om Sidi, tentu tidak akan hidup sendiri di pulau ini. Entah mengapa, pria asal Buton itu yang dipilih Tante Liyan. Ia begitu mencintai La ode Rasidi, hingga rela menikah tanpa kehadiran Eyang. Terakhir, aku dengar Tante Liyan tidak mendapat jatah warisan tanah yang ditinggalkan Eyang di Solo.

Pasti wanita itu kerap kesepian tanpa anak. Sejak suaminya meninggal sepuluh tahun lalu, Tante Liyan sepertinya tidak berniat menikah lagi. Lebih memilih menjanda dan bekerja. Perjuangan yang tidak sia-sia. Setelah sukses sebagai pemborong untuk pembangunan daerah, Tante Liyan dipercaya masyarakat Buton menjadi anggota dewan tingkat dua daerah. Kini hidup nyaman di rumah lumayan megah, lengkap dengan mobil dan sopir yang siap mengantar ke mana saja.

Mengitari kota Bau-Bau dengan panorama alam laut sungguh menyenangkan. Berbeda dari alam Jakarta yang sumpek dan hanya indah oleh panorama lampu dan beragam gedung megah. Keindahan yang semu, sama seperti cinta seorang pria.

Kami melintasi rumah-rumah sederhana, aneka hotel melati yang sepi, bangunan instansi bercat kusam, dan deretan pertokoan sederhana bercat hijau dan kuning. Di atas pintu-pintu terdapat patung nanas menggelantung.

“Nanas adalah simbol daerah sini,” kata Tante Liyan, seolah membaca benakku, tanpa menjelaskan lebih lanjut, mengapa jenis buah itu menjadi simbol.

Menyetir di kota kecil harus lebih pelan, karena banyak persimpangan. Namun, yang menyebalkan adalah ojek-ojek melesat tak beraturan. Mereka seenaknya menyeruduk tanpa menoleh kanan-kiri. Hingga kerap memaksaku mengerem mendadak.

“Maklum, mereka tidak mengerti peraturan. Mengebut tanpa perhitungan. Tante sudah pernah membahas ini bersama anggota dewan, tapi belum ada tanggapan untuk pengadaan lampu merah.”

Mobil perlahan menyusuri jalan pertokoan. Melintasi beragam toko dan sejumlah restoran.


Penulis: Athma


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?