Siapa bilang masakan Indonesia sepi penggemar. Di usia hampir 4 dekade, antrean panjang menjelang jam makan masih tampak di Medan Baru. Sang pemilik, Ibrahim, tak tergoda dengan tren resto yang berkiblat ke Eropa dan Amerika. Baginya, menyajikan masakan Melayu dari tanah Medan, Aceh, dan Minang, adalah salah satu tanda cintanya pada kuliner Indonesia.
Agar pelanggannya tak capek menunggu giliran bersantap, cabang pertama dibuka di Pesanggrahan. Ruang sajinya lebih lega. “Saya tak ingin terlalu banyak menyediakan meja agar pelanggan lebih nyaman bersantap,” ujar Ibrahim.
Burung Punai dan Gulai Kepala Ikan tetap dicari-cari. Konsisten karena bumbunya masih diracik oleh Ibrahim. Ia pun pantang meninggalkan dapur saat proses pengolahan berlangsung.
Yang terkini di Medan Baru adalah Asam Manis Kepala Ikan, request dari banyaknya pelanggan yang pantang mengonsumsi santan. Butuh setahun bagi Ibrahim untuk mencoba hingga rasanya pas. Dalam sehari, minimal 300 buah kepala ikan ludes!
Rempah pekat adalah signature wajib pada hidangan. Seperti pada Kari Bebek, harum halba --sebutan lain kelabat-- bersinergi dengan santan kental. Ada juga Ikan Kayu, yakni suwiran tuna asap, berbumbu belimbing wuluh asap dan salam koja. “Bekal wajib saat naik haji,” saran Ibrahim. (AN)
Lokasi: Jl. Pesanggrahan 168 D–E Puri Kembangan, Jak-bar. Telp: (021) 5806207. Jam buka: 10.00 – 22.00 WIB. Harga*): Rp14.500 – Rp180.000 (belum termasuk pajak 10%). Suasana: Di bagian depan resto ada etalase kaca yang memajang semua makanan.
*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.



