
Saya dan suami menikah 5 tahun dan punya seorang putra (4). Dulu kami sepakat punya dua anak, tapi suami berubah pikiran. Ia tidak mau menambah anak lagi. Dari segi ekonomi kami cukup mampu, namun suami takut tidak dapat memberikan yang terbaik bagi anak, jika kami punya dua anak. Hal ini sedikit banyak memengaruhi hubungan kami. Bagaimana meyakinkan suami?
Amanda – Tangerang
Menurut Psikolog Irma Makarim, seiring dengan berjalannya waktu, bisa saja sebuah rencana mengalami perubahan dan berganti dengan rencana baru. Ini juga terjadi dalam sebuah perkawinan. Sebelum itu terjadi, Anda berdua perlu melakukan pembicaraan serius.
Dapat dimengerti jika Anda kecewa. Jangan hanya memendamnya dalam hati, sampaikan kepada suami secepatnya apa yang membuat Anda merasa kecewa, agar suami menyadari akibat dari sikapnya.
Banyak alasan yang bisa membuat suami menolak menambah anak. Mungkin ini berhubungan dengan pengalaman yang kurang menyenangkan sebagai orang tua saat ini, yang membuatnya ragu akan kemampuannya mengasuh dan membesarkan anak. Keraguannya itu bisa mendorong suami menolak menambah anak.
Untuk mengatasi masalah ini, Anda berdua perlu kembali pada komitmen semula. Renungkan apakah arah perkawinan yang dulu ingin Anda capai masih selaras dengan keinginan saat ini atau perlu perubahan. Jika saat ini suami merasa belum siap menambah anak, maka rencana itu cukup ditunda dulu, tanpa perlu dibatalkan sama sekali. Anda pun dapat berkompromi dengan memberikan waktu pada suami untuk berpikir dan melakukan pertimbangan. Apa pun yang Anda putuskan, sebaiknya itu baru diwujudkan bila sudah disetujui bersama.
Sedangkan menurut Psikolog Monty Satiadrama, Anda berdua butuh waktu relatif lama untuk mencapai kesepakatan, karena masalah yang Anda hadapi tidak sederhana, bahkan cukup kompleks. Keberatan suami menambah anak tentu memiliki alasan tertentu, apalagi sebetulnya Anda berdua telah bersepakat sebelumnya. Anda perlu mencari tahu secara pasti alasan tersebut. Anda perlu memahami keberatan dan ketakutan yang tersimpan di balik sikapnya.
Keinginan Anda kembali hamil merupakan naluri alami seorang wanita, namun tampaknya suami butuh waktu untuk merenungkan dan menimbang-nimbang keputusan menambah anak. Anda tak perlu langsung marah dan memaksakan kehendak, sebaliknya, menghargai keinginannya. Jika Anda memaksakan kehendak, ada kemungkinan suami akan bersikap defensif dan membuat masalah lebih rumit. Bersabarlah dahulu.
Jangan biarkan masalah ini menjadi rumit dan menjauhkan Anda berdua. Lakukan dialog dengan suami, bukan untuk saling memperdebatkan pendapat dan prinsip, tetapi untuk mencapai kesepakatan. Hindari bersikap reaktif, karena pembicaraan di antara Anda berdua masih pada tahap rencana. Mungkin suatu saat ketakutan suami akan memudar seiring dengan perkembangan keadaan.