Celebrity
Shanti: Paling Berharga

13 Sep 2012


Kabar pernikahan Shanty (33) di pertengahan tahun 2010 dengan seorang ekspatriat asal Ekuador, Sebastian Paredes (51), cukup mengagetkan, mengingat Shanty cukup lama tidak terdengar punya hubungan serius. Memang, putri bungsu pasangan Eddy Heryadie dan Ratna Sutama ini sempat dikabarkan dekat dengan pria asal Belanda. Tapi, hubungan itu tidak bertahan lama.

Benarkah Shanty sengaja mencari pria asing sebagai pendamping hidupnya?
"Itu tidak benar. Saya percaya ini semua sudah diatur Tuhan. Saya kenal Sebastian ketika diundang menyanyi oleh sebuah bank,” akunya. Saat itu, Sebastian adalah CEO di bank tersebut.

Awal perkenalan dirasa biasa saja, tapi lama-kelamaan Shanty mulai penasaran karena kepribadian Sebastian yang berdarah Latin dinilainya berbeda dari umumnya eksekutif yang biasa ia temui. "Sebastian itu karismatis, tapi sekaligus njawani. Dia tidak sombong dan mau bergaul dengan teman-teman saya," ujarnya, tersipu.
Perbedaan usia 18 tahun tidak dirasakan sebagai kendala baginya. Terang saja ia tidak kaget lagi karena kedua orang tuanya pun terpaut beda usia 20 tahun. "Sebastian yang sudah matang bisa mengimbangi saya yang masih berkembang dan meledak-ledak," kata wanita berdarah Jawa, Sunda, dan Belanda ini, senang.

Penyuka ketoprak dan masakan Sunda ini menemui banyak hal lucu dalam hubungannya dengan suami. Sebastian, misalnya, pernah menanyakan kepadanya mengapa ia selalu menyebut ‘bucket’ saat ngobrol dengan teman-temannya gara-gara Shanty suka mengucapkan kata ‘embeeer’. Suaminya juga pernah menghabiskan sekotak tisu saat diajak menyantap masakan Sunda menggunakan tangan. “Tiap satu suap, dia bersihkan tangannya pakai tisu,” katanya, terkekeh geli. Pengalaman-pengalaman lucu ini kontan dia sebar di Twitter-nya.

Bahagia. Itu yang terpancar di wajahnya saat menceritakan polah tingkah suaminya. Apalagi, setelah dikaruniai anak, penyuka olahraga ini merasa hidupnya telah lengkap. “Keluarga adalah prioritas saya sekarang. Mereka yang memberi kebahagiaan terbesar dalam hidup saya,” kata wanita dengan gaya bicaranya yang blakblakan ini.
Shanty mengaku tidak sayang telah melepas kariernya karena kedekatannya dengan Juno merupakan sebuah anugerah yang tak tergantikan. “Punya anak is the best thing in life. Keuntungan saya tidak bekerja lagi adalah tidak melewatkan perkembangan Juno,” kata Shanty, yang masih menyusui anaknya dan   berharap bisa menambah momongan lagi.

Kini, Shanty merasa, kalau tidak ada anak pertamanya, Juno di sampingnya, ia merasa timpang. “Makanya, ke mana pun saya pergi, Juno pasti selalu saya bawa,” tambahnya. Karenanya, Juno sudah berkeliling ke Ekuador, Amsterdam, Jakarta, Bali, Yogya, Tokyo, dan Koh Samui (Thailand) mengikuti  Shanti pergi.

Saat Juno masih berusia 10 bulan, keluarga kecil itu pergi ke Ekuador mengunjungi keluarga Sebastian. Shanty pun sempat terkaget-kaget dengan kebiasaan makan mereka yang lama. Untuk makan siang saja, bisa sampai 4-5 jam. ”Jadi, mereka duduk-duduk sambil ngobrol sebelum dan setelah makan, lalu break sebentar, dilanjutkan dengan late dinner dari pukul 8-12 malam. Pernah, dalam satu kesempatan saya menghadiri undangan makan malam. Ternyata, baru pada pukul 10 malam sajian dihidangkan. Wah, perut saya sudah berontak nggak keruan,” ceritanya, geli.

Beratkah hidup di negara orang? “Sulitnya, tidak ada banyak tangan yang bisa dititipi anak. Selain itu, saya juga harus mandiri. Saya, yang ibaratnya merebus air saja bisa gosong, sekarang jadi bisa masak,” kata Shanty,  yang mengaku belajar masak awalnya lewat YouTube. Kini, ia sudah piawai menyiapkan Thai food, lamb chop, salmon steak, dan sup buntut kesukaan suaminya. Shanty menambahkan, saat hidup di luar negeri, suamilah yang menjadi sahabat yang selalu mendukungnya. “Hidup di negara orang, all you have is each other,” jelasnya.(f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?