Seiring menjalani perkawinannya, Shahnaz Haque dan Gilang Ramadhan setuju sekali pada petuah orang dulu, bahwa anak merupakan penyelamat pernikahan. Putri pertama mereka, Pruistin Aisha Haque-Ramadhan (12), lahir pada Februari 2002. Menyusul kemudian putri kedua, Charlotte Fatima Haque-Ramadhan (11), lahir pada Februari 2003. Lalu si bungsu, Mieke Namira Haque-Ramadhan (8), lahir pada Januari 2006. “Untungnya saya hamil terus. Berturut-turut punya anak membuat semua ego dan komunikasi yang penuh amarah seakan landing,” ungkap Shahnaz, tertawa. Ketika intonasi bicara mereka mulai meninggi dalam perdebatan, maka bukan mereka lagi yang sedang berbicara, tapi ego mereka. Kehadiran ketiga malaikat mereka inilah yang menjadi perekat dan penguat komitmen mereka untuk hidup bersama sebagai suami-istri.
Meski demikian, keduanya mengaku, perubahan dalam komunikasi tidak terjadi secara instan. Penyesuaian masih banyak terjadi saat anak pertama dan kedua telah lahir, mengingat jalinan asmara mereka sebelum menikah hanya berlangsung dalam hitungan minggu.
“Di tahun 2006, selang beberapa bulan setelah si bungsu lahir, ayahnya Gilang, Ramadhan K.H., meninggal dunia. Beliau satu-satunya sosok orang tua bagi kami berdua. Percakapan antara saya dan ayah mertua selama 8 hari terakhir sebelum ia berpulang, ‘dalam’ sekali bekasnya untuk saya,” tutur Shahnaz, yang menikah dalam kondisi yatim-piatu, sementara ibunda Gilang sudah meninggal juga.
Percakapan dari ayah Gilang banyak sekali mengubah cara berpikir Shahnaz, termasuk sifat keras kepala dan egonya yang akhirnya jauh mengempis. Seorang Ramadhan K.H., yang seorang penulis biografi, rupanya banyak menceritakan bagaimana ia dan istrinya, yang seorang diplomat, berkompromi dalam berumah tangga dengan dunia yang berbeda.
“Kemampuan mereka mengombinasikan dua warna yang berbeda benar-benar membuat saya takjub. Ia juga memberikan wejangan yang menggarisbawahi bahwa musuh dari perkawinan itu adalah kebosanan,” ungkap adik dari Marisa dan Soraya Haque ini.
Shahnaz ingat sekali pesan dari sang ayah mertua, “Kalau kamu sudah bosan memaafkan Gilang, atau Gilang sudah bosan mencintai kamu, maka hancurlah perkawinan kalian. Titip Gilang, ya, Naz…. Jangan ditinggal dia.”
Ucapan ini juga dilatari kenyataan bahwa baik Gilang maupun Shahnaz datang dari keluarga cancer survivor. Di usia 26 tahun, Shahnaz dideteksi menderita penyakit kanker ovarium, sementara ibu Gilang juga menjadi breast cancer survivor selama 23 tahun hingga Gilang remaja. “Saya ingat sekali pesannya untuk menjaga kesehatan dengan baik, agar saya bisa terus menjadi cancer survivor,” kenang Shahnaz, yang mengaku bahwa respeknya kepada Ramadhan K.H. bak melebihi cintanya pada Gilang.
Tari Trisulo (Kontributor Jakarta)
Foto: Dok. Pribadi


