Berangkat dari niat sederhana, peralatan masak yang pinjam sana-sini, dan modal dari kocek patungan, 6 anak muda bersuara di Masak.TV. Sebuah podcast (video online) masak di Youtube yang walau terlihat nyeleneh, tetap menggunakan resep yang bisa dipertanggungjawabkan, bekerja secara profesional bersama 5-6 kru, dan punya banyak penggemar.
Walau kenyang merekam kegiatan politik, Roby Bagindo, seorang online video producer, nol pengalaman dalam syuting kuliner. “Saya hanya ingin mencari cara agar teman-teman yang pindah ke luar negeri untuk bekerja tetap bisa memasak sajian Indonesia. Tak mungkin selamanya jajan,” ujarnya, beralasan. Masak.TV lalu berdiri pada tahun 2008, ketika penggunaan internet belum sedahsyat sekarang.
Ia menggandeng Faisal Lanin, Alvin ‘Kapau’, Tirta Pane, dan Saskya Pane, semuanya saat itu adalah pelajar di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti. Roby meyakinkan mereka bahwa internet akan booming lima tahun lagi sehingga kegiatan nonprofit ini bisa saja berbuah bisnis. Mereka ‘menyulap’ studio di rumah Roby di Pulomas menjadi setting dapur ala kadarnya.
“Mulanya kami menayangkan juga resep-resep populer seperti Korean Bulgogi sebagai ‘starter pack’ untuk mengundang penonton,” ujar Alvin. Para host dibiarkan menjadi diri sendiri. Tanpa skrip, tanpa chef jacket, dan editor tak membuang langkah masak yang gagal.
Jumlah penonton melebar, terutama orang Belanda yang ingin belajar masakan Indonesia. Statistik turut menunjukkan bahwa resep masakan kaki lima atau apa pun yang tidak neko-neko adalah jenis yang dicari-cari. Video Pempek Kapal Selam, Cap Chay, dan Puding Cokelat banjir penonton!
Untuk resep-resep rumahan, para ibu menjadi tempat mereka berkonsultasi. Untuk yang cukup spesifik dari daerah tertentu, Masak.TV menghadirkan host tamu. Untuk produk online, Roby menyebut kolaborasi adalah bentuk promosi yang efektif.
Secara teknis, dibutuhkan syuting hingga dua jam untuk video berdurasi tujuh menit. Mic ditempel di bawah meja untuk menangkap suara mencincang atau minyak yang berdesis. Para host berlatih artikulasi dari pelatih teater agar power vokal tak kelewat kencang, memiliki titik tekan, dan tak redup karena letih di penghujung take.
Produksi dikebut kapan pun Tirta pulang cuti dari Jerman dan Faisal kembali dari kapal pesiar. Proses tanpa henti yang bisa menyita lebih dari satu hari sehingga para host pernah memasak sambil setengah tertidur! Tangan juga kadang-kadang gemetaran karena kecapekan. Karena bagian pinggang ke bawah tertutup meja, host sering syuting mengenakan celana tidur.
Banyak yang menyangsikan mereka karena tampilan nonformal ini. Yang tak diketahui penonton adalah bahwa para host juga awak dapur yang serius kala berada di industri. Ketika dicemooh karena memasak tanpa sarung tangan, mereka memilih diam. Pembelaan justru datang dari penonton lain. “Jamie Oliver padahal tak kalah berantakan, tapi dipuja-puji orang kita dan tak dibilang jorok,” ujar Alvin.
Komentar penonton memang dicari Roby. “Berbeda dengan media cetak, produk online justru jangan mengumbar semua terlalu detail agar tercipta interaksi pada lahan komen yang tersedia,” kata pria yang pandangannya mulai dicari oleh sesama videografer kuliner ini.
Tahun lalu, Masak.TV menjadi saluran masak Indonesia pertama yang digaet Youtube sebagai partner. Karena memenuhi syarat dengan total penonton sebanyak 100.000, podcast ini berhak mendapatkan pemasukan tetap dari iklan. Dana yang akhirnya menyudahi ‘perjuangan’ syuting dengan modal sendiri selama empat tahun. Masak.TV kini memiliki spot di www.tastemade.com, sebuah portal masak AS yang menyatukan podcast pilihan di dunia.
“Satu yang belum terpikirkan produk masak lokal adalah kesempatan menembus pasar asing dengan mensponsori podcast masak yang ada dalam network kami. Lebih murah ketimbang lewat aktivasi atau beriklan di sana,” tutup Roby.(f)


