“I’m so glad I was young and stupid BEFORE there were camera phone”Sepertinya ungkapan kocak di atas cocok dialamatkan pada Khloe Kardashian dan Nicki Minaj yang akhir pekan lalu membuat heboh para netizen dengan pose-pose menantang mereka di akun sosial media masing-masing.
Khloe yang sedang “demam” menggunakan Vine (aplikasi berbagi gambar bergerak) pada 7 Maret lalu mempertontonkan make-up artist yang tengah memoleskan sejenis losion ke bagian dadanya. Rekaman yang dipunggah lewat Vine ini sekaligus menjadi adegan topless pertamanya yang dirilis ke publik.
Sehari sebelumnya, penyanyi rap Nicki Minaj juga membuat sensasi serupa. Ia memamerkan lekuk tubuhnya (dari bagian pinggang ke atas) lewat jepretan kamera telepon yang dipunggah di akun instagram miliknya. Bagaimana tidak mengundang reaksi jika foto “selfie” yang meminjam tangan seseorang itu diambil saat ia sedang mandi!
Kamera telepon tidak hanya menjadi media berekspresi, tapi juga menjadi moda bagi banyak orang – selebritas atau non selebritas – untuk berekplorasi dengan sisi "exhibitionist" dalam diri mereka. “Semua aksi itu bermuara pada keinginan menjadi pusat perhatian dan bahan perbincangan. Ini adalah cara gratis dan termudah untuk muncul di media,” ungkap Stacy Kaiser, Psikoterapis berlisensi dan penulis buku How to be a Grown Up, seperti yang diberitakan oleh ivillage.
Cuplikan Khloe di Vine misalnya. Menurut Stacy, rekaman ini ingin menampilkan sisi pribadi Khloe sebagai sosok yang menyenangkan. Padahal di balik itu, ia sedang menunggu keputusan pengadilan untuk perceraiannya dari pebasket Lamar Odom. “Para artis yang sedang bermasalah ini memajang selfie dengan pose bertelanjang dada, atau mengenakan bikini seksi untuk mengatakan, ‘Saya baik-baik saja, saya bahagia, dan saya tidak peduli’,” lanjut Stacy.
Pada kasus Nicki, memajang foto seksi menjadi caranya untuk menarik perhatian media. “Tidak ada yang membincangkan Nicki Minaj belakangan ini, tapi sekarang ia ada di berbagai pemberitaan,” ungkap Stacy.
Lalu bagaimana jika “demam” cari perhatian lewat posting-an foto dan video ini terjadi pada netizen non selebritas? Menurut Stacy, akar dari semua ini adalah ‘mencari perhatian’. Foto-foto dan rekaman video diri sendiri itu seolah berteriak, “Lihat aku! Lihat aku!”. Mereka ini berusaha mencari pujian dan pengakuan bahwa mereka eksis.
“Mereka memasang selfie untuk mengikuti jejak orang-orang berduit dan terkenal. Ini cara mereka untuk mengatakan, ‘Saya juga spesial. Kalau para selebritas itu bisa melakukannya, saya juga bisa!’. Intinya, kita sekarang hidup di era visual dimana orang-orang bereaksi terhadap selfie,” ungkap Stacy. Namun, pastikan pose Anda itu kelak tidak menjadi bumerang yang berbalik menyerang Anda.
NJL
Foto: Corbis


