Besar di dunia hiburan yang glamor tak meluruhkan semangat Nadine Chandrawinata berkelana ke pulau-pulau terluar di Indonesia (banyak di antaranya belum bernama) yang amat jauh dari kesan nyaman. Bahkan, untuk mencapainya, tak jarang Nadine harus beradaptasi dengan keterbatasan yang ada. “Banyak juga orang terheran-heran dengan hobi traveling saya ini. Kok, mau bela-belain pergi ke pelosok daerah dengan perjalanan panjang dan alam yang tidak mendukung,” ujar Nadine. Sejalan Cita-Cita
Menjawab rasa heran itu, Nadine punya alasan. Selain keindahan alam yang masih perawan, Nadine memiliki tujuan tersendiri tiap melakukan perjalanan. “Saya pernah membaca suatu kutipan, ‘Jika ingin mengenal diri sendiri, kita harus traveling’. Dan ternyata benar. Kini traveling seperti ajang introspeksi diri dan sudah menjadi bagian dalam hidup saya,” tambah Puteri Indonesia 2005 ini.
Karena itulah, bepergian bukan sekadar jalan-jalan bagi Nadine. "cita-cita saya adalah membantu orang banyak, dan sekarang saya melakukannya dengan penyuluhan ke tempat-tempat terpencil dan membangun kepercayaan diri masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi lokal yang mereka miliki,” ujarnya, penuh harap.
Bersama dengan pemda atau LSM untuk mengajak anak-anak lebih mengenal daerah mereka sendiri dengan sekolah alam yang sifatnya nonformal, duduk lesehan bersama masyarakat. Harapannya, mereka akan tersentuh hatinya untuk lebih mau dan bisa menjaga alam, khususnya mereka yang tinggal di pesisir. “Merekalah yang menjaga kelestarian alam di lingkungannya, bukan saya,” ungkap Nadine.
Selain itu, ia kini juga sedang giat memperkenalkan gerakan ramah lingkungan yang baru, khususnya yang hobi menyelam seperti dirinya. Jika gerakan go green sudah lebih dulu populer, sekarang Nadine sedang semangat dengan gerakan go blue. Intinya sama, bersikap ramah dan menjaga alam, namun ini alam bawah laut.
“Semua berawal dari diri saya dulu. Saat menyelam, saya tidak hanya menikmati keindahan alam bawah laut, tetapi juga memunguti sampah yang ada di dalamnya. Saking banyaknya sampah, saya sampai menyebutnya ‘warung laut’. Biasanya sampah itu berasal dari pendatang atau warga setempat karena tidak ingin mengotori kapal,” ceritanya sedih.
Tidak berhenti sampai di situ, Nadine secara aktif menyuarakan pentingnya manusia untuk terlibat dalam menjaga ekosistem laut. Salah satunya adalah kampanye penyelamatan hiu, yang dikenal dengan #SOSharks.
“Saya mengunjungi beberapa sekolah dan penerbangan di Indonesia, meminta komitmen mereka agar tidak mengirim sirip ikan hiu. Saya juga terlibat kampanye penolakan aksi pertunjukan lumba-lumba yang biasanya diadakan di lapangan parkir,” ujarnya, bersemangat.
“Sebenarnya ada PERDA No.9 Tahun 2012 yang melarang penangkapan hiu dan manta di Raja Ampat, Papua, namun orang terkadang tidak ngeh. Mungkin tidak banyak juga yang tahu bahwa mengonsumsi ikan hiu itu sama saja dengan bunuh diri karena kandungan merkuri pada hiu sangat tinggi,” ujar Nadine, yang juga sedang giat memperkenalkan kecantikan alam Pulau Sangihe, Sulawesi Tenggara, kepada masyarakat luas.
“Saya sungguh merasakan kebaikan alam saat melakukan perjalanan. Di mana pun saya berada, saya merasa alam terus menjaga saya. Alam mengajarkan banyak hal kepada saya. Terima kasih kepada Tuhan karena saya bisa hidup di mana saja tanpa mengeluh, mampu melihat kebahagiaan di balik kesedihan. Ini pula yang membuat saya mau terjun langsung untuk orang-orang sekitar saya,” tambahnya, serius.
Rully Larasati


