<< cerita sebelumnya“Jadi, aku sungguh-sungguh paham apa yang kaurasakan terhadap Hariman,” kata Abel kemudian. “Hariman telah membuatmu meraih kesuksesan, walaupun novelnya sendiri tidak berhasil. Sedikit banyak, aku bisa menyimpulkan bahwa dia bukan cuma sekadar idealis, tapi juga berhati mulia.”
“Novel? Hariman menerbitkan novel?”
Wajah kaku Darmian ketika ia melontarkan pertanyaan itu membuat Abel agak terkesiap. “Kau tidak tahu Hariman pernah menerbitkan novel?” tanya Abel.
Darmian menggeleng. Abel menatap Darmian agak lama. “Aku menemukan novel Hariman di Book+Stop kemarin.” Wajah Darmian memucat. “Bukunya, sih, sudah agak usang, tapi masih terawat. Aku juga kaget waktu menemukannya, makanya aku bertanya padamu tentang Hariman.”
“Ini benar-benar kejutan. Hariman tidak pernah menceritakannya padaku,” kata Darmian pelan. Matanya tidak lagi terpaku pada Abel, tapi menerawang.
“Mungkin dia merasa itu bukan sesuatu yang penting,” Abel berasumsi. “Lagi pula, siapa yang mau cerita tentang novelnya yang tidak laku sementara novel-novel yang kautulis meledak
di pasaran?”
Darmian menelan ludahnya dengan susah payah. Kekagetan Darmian memunculkan pertanyaan baru di kepala Abel. Mengapa Darmian kelihatan sangat terganggu dengan hal itu?
“Mungkin yang kaukatakan benar. Mungkin Hariman malu atau apa… aku juga tidak tahu,” kata Darmian, sembari menghela napas. Ia menjauhkan kursi rodanya dari Abel, meninggalkan Abel bertanya-tanya dalam hati.
“Annabel, aku rasa sesi wawancara hari ini sampai di sini saja dulu.” Darmian menggerakkan kursi rodanya menuju rak buku tinggi yang penuh buku. Meskipun Abel merasa heran dengan permintaan Darmian, ia tetap menekan tombol stop dan menutup notes-nya.
“Aku harap kau tidak keberatan,” kata Darmian. Ekspresinya tidak terbaca. Abel cuma menggeleng.
“It’s okay,” sahut Abel. Ia mengambil tape recorder dan notes-nya dan bersiap-siap keluar. Saat tangan Abel menyentuh pegangan pintu, Darmian tiba-tiba memanggilnya.
“Novel yang ditulis Hariman, apa judulnya?” Suara Darmian sedikit menggema di ruangan perpustakaan yang besar. Suaranya jernih dan terkendali, namun gagal menutupi kegelisahan yang sudah muncul sejak kenyataan itu terungkap.
“Sang Penulis.”
Tingkah aneh Darmian kembali menyulut rasa ingin tahu Abel. Ia mengira rasa penasarannya akhirnya akan terpuaskan setelah sesi wawancara tadi, yang sesungguhnya memang benar, sampai momen ia mengungkap kalau Hariman pernah menerbitkan novel.
Sekarang ini, orang yang paling ingin ditemui Abel adalah Mariana. Ia punya begitu banyak pertanyaan seputar Hariman. Sayangnya, Mariana sedang keluar bersama Tamara. Ia harus bersabar dan menunggu hingga ia pulang.
Abel berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia harus tahu lebih banyak tentang Hariman. “Oya! Jeff!” Abel berseru tiba-tiba. “Mungkin aku bisa minta tolong Jeff,” gumamnya antusias. Abel langsung mengirimkan e-mail kepada Jeffry. Di dalamnya, ia menulis: “Tolong cari informasi tentang Hariman. Dia teman Darmian dan pacar Mariana yang meninggal di dalam kecelakaan. Tolong cari tahu juga tentang novel yang berjudul Sang Penulis. Pengarangnya Hariman. Kalau kau sudah mendapatkan informasinya, segera kirim ke e-mail-ku. Ini penting.”
Dan sekarang, yang bisa ia lakukan hanya menunggu Mariana.
Ketika ia bertemu Darmian keesokan harinya di sesi wawancara, semuanya serasa normal. Darmian tidak menunjukkan sikap yang aneh dan tampaknya telah melupakan apa yang terjadi kemarin. Abel, yang belum bisa menghapus kejadian itu dari ingatannya, malah bersikap agak canggung.
“Kau pasti merasa aku sudah bertingkah tidak wajar kemarin,” kata Darmian. “Yah, kenyataan kemarin itu memang agak di luar dugaan. Sekarang, aku malah ingin tahu seperti apa novel yang ditulis Hariman. Aku sudah meminta Mariana membawakannya untukku hari ini.”
Abel hanya tersenyum menanggapinya. Ia sendiri juga ingin membacanya, tapi kesempatannya hilang sudah. Mungkin ia terpaksa menunggu Darmian selesai membacanya baru ia bisa mendapat giliran. Tapi, ya, sudahlah, kata Abel dalam hati.
Dua hari berlalu tanpa Abel bisa ngobrol dengan Mariana.
Abel hanya mampu menelan pertanyaan-pertanyaannya setiap kali ia melihat Mariana sedang bersama Darmian di perpustakaan. Ia sudah mendapatkan balasan dari Jeffry, namun hasilnya tidak memadai. Jeffry hanya memberikannya informasi yang sudah ia ketahui. Abel menjadi frustrasi saking penasarannya.
Akhirnya weekend yang Abel nanti-nantikan tiba. Setelah selesai sarapan, lebih kurang pukul sepuluh, ia pun pamit keluar. Kepada pembantu, ia hanya bilang, “Aku mau jalan-jalan ke pasar sebentar,” tapi tempat tujuannya sudah pasti: Book+Stop. Abel menumpang taksi ke sana. Rupanya, Book+Stop sudah cukup dikenal, sehingga Abel bersyukur ia tidak tersesat.
Sampai di Book+Stop, Abel langsung menuju ruang buku. Ia berharap masih bisa menemukan novel Hariman. Abel menelusuri semua judul buku yang ada dengan saksama. Ketika ia menemukan buku yang menarik, ia mengambilnya dan membolak-baliknya sebentar, tapi selalu dikembalikannya lagi. Ia memusatkan perhatiannya pada buku-buku lama, berharap untuk sekali saja mendapatkan keajaiban. Berharap bahwa novel Hariman ada di antaranya.
Setengah jam berlalu, Abel pun menyerah. Usahanya tidak membuahkan apa-apa. Novel Hariman memang sudah tidak tampak di rak. Akhirnya, Abel mengambil novel asli The Time Traveler’s Wife dan membawanya ke kafe. Ia memesan secangkir teh yang diberi nama Le’ petit Prince, yang ternyata teh earl grey. Kesannya jadi agak rancu mengingat bahasa yang digunakan sebagai nama dalam menunya adalah bahasa Prancis, sedangkan teh earl grey itu jelas-jelas hasil racikan orang Inggris. Tapi, siapa yang peduli?
Abel segera terserap ke dalam bacaannya. Sesekali ia menyesap tehnya pelan-pelan. Ini benar-benar surga, pikirnya nikmat. Tepat pada saat ia sedang mengedarkan pandangannya, ia melihat Mariana mendorong pintu kaca!
Abel hampir tidak memercayai matanya. Ini takdir! “Mariana!” panggilnya, cukup keras untuk membuat orang-orang menoleh ke arahnya. Mariana langsung melambaikan tangannya.
“Aku tidak tahu kau datang ke Book+Stop,” ujarnya, sesudah ia berdiri cukup dekat dengan Abel.
“Aku memang sudah kepingin ke mari pas weekend,” kata Abel. Dan juga untuk mencari tahu tentang Hariman, lanjutnya dalam hati. “Kau buru-buru?”
Mariana menggeleng. “Aku ke sini untuk mengambil novel Hariman.”
Jantung Abel serasa mau copot ketika mendengarnya.
“Novelnya Hariman?”
“Ya. Mas Darmian memintaku untuk meminjamnya karena dia ingin membacanya. Jadi, aku meminta mereka menyimpankannya untukku dulu. Seharusnya aku sudah mengambilnya dua hari yang lalu, tapi aku sibuk menemani Tamara. Habisnya, dia sudah akan kembali ke Sydney besok,” kata Mariana. “Sebentar, ya, aku ambil novelnya dulu.”
Mariana kembali lima menit kemudian dengan novel Hariman di tangannya. Abel melirik novel itu dengan tatapan lapar. Ia ingin sekali bisa menyentuh dan membacanya.
cerita selanjutnya >>
Penulis: Vivi


