Rangkaian Road Show Wajah Femina 2013 kembali digelar hari ini (17/05) dengan kunjungan pertama ke kampus Universitas Prof. DR. Moestopo (B). Sejak pukul 10 pagi, para mahasiswi Moestopo sudah memenuhi Lab Humas FIKOM UPDM (B) untuk mendaftar pemilihan Wajah Femina yang telah memasuki tahun ke-27.
Seperti pelaksanaan di tahun sebelumnya, para pendaftar melakukan registrasi, lalu diukur berat dan tinggi badan kemudian mengikuti tes foto dari berbagai angle oleh tim mode Femina. Setelah selesai, mereka pun duduk manis untuk mendengarkan talkshow mengenai pentingnya self branding dalam dunia profesional maupun mereka yang menjejakkan kaki di dunia hiburan bersama pembicara dari Talk Inc., Lala Tangkudung.
Menuru Lala, Personal brand image adalah cara seseorang untuk menginformasikan dirinya kepada orang lain, secara apa adanya namun lebih ‘terkontrol’ agar sukses dalam menjalani wawancara kerja maupun saat mengikuti proses seleksi Wajah Femina. Inilah landasan bagaimana 'menjual diri' di dunia kerja dengan citra diri yang baik tanpa adanya unsur dibuat-buat.
“Dalam berbagai macam momen penting ini, kendalikan rasa takut dan atasi rasa gugup dengan senyuman. Be natural, be yourself, tingkatkan kemampuan positif, dan berperilaku positif. Setiap orang boleh mencitrakan dirinya dengan image yang baik namun tidak boleh palsu atau berpura-pura,” ujar Lala.
Lala menambahkan bahwa di era kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, impresi seseorang dinilai dari sosial media, hingga muncul ungkapan, “You are what you tweet”.
“Bila terpilih menjadi salah satu finalis Wajah Femina haruslah berpikir dengan rasional sebelum Anda men-tweet, atau memunggah foto yang kurang berkenan, karena Anda membawa nama Femina. Bila Anda bertutur kata dan berperilaku baik, tentunya Anda akan dikenal publik dengan impresi yang baik pula,” ungkap Lala memberikan salah satu contoh personal branding.
Hadir pula, Community Development Manager Femina, Dewi Assa'ad, serta dua alumni Wajah Femina, Aisya Adiputri (Pemenang III Wajah Femina 2012) dan January Christy Santoso, (Alumni Wajah Femina 2009) berbagi pengalaman seru dan banyaknya keuntungan yang diperoleh dari pemilihan Wajah Femina terhadap karier profesional mereka.
Wajah Femina bukan sekadar pemilihan model, namun suatu ajang pengembangan potensi, bakat, minat para finalis pilihan yang siap jadi bintang baru dengan pendampingan mentor andal di berbagai bidang.
“Tak hanya cantik secara fisik tetapi juga harus memiliki attitude yang baik dan prestasi, bahkan tinggi badan pun bukan sesuatu hal yang signifikan. Kami lebih mengutamakan potensi diri yang bisa digali dari masing-masing kandidat, jadi tidak perlu minder,” pesan Dewi Assa'ad.
Bagi, Aisya Wajah Femina adalah wadah baginya untuk menguji kemampuan diri dan menggali potensi diri.
“Wajah Femina itu sangatlah selektif dalam memilih finalisnya dari puluhan ribu pendaftar, setelah itu ada proses karantina yang memberikan ilmu di bidang modeling, grooming, akting, presenting. Jadi kualitasnya benar-benar tidak diragukan lagi,” ujar Aisya.
Ajang ini menjadi pembuktian dirinya dalam mematahkan anggapan bahwa karier seorang model akan terhenti bila telah menikah dan mempunyai anak. Pasalnya, Aisya mengikuti pemilihan Wajah Femina beberapa bulan setelah melahirkan anak pertamanya.
“ Sudah menikah bukan halangan untuk meraih mimpi. Jalan karier akan lebih terbuka melalui Wajah Femina, selain itu bakat dan minat pun akan lebih terasah berkat bantuan para pengajar profesional di bidangnya masing-masing, “ ujar Aisya yang tak hanya kebanjiran tawaran pemotretan namun juga iklan dan fashion show setelah terpilih sebagai salah satu pemenang.
Hal senada disampaikan juga oleh January, sejak terpilih sebagai finalis Wajah Femina tahun 2009, ia berhasil mendapatkan pekerjaan idaman.
“Citra Wajah Femina itu sangat baik, sudah sekitar dua tahun saya menjalani profesi sebagai presenter di sebuah tv swasta. Pekerjaan ini saya dapatkan karena menurut mereka alumni Wajah Femina itu sudah teruji kemampuannya,” kata January.
Woro Hartari Trianti


