Bagi penikmat film tanah air, Rizky Hanggono (33) bukanlah sosok asing. Wajahnya yang tampan dan polos membuat para pencinta film Indonesia (terutama para wanita) kerap jatuh hati. Tidak hanya wajah tampannya yang menawan hati, kemampuan aktingnya juga makin diperhitungkan. Ia mengaku, dunia akting berhasil membuatnya keluar dari kepompong ketidakpercayaan diri.
Tahun 2002, seorang mahasiswa mencari peruntungan bekerja di industri film negeri ini. Sebuah rumah produksi yang cukup ternama dibidiknya untuk memenuhi cita-cita sebagai seorang storyboard artist, orang yang memvisualisasikan penggalan-penggalan cerita film dalam bentuk sketsa.
“Waktu itu saya memang sangat ingin magang sebagai storyboard artist, tapi ternyata posisinya sudah ada yang mengisi. Ya sudah, akhirnya saya magang jadi kru artistik dan bertahan di posisi ini hingga tiga tahun,” ujar lulusan D-3 Jurusan Periklanan, Ilmu Komunikasi, Universitas Indonesia, ini.
Tahun 2004, kesempatan menggarap storyboard film akhirnya ia dapatkan. Film horor, Bangsal 13 (2004), dan film drama percintaan, Ungu Violet (2005), adalah awal Rizky menempati posisi storyboard artist. Lucunya, saat tengah mengerjakan storyboard Ungu Violet, kesempatan untuk casting sebagai pemeran film tersebut justru datang kepadanya.
Casting pertamanya tidak sukses. Setidaknya, begitulah hasil penilaian pribadinya. Namun, entah mengapa, ia berlanjut ke tahap casting berikutnya. “Makanya, saya kaget setengah mati ketika dapat telepon bahwa saya mendapat peran di Ungu Violet. Walaupun tidak percaya diri, saya memutuskan untuk ambil kesempatan itu,” ujar Rizky, yang langsung memenangkan karakter pemeran utama bernama Lando, seorang fotografer, yang berpasangan dengan aktris berbakat Dian Sastrowardoyo.
Pencapaiannya sebagai aktor ini tidak membuatnya terbuai dengan potensi popularitas yang sudah di depan mata. “Persaingan film di tahun 2004/2005 memang belum sedahsyat sekarang. Tapi, tantangan tersebut justru datang dari dalam diri saya sendiri. Saya orang yang sangat tidak percaya diri, introver, lebih suka sendiri. Kemudian maju ke depan layar, dalam hati bertanya, ‘Bisa apa saya?’” ujar Rizky, mengisahkan pergolakan batinnya saat itu.
Ketika ditanya bagaimana rasanya beradu akting dengan Dian Sastrowardoyo, yang telah lebih dulu terjun ke dunia peran, Rizky spontan mengerutkan keningnya. “Dian memiliki kemampuan dan totalitas yang luar biasa. Dia juga orang yang cukup terus terang, dan terkadang menyentil emosi saya. Misalnya, kalau akting saya jelek, ya, dibilang jelek,” ujar Rizky, yang mengaku tidak mudah menerima kritikan dari orang lain.
Dengan gaya bicara yang lepas disertai rentetan kata yang bergulir cepat, Rizky mengatakan bahwa terjun ke film telah membantunya belajar membangun koneksi, menerima masukan, dan menerima realitas bahwa masih banyak dari pribadinya yang perlu diperbaiki. “Bagi saya, ini sebuah proses, dan sampai sekarang proses itu terus berjalan,” lanjutnya, serius.
Setelah pemutaran perdananya, ia sukses menjajaki dunia peran lebih dalam lewat sinetron, film televisi (FTV), dan berbagai film layar lebar, di antaranya Dealova (2005), Jomblo (2006), Aku atau Dia (2010), Bidadari-Bidadari Surga (2012), Tiga Sekawan (2013), dan film Air Mata Terakhir Bunda (2013), yang baru-baru ini meraih penghargaan Best Feature Film di Festival Film International Balinale. (f)


