Renata Kusmanto membiasakan membatasi diri tidak mengambil pekerjaan sampai seminggu penuh. “Saya menyisakan weekend untuk me time dan waktu luang bersama orang-orang terdekat,” ujarnya. Untuk libur panjang, dalam setahun setidaknya ia berlibur dua kali, saat liburan sekolah dan akhir tahun. “Tapi yang paling penting dan istimewa adalah liburan akhir tahun, apalagi saya memang tidak mengambil pekerjaan di akhir tahun, karena di saat inilah saya me-recharge diri,” katanya.
Bicara liburan, lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan ini mengaku, ia lebih sering liburan ke luar negeri. “Karena biasanya saya mendapat kesempatan liburan di dalam negeri saat diajak desainer fashion show di daerah-daerah, seperti Yogyakarta, Solo, atau Bali,” jelas Renata.
Karena cukup sering berlibur, ia beruntung bisa melihat banyak tempat yang indah. “Afrika Selatan adalah favorit saya. Selain ikut wisata safari, saya juga mengunjungi Sun City yang memang worth visiting. Di sana ada The Palace of The Lost City, yang terinspirasi dari peradaban Afrika yang hilang. Megah dan modern. Sun City juga menawarkan wisata wild life yang eksotis. Rasanya waktu dua minggu pun tidak cukup kalau ke Afrika Selatan,” kenang Renata.
Namun, bagi Renata, tempat paling indah yang pernah didatanginya adalah Victoria Falls di Republik Zambia, Afrika. “Itu pemandangan air terjun terindah yang pernah saya lihat. Saking terpesonanya, saya baru sadar kalau saya ternyata enggak punya foto diri yang bagus di Victoria Falls,” ujar Renata, menyesal.
Saat liburan, apakah penampilannya tetap harus cantik dan gaya layaknya seorang model? “Sesekali saja tampil stylish, sisanya, ya, seperti orang liburan pada umumnya,” ujarnya, tertawa. Baginya, yang pasti ia harus selalu membawa jaket, jeans, dan flat shoes saat liburan. “Namun, yang paling penting, supaya liburan menyenangkan, kita harus melakukannya bersama orang-orang terdekat, mulai dari pacar sampai sahabat karib,” tegasnya.
Memang, bagi Renata berlibur bersama kedua sahabatnya tak pernah tidak menyenangkan. “Karena kami sudah dekat dan saling mengerti. Tapi, mengatur waktunya yang agak sulit. Mereka kan pekerja kantoran, jadi mereka mesti cuti yang harus diminta beberapa waktu sebelumnya,” cerita Renata. Sementara waktu Renata lebih fleksibel, dengan tidak mengambil pekerjaan di waktu libur yang sudah ditentukan.
Meski ribet mengatur waktu, Renata dan kedua sahabatnya selalu berusaha tetap bisa liburan bersama. “Terus terang, saya punya pengalaman menyebalkan pergi dengan rombongan tur dan harus tidur dengan orang yang tidak begitu saya kenal. Enggak kepingin lagi, deh,” ceritanya.
Sayangnya, liburan yang ditunggu ini kadang-kadang terganggu oleh hal-hal kecil. Karena kulitnya sensitif, ia harus pilih-pilih kalau bawa produk kecantikan. Bisa jadi yang cocok dipakai di Indonesia tidak cocok dipakai di benua lain dan beda musim. “Saya juga tidak tahan dingin, dan kaki mudah sekali lecet. Padahal, kalau traveling kan kita pasti akan banyak jalan,” ungkap Renata, sambil tertawa.
Walau direpotkan dengan masalah tadi, Renata tetap menanti datangnya liburan. Baginya, liburan itu refreshing karena bisa lepas dari rutinitas sehari-hari. Berlibur menjadi penyemangat dan motivasi saat ia capek bekerja. “Asyik kan kalau membayangkan tempat-tempat yang akan kita kunjungi nanti. Apalagi jika itu daerah yang belum pernah saya datangi, misalnya Provence di Prancis untuk melihat lavender fields dan Alaska untuk melihat aurora,” kata Renata, yang bercita-cita tetap bisa rutin liburan tiap tahun sampai tua nanti.(f)


