<< cerita sebelumnya“Kamu masih kelas dua SMA, Na. Banyak anak laki-laki di luar sana. Apa, sih, istimewanya anak band yang kuliahnya bahkan tidak selesai?”
Setiap kali mendengar cerita tentang Dena dan pacarnya, Alex tertawa hingga bahunya terguncang.
“Memangnya, kamu pikir aku siapa, Yang?”
“Jangan samakan aku dengan Dena!”
“Kamu yang mirip Dena, tidak tahan rayuan puitis pria romantis!”
Andari tercenung. Sanggahan Alex tak berani dibantahnya. Tentu saja itu benar. Biar bagaimanapun, dia dan Dena tak sama. Andari tahu, kapan saat naik roller coaster dan menata hidupnya lagi. Dia tahu, kapan bekerja keras dan menghibur diri. Sedangkan dunia Dena adalah taman bermain tanpa batas. Dunia di luarnya tak tampak sama sekali.
Mas Bekti, aku cuma bermain roller coaster sesekali, lalu menepi. Apakah kamu juga sedang bermain roller coaster saat ini? Menepilah kemari. Aku memang bukan tempat singgah yang kau inginkan. Namun, di sini Dena menanti....
Andari memulas bedak di wajahnya. Hari ini bibirnya sewarna mawar merona. Disisirnya rambutnya, saat mobil memasuki pelataran gedung bertingkat dua puluh dua. Satpam membukakan pintu mobil, menghormat, dan mengucapkan selamat siang.
Semua berjalan seperti biasa, layaknya dia yang ingin lupa bahwa Bekti sedang tak ada di sana, di lantai tiga. Bukankah ini tak akan lama? Bekti akan kembali dan menyapanya. Seperti biasa, saat dia baru kembali dari luar kota. Bekti akan menepati janjinya. Tak mungkin dia meninggalkan Dena begitu saja.
Bekti
Mungkin, aku yang terlalu bodoh. Mungkin, aku memang tak romantis. Tak seharusnya aku bengong di sini sendiri, ditemani seonggok tubuh tersangkut eceng gondok di kali, yang makin menggelembung saja setiap hari.
Aku bahkan tak tahu hari apa ini. Orang-orang datang, mengamati tubuh itu diam-diam, lalu pergi, sambil berbisik-bisik. Aneh, tak ada yang kukenal. Tempat ini seperti pinggir jalan sepi, tapi tak berpolusi. Orang-orang hanya lalu-lalang, tanpa saling memerhatikan. Sunyi, tanpa ingar-bingar kendaraan. Seperti mimpi, tapi terlalu nyata. Seperti realitas jalan raya, hanya tanpa debu, kotoran, dan keributan sia-sia.
Tunggu dulu. Kenapa aku jadi seperti mengidap amnesia tiba-tiba? Aku ada di mana, dan apakah aku nyata? Aku dan tubuh telanjang dada itu seperti terpisah selaput membran tembus pandang. Siapa yang lebih nyata? Aku atau jasad membusuk yang menghitam oleh luka itu?
Sebenarnya, aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Malam itu, kuminta Rudi mengantarku ke perempatan jalan besar.
“Ke mana, Pak?” Rudi memandangku heran.
“Entahlah, Rud. Aneh, sudah beberapa hari aku tidak bisa tidur. Setelah tengah malam pasti terbangun.”
Sejujurnya, aku kerap terbangun oleh mimpiku yang aneh. Aku berjalan di antara orang-orang, seperti terseret arus yang mengerikan. Jalanan riuh, tapi seperti mati, tanpa suara apa-apa, mirip seperti tempat ini. Aneh. Siapa sangka aku akan terperangkap mimpiku sendiri saat ini, tak bisa kembali?
“Bapak mau ke mana sekarang?”
Malam itu, mobil-mobil sudah mulai menepi. Hanya satu-dua mobil berisi anak muda, melintas cepat, sambil menumpahi jalan dengan lagu yang memekakkan telinga. Aku melihat sekeliling. Satu supermarket masih buka. Beberapa taksi mangkal di depannya.
“Turunkan aku di depan supermarket itu saja.”
Aku tak mau jatuh tertidur lagi. Aku tak mau dihampiri mimpi aneh itu lagi. Aku tidak mau terperangkap mimpi dan tak bisa kembali.
“Nanti Bapak bagaimana pulangnya?”
“Aku akan pulang sebelum pagi, naik taksi. Suruh Samin siap-siap di gerbang sekitar jam empat pagi. Tapi, kamu janji....”
Rudi menatapku. Matanya memerah, entah karena kantuk, atau ketakutan dan kebingungan.
“Janji... apa pun yang terjadi, jangan bilang pada Bu Andari.”
“Baik, Pak. Nanti saya bilang pada Samin juga.”
“Bagus...!” Kutepuk pundaknya.
Rudi sudah terbiasa menuruti perintahku tanpa bertanya. Ah, Rudi yang setia. Biar bagaimanapun, aku tak bisa memercayainya. Bukan hanya sekali atau dua kali Andari menginterogasi Rudi. Karena itu, aku memilih pergi naik taksi, agar dia tak tertekan dan bimbang hati. Hanya aku yang bisa memegang rahasiaku sendiri.
Pintu mobil kututup, tapi cepat kubuka lagi. Entah kenapa, lalu aku ingin masuk mobil lagi.
“Rud...!”
Aku melompat ke dalam. “Terus jalan!”
Rudi menyetir mobil dengan bimbang. Aku tahu, benaknya menyimpan banyak pertanyaan. Sesungguhnya, aku gelisah. Malam itu aku tak punya tujuan. Tiba-tiba aku teringat Lidya, Lisa, Myrna, mereka yang berasal dari lembaran lama. Myrna pernah menggugurkan benihku yang dikandungnya. Kukatakan kepadanya, aku tak bermaksud merusak masa depannya. Kusekolahkan dia di Amerika. Menurut kabar yang kuterima, dia sudah lulus dan akan menikah dengan seorang pemuda di sana.
Lalu, Lidya. Dia mengundurkan diri dari kantorku beberapa bulan lalu. Aku sungguh menyayanginya, tapi aku tak bisa memberikan kepastian apa-apa selain cinta. Aku tak bisa menikahi wanita lain. Aku tak bisa membelah rumah-tanggaku jadi dua. Andari tak mengizinkan aku mengubah segala sesuatu yang sudah tertata.
Lisa kecewa, lalu memilih pindah ke luar kota. Katakan padaku, apakah aku rusak, pria hidung belang yang hanya ingin bersenang-senang dengan wanita mana pun? Lidya, Lisa, Myrna adalah wanita berpendidikan yang mencintaiku dengan sepenuh rasa. Mereka tak peduli jumlah perusahaan, reputasi, popularitas, dan kemapanan. Aku tak pernah menjanjikan materi, janji-janji, atau puisi gombal. Apakah aku suami kesepian?
Andari bilang, aku terlalu mudah menebar cinta. Aku ingin bilang bahwa aku hanya membagi kasih sayang. Tak semua wanita seberuntung dia. Mapan, pintar, sukses, dan berlimpah kasih sayang. Tentu saja dia tak percaya. Baginya, aku sudah mengkhianatinya. Tak dibiarkannya aku menyentuhnya. Katanya, “Aku tidak mau tertular. Siapa tahu wanita yang kamu tiduri itu menderita suatu penyakit.”
Andari... Andari.... Sesungguhnya, aku tak yakin bahwa dia adalah wanita paling suci. Tetapi, aku tak pernah punya bukti.
Mobil terus melaju mengukur jalan sepi. Aku masih tak tahu ke mana harus pergi. Lalu, aku teringat Lisa. Sedang apa dia? Tempo hari aku melihatnya di televisi, menyanyi. Kariernya makin mapan. Dia akan menjadi penyanyi terkenal. Aku tak pernah lagi mengganggunya.
Wanita-wanita itu pasti sudah tumbuh dewasa. Mereka bukan lagi gadis ingusan tanpa tujuan, yang sebentar-sebentar bertanya, “Bagaimana menurut Pak Bekti?”
Sungguh, seandainya saja Andari tahu bahwa aku hanya mengayomi gadis-gadis itu, mengukuhkan mereka sesaat, lalu membukakan jalan. Mereka bukan boneka ego kejantananku. Aku tak pernah bermain-main dengan hidup. Aku tak pernah mempermainkan wanita. Aku hanya ingin memberi. Mengasihi sesekali, untuk meneguhkan diriku sendiri. Andari terlalu mumpuni untuk kuberi. Dia bahkan tak membutuhkan apa-apa lagi dari diriku.
“Pak...? Sudah setengah dua malam,” tegur Rudi.
Aku mengembuskan napas.
“Terserah kamulah, Rud. Pergilah ke mana saja, asal jangan pulang.”
Rudi memperlambat laju mobil, dan tiba-tiba matanya yang memerah itu menggangguku. Kasihan Rudi.
“Turunkan aku di depan hotel itu, Rud.”
Rudi tak bicara apa-apa saat dia menepikan mobil.
“Tidak. Aku tidak akan menginap,” kutatap matanya. Bisa kubaca keheranan di sana. “Aku akan pulang sebelum pagi. Ingat, jangan bilang-bilang Bu Andari.”
Kubanting pintu mobil. Aku melangkah masuk, tak berbalik lagi.
Penulis: Sofie Dewayani
Pemenang Kedua Sayembara Mengarang Cerber femina 2006


