<< cerita sebelumnyaTapi, wanita itu tampak begitu meyakinkan saat bercerita tentang ibu dari Vivi Natali. Tumpak bimbang. Jika semua yang dikatakan wanita itu memang benar, apakah aku harus menuliskannya juga? Lalu, bagaimana dengan karier Vivi yang saat ini sedang berada di puncak? Pasti popularitasnya akan hancur. Vivi yang dulu disanjung-sanjung akan dicibir oleh publik. Tak ada seorang pun yang mau memintanya sebagai bintang iklan atau tampil sebagai presenter televisi. Vivi akan terempas dari kehidup-an glamor karena kehidupan kelam orang tuanya terungkap oleh media massa.
Namun, jika tidak berani mengungkapkan kebenaran itu, itu artinya ia juga membohongi publik. Tapi, ah, itu kan baru katanya saja. Siapa tahu, apa yang dikatakan wanita itu hanya isapan jempol belaka. Meski masih meragukan keterangan wanita itu, Tumpak akhirnya berangkat ke Medan, dengan persetujuan atasannya. Ia disambut dengan ramah oleh Mira.
Tanpa ada rasa malu, Mira menceritakan runtutan peristiwa, dimulai dari awal mula ketertarikannya pada Bram, keberhasilannya merebut Bram dari tangan Henny, dan rencana gilanya membayar Aron untuk membunuh Henny.
“Jadi, Anda juga ikut dihukum?” tanya Tumpak.
“Ya, begitulah. Padahal, saya sudah membayar pengacara terkenal di kota ini. Tapi, tetap saja saya tidak bisa bebas dari jeratan hukum. Jika yang meninggal adalah Henny, pasti lain ceritanya. Saya tidak mungkin mendekam di balik jeruji penjara,” ujar Mira, tanpa merasa bersalah.
“Terima kasih atas keterangan Anda, Bu Mira!”
“Wawancara ini pasti akan dimuat di majalah, ’kan?” tanya Mira. Ia berharap semua masyarakat mengetahui sisi kelam kehidupan Vivi Natali. Mira sangat ingin melihat kehancuran Henny dan anaknya.
“Saya belum tahu, Bu. Semua akan saya diskusikan dulu dengan tim redaksi, apakah tulisan ini layak muat atau tidak.”
“Saya yakin, jika tulisan ini dimuat, oplah majalah Anda akan meningkat. Tentunya, perusahaan tempat Anda bekerja akan untung.”
Tumpak berusaha tersenyum. Walaupun, ia tak habis pikir, mengapa wanita itu tidak memiliki rasa malu saat mengungkapkan sisi kelam kehidupannya. Apalagi, ia merupakan otak pembunuhan tersebut. Rupanya, dendam mengalahkan segalanya. Meski nantinya pembaca akan mencibir dan memandangnya rendah, Mira tak peduli.
Benar yang dikatakan Mira. Ketika Wanita mengungkapkan sisi kelam Vivi Natali, oplahnya meningkat tajam. Pembaca dibuat terenyak dengan pemberitaan tersebut. Vivi, yang selama ini jauh dari pemberitaan miring dan kerap mendapat pujian, tiba-tiba muncul dengan berita menghebohkan.
Bisa dibayangkan, betapa geramnya Vivi ketika membaca artikel itu. Ia tidak bisa menerima berita yang menyudutkan dirinya dan orang yang dicintainya. Ia tidak percaya bahwa ibunya berani melakukan hal itu. Seperti Tumpak, ia sempat memikirkan suatu hal. Jangan-jangan, wanita itu mencari sensasi agar bisa ikut terkenal.
Berbeda dari reaksi Vivi, Henny justru hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka, rahasia yang selama ini ditutupnya rapat-rapat, akhirnya dibongkar juga oleh musuh yang tidak pernah ia maafkan. Henny menyesali diri. Mengapa Vivi harus mendengarkannya dari orang lain, bukan dari dirinya langsung. Mungkin, seandainya ia berterus terang sejak awal, kejadiannya tidak seperti ini. Tapi, apa mau dikata, semua itu sudah terjadi di luar dugaannya.
Seandainya Vivi bukan selebritis, tanggapan orang mungkin tak sedahsyat itu. Tapi, putrinya adalah seorang artis papan atas, yang sangat terkenal. Media telah membawa cerita kelam itu ke permukaan, dan Henny tidak bisa membela diri.
Sejak berita itu menjadi pembicaraan masyarakat, Vivi seperti ditelan bumi. Sulit sekali menghubunginya. Ponselnya selalu tidak aktif. Ia benar-benar mengunci dirinya untuk tidak memberikan komentar apa pun.
“Mbak, lebih baik Mbak mengadakan konferensi pers,” usul Betty.
“Untuk apa?”
“Untuk menjelaskan permasalahannya pada publik sehingga Mbak tidak dikejar-kejar. Kan nggak nyaman, Mbak, melihat wartawan setiap hari menunggu di depan rumah. Kasihan kan mereka, Mbak.”
“Kasihan? Siapa suruh mereka menunggu? Dengar, ya, Bet, aku tidak mau memberikan komentar apa pun sebelum masalah ini jelas. Lagi pula, kamu lihat kan, semua media menyudutkan aku dan Mama. Mereka tidak mau memahami perasaanku,” kata Vivi, sengit.
“Tapi, sampai kapan Mbak menutup diri?”
“Aku tidak tahu sampai kapan. Yang jelas, saat ini aku belum siap berhadapan dengan wartawan. Aku tidak tahu harus berbicara apa. Aku shocked Bet, shocked!”
Kalau sudah begitu, Betty tidak bisa memaksa. Hanya, ia tidak tega melihat kerumunan wartawan yang sejak pagi hingga malam ’patroli’ di depan rumah. Sebenarnya, Vivi tidak nyaman dengan situasi ini. Berhari-hari ia mengurung diri, menghindari kejaran wartawan. Sampai setelah seminggu, Vivi tak betah berdiam diri terus di rumah. Ketika ia akhirnya memberanikan diri keluar rumah, para wartawan masih setia menunggunya.
“Vi, bagaimana komentar Anda tentang pemberitaan di media massa belakangan ini?” tanya seorang wartawan, ketika Vivi berjalan menuju garasi.
Vivi hanya menyunggingkan senyum dan berkata, “No comment. Maaf, saya tidak mau diganggu. Terima kasih!” Itu saja yang keluar dari bibir mungilnya. Selebihnya, ia menancap gas mobilnya, menghilang entah ke mana.
Para wartawan tidak kehabisan akal. Mereka mencari keberadaan Vivi, sampai ke hotel yang sering dikunjungi Vivi di daerah Puncak. Semua karyawan hotel menggelengkan kepala.
“Ibu Vivi sudah lama tidak ke sini!” ungkap salah seorang pegawai hotel. Entah benar atau tidak, yang pasti, keberadaan Vivi sulit dilacak. Demikian juga dengan Henny, ibunya. Sejak berita miring yang melibatkan dirinya diungkap di media massa, ia ikut menghilang. Lalu, ke mana Henny?
“Ma, katakan dengan jujur, cerita itu tidak benar. ’kan?” tanya Vivi, sambil berharap bahwa cerita itu hanya khayalan wanita yang bernama Mira, untuk mencari sensasi. Mereka bersembunyi di sebuah rumah peristirahatan.
Henny diam. Matanya menerawang. Peristiwa kelam itu kembali menghiasi memorinya. Ya, mungkin inilah takdir hidup. Dulu. ia hidup susah dan telantar. Tapi, berkat putrinya, ia bisa menikmati hidup yang lebih layak. Sekarang, saat ia menikmati kebahagiaan itu, sosok Mira yang bengis dan kejam hadir kembali. Seperti sebuah bom, Mira kembali memorak-porandakan kebahagiaan Henny.
Dulu, ketika ia masih hidup bersama Bram, Mira merampas kebahagiaannya. Kini, kebahagiaannya dengan Vivi kembali direnggut. Ya, ia dulu memang pernah membunuh. Tapi, hal itu dilakukannya untuk membela diri.


