Dengan khusyuk Rafiq bin Rifai melakukan salam. Setiap kali ia sembahyang, ia mencoba melakukannya dengan afdal. Ia bukan seseorang yang sekadar membaca dan hanyut dalam irama bacaan. Ya, ia dapat hanyut, tapi hati dan pikirannya selalu ada dalam keseimbangan. Baginya, agama bukan sederet aturan, hierarki hukum, atau cerita keajaiban, yang merupakan bukti keberadaan dan ke-besaran Tuhan, serta kebenaran nabi-nabi-Nya. Bagi Rafiq, agama adalah jalan cinta, tetapi cinta yang berimbang dengan rasio. Dalam hal ini ia berbeda dari kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Bagi mereka, agama nyaris sama dengan ibadah. Mereka sebetulnya tidak tahu banyak tentang sejarah agama mereka, perubahan penafsiran, pengertian, dan pandangan dalam ruang dan waktu. Mereka berpegang pada ajaran ulama yang mereka kenal dan kagumi. Bagi mereka, ruang dan waktu adalah hal yang sangat solid, sangat nyata, sangat jelas, dan tidak perlu dipertanyakan.
Rafiq, putra bungsu keluarga Rifai, adalah anak yang dibanggakan, sekaligus dikhawatirkan orang tua. Berkat didikan dan teladan kedua orang tuanya, pengusaha yang berhasil dan terhormat dalam lingkungan mereka, agama adalah segalanya bagi Rafiq. Ia hanya ingin menjadi orang yang saleh. Sewaktu SMA, Rafiq ingin jadi seniman. Tapi, orang tuanya tidak setuju.
“Pemusik? penyair? Tidak bisa! Anak kita tidak boleh jadi orang urakan, gondrong, pemain band yang tampil dan bergaul dengan penyanyi-penyanyi yang mempertontonkan auratnya di depan umum, dan bangga kalau skandal perselingkuhan mereka dibeberkan media. Rafiq tidak boleh menggoyang pinggul di pub dan diskotek, menenggak ekstasi, kemudian melakukan seks pranikah, lalu terkena penyakit AIDS, kemudian mati dan masuk neraka.”
Rafiq harus jadi pengusaha seperti bapaknya, atau pamong seperti kakeknya almarhum, atau insinyur seperti Taufiq, abangnya, atau dokter, seperti Fatimah, kakak perempuannya. Tentu, lebih sempurna lagi kalau jadi ulama, seperti paman tertuanya, kakak ayahnya. KH Ali Rahmat bukan hanya ulama, tetapi juga terkenal sebagai dai yang kondang.
Rafiq lalu memilih bidang matematika, disiplin ilmu yang banyak dikuasai oleh mereka yang berbakat musik (yang pada dasarnya adalah matematika yang dibunyikan). Kalau kehendaknya untuk jadi seniman tidak dihargai, paling tidak pilihan kedua harus diambil oleh dirinya. Dan, jadilah ia mahasiswa yang brilian dalam maematika, yang sering memublikasikan tulisan di majalah ilmiah fakultasnya. Kekhususannya adalah merumuskan kembali berbagai rumusan baku dengan lebih anggun. Baginya, matematika adalah kesenian, yang memperlihatkan bahwa alam raya pun adalah karya seni.
Dalam matematika, Rafiq melihat kemurnian zat, kejelasan jagat raya, dan keanggunan ciptaan. Baginya, alam adalah angka, tetapi bukan sekadar angka, jumlah, besaran. Jauh daripada itu. Lama-kelamaan, Rafiq menjadi filsuf, yang mampu berpikir sangat abstrak, melampaui wujud yang ditangkap panca indranya, termasuk indra yang mengirim dan menerima isyarat bahasa. Ia mengerti, ayat bukan cakupan bahasa yang dibatasi konsep budaya.
Rafiq bersahabat dengan Wahyudi, yang sama sekali tidak disukai orang tuanya. Jika Rafiq melihat Tuhan melalui ciptaan-Nya, Wahyudi adalah seorang materialis sejati. Bukan berarti ia percaya bahwa materi hanyalah materi. Ia menganggap, alam mempunyai kepintaran, yang mengikut suatu rancangan pintar, sehingga menghasilkan manusia, yang otaknya adalah struktur paling rumit dalam jagat raya. Dan, melalui mata dan pikiran, manusia memandang alam dan mencoba memahami dirinya.
Wahyudi gemar berjudi. Ia berjudi dengan tangan dan otak yang dingin, menggunakan perhitungan kemungkinan dan penguasaan diri yang ketat, dan hasilnya sangat memuaskan. Ia gemar berjudi di tempat-tempat yang berbahaya, karena di sana ia melihat kreativitas ciptaan berkembang. Wahyudi juga suka minum. Makin pusing, ia makin menikmati hidupnya karena unsur ketidakpastian selalu menyediakan kejutan-kejutan yang menyenangkan. Kalau malamnya ia minum dan berjudi, lalu keesokan harinya menemukan dirinya di pinggir jalan dengan kantong kosong, tanpa dompet, arloji, atau sepatu, tak masalah. Ia tidak merasa bersalah atau berdosa.
“Di, ingat Tuhan, dong!”
“Maksudmu, Pencipta langit dan bumi?”
“Ya, yang mana lagi?”
“Fiq, kita adalah pencipta kita sendiri. Manusia adalah hasil jumlah semua yang dilakukan, dirasakan, dipikirkan! Dan, proses penciptaan diri ini hanya dapat kita lakukan dengan hidup, mereguk kehidupan sepuas-puasnya, memasuki setiap jalan dan gang buntu.”
“Lalu, melanggar setiap peraturan dan larangan, mengalami setiap kecelakaan dan kesialan, begitu?”
“Dalam hidup, semua akan dialami, keberuntungan dan kesialan.”
“Tapi, kesialan tidak perlu dicari, ‘kan?”
“Dia akan mencari dan menemukan kita. Fiq, orang tuamu kaya dan tanpa cacat. Kamu baik, tampan, dan saleh. Kamu hidup di zaman yang baik. Tapi, tidak ada jaminan bahwa zaman tak akan berubah, revolusi tidak akan pecah, Pulau Jawa tidak akan tenggelam di bawah laut, suatu mutasi virus flu tidak akan membunuh setengah penduduk bumi. Kalau itu terjadi, kamu bingung. Lalu, sehari-hari kamu hanya akan bertanya, ‘Mengapa, Tuhan? Mengapa? Apa dosa kami?’ Sedangkan aku dan orang sejenisku akan cepat menyesuaikan diri, lalu membangun dunia baru, mitos baru.”
“Agama baru, nabi baru, Wahyudi Sudrajat. Iya?”
Wahyudi terkekeh. “Aku tidak mau terjebak menjawabnya. Pokoknya, aku bisa menikmati hidup. Dan, kalaupun celaka, akan kunikmati kecelakaan itu. Sementara itu, siang-malam kamu menyiksa diri, mempertanyakan mengapa dunia kacau, lalu mati-matian berusaha melawan kekacauan itu dengan merapikan hidupmu. Kamu pikir, kalau kamu tidak sembahyang subuh, matahari tidak akan terbit?”
“Bisanya kamu menyindir saja, Di. Coba kamu sembahyang. Kamu pikir, aku tidak bahagia? Aku khawatir terus? Aku sekeluarga bahagia. Sembahyang itu nikmat, mensyukuri kemurahan Tuhan. Dan, aku yakin, kamu tidak akan bicara seperti ini, pada saat kamu mengalami siksa kubur yang paling menyakitkan!”
“Sekarang, kamu merasa lebih baik dari aku, dan mengancamku dengan siksa kubur, seolah kamu malaikat?”
“Aku hanya memperingatkan!”
“Aku akan disiksa karena hidup seenaknya dan kamu akan disiksa karena menyombongkan diri!”
Suatu malam, Wahyudi datang ke rumah Rafiq. Ia mabuk, tetapi tidak oleh alkohol. Ia mabuk politik. Ia baru pulang dari rapat dewan yang merencanakan demo besar-besaran untuk menghadang sidang umum. Bagi Wahyudi, kegiatan politik adalah bagaikan permainan catur melawan seorang grand master, yang menerapkan ilmu drunken master dalam menjalankan bidak-bidaknya. Sewaktu ia menyeberangi ruang tamu di rumah keluarga Rifai menuju kamar Rafiq, orang tua Rafiq memandangnya tidak senang.
“Seharusnya kita berbicara dengan Rafiq,” kata ayahnya. “Wahyudi tidak baik pengaruhnya bagi anak kita. Mengapa Rafiq tidak bisa mencari pergaulan yang lebih baik? Mereka berdua saja bagaikan kekasih. Untung saya tahu, Wahyudi itu punya banyak kekasih. Kalau tidak, saya bisa curiga. Tapi, bisa saja ia termasuk biseksual. Mengapa Rafiq belum menunjukkan bahwa ia pria sejati? Bagaimana, Bu? Saya mulai khawatir.”
“Ah, jangan terlalu khawatir, Pak!”
Ibu Rifai adalah wanita pengusaha yang lembut. Ia menjalankan usaha katering di rumah sendiri, melayani pesta dan pertemuan elite. Bagian belakang rumah mereka selalu ramai. Dari garasi samping, mobil keluar-masuk membawa bahan dan pesanan. Ia merasa agak kesepian setelah dua anak tertuanya menikah dan keluar dari rumah. Sekarang ia memandang suaminya dengan mata besar. Wajahnya yang dibingkai kerudung masih tampak cantik.
“Bagi Rafiq, studi dan agama adalah segalanya. Itu yang kita inginkan, bukan? Tapi, ia jadi banyak menyendiri, kurang bergaul. Sepertinya, itu harga yang harus kita bayar. Dan, pada saatnya ia akan membuka diri. Tentang Wahyudi, saya tidak tahu. Mungkin, Rafiq mempunyai pengaruh baik pada Wahyudi. Kalau begitu, itu harus kita syukuri. Anak kita akan dapat pahala.”
“Mungkin, benar. Dua bulan lagi puasa. Bagaimana kalau kita mengundang Pak Kiai sekeluarga untuk berbuka. Bapak tahu kan maksud saya?”
“Bapaknya Aisya.”
“Benar. Saya rasa, Pak Kiai akan mengerti. Tapi, itu Rafiq dan Wahyudi keluar bersama. Mau ke mana mereka?”
Kedua anak muda berjalan santai ke tempat orang tua Rafiq duduk di bangku panjang, sambil menonton televisi.
“Bapak, Ibu, saya minta izin untuk ikut Wahyudi ikut rapat dewan. Wahyudi bilang, kita semua harus bertanggung jawab atas wujud dan masa depan bangsa kita. Jangan hanya menikmati hasil perjuangan orang lain!”
Pak Rifai termenung. Ia tidak suka dikuliahi anaknya tentang tanggung jawab warga negara. Ia tidak suka Rafiq terlibat politik. Tapi, ia tidak tahu bagaimana melarang Rafiq, karena ia tidak biasa melarangnya. Bukan karena ia memanjakan, tapi karena Rafiq tidak pernah melakukan apa-apa yang harus dilarang. Dengan wajah minta bantuan, ia memandang istrinya.
Bu Rifai mengambil keputusan. “Silakan, tapi jangan naik motor. Pakai saja mobil Ibu. Jangan pulang terlalu malam.”
Rafiq mencium tangan kedua orang tuanya. Wahyudi merasa setengah iri melihat hubungan baik antara Rafiq dan orang tuanya. Ia sendiri jauh dari orang tuanya, dan lebih dekat dengan pamannya, yang memperlakukannya sebagai teman.
cerita selanjutnya >>
Penulis: Iwan Cipto


