Perkenalan dan ketertarikan saya pada dunia bisnis tentu saja karena saya melihat dan banyak belajar ilmu dari bapak saya, Chairul Tanjung. Meski demikian, tidak serta-merta bisnis-bisnis yang saya geluti berkat bantuan Bapak atau karena nama belakang saya.
Debut usaha saya adalah membuat acara birthday party seorang teman di usia 15 tahun. Modal awalnya memang saya dapatkan dari klien. Saya tinggal menjalankan. Tidak untung, tapi saya senang dan jadi percaya diri karena acara itu berjalan sukses. Selanjutnya saya memang bergerak di bidang penyelenggaraan acara semacam EO, yang kini dikenal dengan Creativepreneur Event Creator, namun modalnya bukan dari klien, melainkan dari sponsor yang tim kami cari sendiri.
Ada kerja keras dan perjuangan yang harus saya dan tim lewati ketika berusaha mencari klien dan sponsor. Saya bukannya tak pernah merasakan gagal. Beberapa kali proposal saya juga pernah ditolak sponsor, kehujanan di luar gedung karena tak diperbolehkan masuk ke kantor orang dan berteduh di pos satpam. Saya bahkan pernah dilecehkan, dibilang remaja ‘gila’ yang kebanyakan mimpi, ha… ha… ha.... Tapi, saya anggap semua itu justru jadi lecutan motivasi!
Untuk membuktikan kemampuan, saya harus kerja ekstra lebih keras daripada orang lain. Tak benar jika persepsi anak orang berada hidupnya tak perlu susah dan tinggal menikmati saja. Dengan apa yang saya kerjakan, saya ingin memotivasi anak muda lain bahwa untuk menjadi sukses, kita harus berani susah.
Satu hal yang sangat saya syukuri, orang tua begitu mendukung dan memberi kepercayaan penuh pada saya. Salah satu nilai yang Bapak tanamkan kepada saya adalah tidak peduli dia anaknya siapa, tapi dia harus punya kebanggaan terhadap dirinya sendiri, dia harus berjuang dengan kemampuannya sendiri. Itu saya pegang teguh sampai sekarang dan mengajarkan saya untuk tetap rendah hati.
Sejak kecil orang tua memang tak memanjakan saya. Sebaliknya, mendidik saya untuk menjadi orang yang gigih. Misalnya, saat kecil dulu, ketika ingin minta dibelikan mainan, saya tak bisa langsung mendapatkannya tanpa saya menjadi juara dulu atau bantu beres-beres di rumah.
Berkat doa dan bekal karakter yang diasah oleh orang tua sejak kecil, sukses pelan-pelan bisa saya raih. Alhamdulillah, sejak umur 15 tahun, saya sudah mandiri secara finansial. Saya ingin membanggakan orang tua dan tak ingin mengecewakan mereka. Orang tua selalu menjadi mentor dan supporter saya. Acara-acara talk show seperti Creativepreneur Corner 2014, Creativepreneur Berjuang, dan Creativepreneur Corner 2015 yang pernah saya dan tim tangani, berjalan sukses dan klien pun puas. Lambat laun, orang mulai percaya pada kemampuan saya. Bukan karena saya seorang anak Chairul Tanjung, tapi karena profesionalisme dan konsep acara yang tim kami buat.
Saya bahkan sudah banyak diundang untuk menjadi pembicara dalam seminar-seminar dan talk show motivasi untuk anak muda. Itu salah satu mimpi saya juga, bisa menginspirasi anak muda menjadi entrepreneur sejak muda. Karena berwiraswasta sangat bagus untuk melatih kemandirian kita.
Saya bangga menjadi anak ‘seseorang’ dan terlebih dengan keberhasilan yang bisa saya petik dengan susah payah ini tentunya. Meski konsekuensinya saya kekurangan waktu untuk diri saya karena disibukkan oleh jadwal meeting tiap hari. Sedih, sih, karena tak bisa main dengan teman-teman atau keluarga. Tapi, no pain no gain.
Saya juga harus mempersiapkan diri untuk meneruskan apa yang sudah Bapak perjuangkan selama ini. Ekspektasi orang pasti ingin melihat saya berhasil juga. Konsekuensi menyandang tanggung jawab inilah yang berat dijalani oleh anak ‘seseorang’. Saya berjuang agar enggak malu-maluin keluarga.
Kini saya sedang kuliah mengambil jurusan Multimedia Communication di Academy of Arts, San Francisco. Untuk sementara bisnis ditangani oleh partner saya, Fadrin Kudri, dan kami sesekali meeting secara virtual. Tak mungkin saya lepas begitu saja. Itu sudah jadi passion saya. Bahkan, di kampus saya baru saja selesai menggelar acara Indonesia Day yang melibatkan pelajar Indonesia di Amerika. Seru, bisa berkarya di mana saja!
Cita-cita saya ingin bisa membuat media empire sendiri suatu saat nanti. Saya juga ingin membuat program acara talk show di TV yang membedah liku-liku dunia wirausaha, seperti event ‘Creativepreneur Corner’ yang pernah saya buat. (f)


