Fiction
Pitaloka [8]

6 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Suara Indrajit rasanya terdengar jauh, seperti berada dalam dimensi lain. Ada perasaan melambung yang membuat Lika serasa tak berpijak di atas tanah. Seribu bayangan bercampur adegan peperangan melintas berkali-kali dalam benaknya. Mungkin Indrajit benar, aku terlalu merasa terlibat dengan tokoh yang kuperankan.

“Aku pulang, ya, sudah malam,” tukas Lika, setelah mereka terlibat percakapan ke sana kemari. Menyimak segala cerita tentang koleksi benda-benda kuno ayahnya. Dia begitu fasih menceritakannya seakan seorang arkeolog yang menemukan benda-benda bersejarah itu.

“Baru pukul delapan. Pulangnya pasti kuantar.”

Indrajit menatap lekat. Lika balas menatap, mencoba mencari tahu apa yang ada dalam benak pria itu. Indrajit bergerak mundur, menjauh. Lika menghela napas.

Pria itu berjalan ke arah piano.

“Kamu tidak boleh pulang sebelum mendengar lagu ini,” senyum itu tak lepas dari bibirnya.

Sebuah lagu mengalun. Lika memusatkan pendengarannya. Lagu itu sepertinya sudah kukenal. Indah dan riang.

“Naik-naik ke puncak gunung. Bravo, bagus sekali,” teriak Lika spontan, sambil bertepuk tangan. Indrajit mengakhiri lagunya. Ia segera berdiri menghormat layaknya seorang maestro yang mendapat standing applaus usai pertunjukan.

“Kok, bisa berubah begitu? Tapi, aku tetap bisa mengenali lagu yang kamu mainkan?”

“Namanya juga improvisasi.”

Indrajit duduk di samping Lika. Wanita muda itu menatap penuh kekaguman. Ada energi keterpanaan yang sukar diterjemahkan dengan kata. Indrajit melekatkan tatapnya. Lika balas menatap. Sampai suatu ketika bibir mereka saling bertaut. Lika balas memagut. Indrajit memperlakukannya dengan sangat lembut.

Kecupan Indrajit tak berhenti sampai di situ. Dikecupnya mata yang separuh terkatup. Dikecupnya rambut hitam yang wangi itu. Dikecupnya bagian belakang telinga Lika, sampai ia kegelian. Dikecupnya apa yang bisa ia kecup sepenuh perasaan yang sudah kian panas menjadi bara.

Lika berusaha mengelak, tapi tenaganya rasa terkuras habis. Ada segenap rasa yang menolak, ada pula separuh rasa ingin menyambut. Lika tersentak. Menyergah tubuh Indrajit yang menyergapnya. Keris itu!

Ia mencoba bergeser sedikit ke ujung sofa, agar keris kecil itu tergapai tangan. Berulang kali ia menggapai, sia-sia juga yang tercapai. Indrajit menciumi pangkal le¬ngannya, naik ke bahu yang terbuka. Bajunya sudah tak keruan, tapi Lika tak berhasil melepaskan diri. Sekuat tenaga ia menarik kemeja Indrajit sampai robek. Habislah tenaga terakhir yang ia miliki. Rasa lemas kian meraja, berganti seratus kepasrahan yang tak juga usai.

Malam yang belum terlalu malam menjadi sangat hitam, melebihi segala jenis kelam. Begitu nyeri tanpa terperi! Tetesan bening air mata yang jatuh bergulir tak putus-putusnya menambah rasa perih yang merajai sekujur tubuhnya. Aku seperti seekor cacing yang terkulai tak berdaya di ujung paruh burung gereja. Menggelepar, bagai benda tak berharga tanpa guna.

“Aku akan segera menikahimu usai pementasan drama kita,” bisik Indrajit. Pria yang merampas tanpa belas itu bangkit. Memainkan lagi pianonya.

Semalaman Lika mengetik artikel opininya. Mengetik dan terus mengetik. Buku-buku bergeletakan di sofa, tempat tidur sampai ke kamar mandi. Remah-remah popcorn bertebaran. Air di akuarium tampak keruh, ikan-ikannya berenang pelan tanpa gairah.

Pagi harinya, ia berendam. Membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam luapan busa yang berlimpah. Rasa segar memang ada, tapi aroma tubuh Indrajit seakan tak mau hilang walau berbotol-botol bathfoam ia tuangkan. Padahal, peristiwa itu berlangsung tiga hari yang lalu. Mengapa wangi tubuhnya masih tercium ujung hidungku?

Lika bangkit, diraihnya tape kecil dari sisi wastafel. Sebuah lagu mengalun, tapi kenapa nada-nada itu serasa mengiris batinnya, perih. Tape dimatikan, kasetnya diganti. Lagu berikutnya masih serupa pisau, tajam dan menguak luka. Kaset diganti lagi, dua kali. Jenis lagu apa pun, yang dinamis, instrumental, jazz, semua sama: nada itu tak pernah berubah, penuh sayatan-sayatan luka yang terluka lagi.

Sore ini mereka akan latihan, Lika tak ingin membayangkan apa yang akan terjadi bila ia bertemu Indrajit. Sebelumnya, telepon tak pernah ia angkat, SMS-nya tak juga dibalas. Ketukan berulang, panggilan penuh sayang dan rasa khawatir di pintu apartemennya, tak pernah digubris.

Seberat apa pun beban yang membelenggu pikirannya, Lika tak ingin pementasan teater itu urung dipertunjukkan. Banyak orang yang menaruh harapan di situ, mempertaruhkan karier dan kemampuan. Memperjuangkan sebuah lahan hidup dalam bidang kesenian yang kerap dianggap lahan kering. Wajah Sulaeman membayang, seluruh pemain yang hampir semuanya bertumpu pada bakat dan keahliannya berperan, menjadi gelembung-gelembung sabun yang memenuhi isi kepalanya.

Lika meraih handuk, lalu membungkus tubuhnya. Sebagian kulit kaki dan telapak tangannya memutih, karena kelamaan berendam. Di depan kaca, dengan sangat masygul ia menatapi sekujur tubuhnya.

Di atas teater terbuka, langit murung mengelabu. Kalau saja teater ini terletak di tepi pantai, Lika akan berlari sekuatnya menuju ombak yang bergelombang. Akan dibiarkan ombak itu membawa dirinya ke mana pun ia pergi. Menuju dasar samudra, menjelajahi lautan lima benua atau tersedot pusaran air yang tak berujung. Kalau saja ia bertemu kekasihnya, rasa kehilangan itu akan sirna. Rasa hina itu akan karam bersama ombak.

Tapi, ini dunia nyata. Di hadapannya berdiri seorang pria bernama Indrajit, pria yang membuatnya tersiksa setiap bangun pagi.

“Ayo, kita ulang lagi adegan tadi, ini latihan terakhir sebelum gladi resik lusa nanti!” suara Sulaeman yang khas, berat dan sedikit serak, mengusik lamunannya. Mereka mengulang adegan itu, lebih dari satu kali. Pikiran dan konsentrasi Lika terbelah.

“Lika aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku, aku akan segera menikahimu. Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu,” bisik Indrajit cepat, mencuri kesempatan dalam kesempitan. Tanpa diduga Lika menampar Indrajit keras-keras. Indrajit kaget, di depannya Lika tersenyum, sangat sinis. Semua terkesiap.

“Cut! Sebentar, tak ada adegan menampar dalam skenario!”

Sulaeman memberi isyarat agar Lika mengikuti dirinya. Latihan tetap berlangsung tanpa Lika.

Di ruangan kerja Sulaeman yang berantakan, Lika terduduk lesu.

“Kamu kenapa? Ada masalah?”

Lika tak menjawab, menatap Sulaeman dalam-dalam, matanya menyimpan kegetiran yang sangat.

“Kamu punya masalah dengan Indrajit?”

Ia mengangguk berat, suaranya lirih. “Masalah pribadi, Pak.”

“Apa pun masalahnya saya tidak akan bertanya. Biar kalian yang menyelesaikannya sendiri. Pisahkan masalah pribadi kalian dengan tokoh yang kalian perankan,” suara Sulaeman lembut dan berwibawa. “Waktu pertunjukan kita tinggal dalam hitungan jam dan detik. Bersikaplah profesional.”

Lika menekuri lantai. Matanya serasa perih. Tapi, ada yang lebih perih lagi di bagian lain, dan tak mungkin Lika menceritakannya pada Sulaeman.


Penulis: Kathrin




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?