AWAL APRIL 2006Kamis pagi, waktu baru menunjukkan pukul 05.30. Lalu lintas kendaraan belum terlalu ramai oleh orang-orang yang akan berangkat kerja. Tapi, Bowo sudah duduk di belakang kemudi kendaraan yang dia parkir di tepi jalan, beberapa meter dari depan sebuah rumah di Jalan Tebet Barat. Rencana yang sudah lama ada di benak Bowo untuk menyelidiki dan membuktikan kecurigaan pada istrinya, pagi itu dia lakukan. Sengaja Bowo tidak menggunakan kendaraan sedan miliknya, agar penyamarannya dengan menggunakan kendaraan pinjaman tidak mudah dikenali Riska, istrinya.
Rumah kediaman kakak Riska di Jalan Tebet Barat tidak begitu besar. Rumah dua lantai, halamannya berumput dengan sedikit tanaman, berpagar besi tidak terlalu tinggi, sehingga dari dalam kendaraan, Bowo dapat melihat keadaan di depan rumah dengan leluasa.
Rabu sore kemarin Riska minta izin suaminya untuk bermalam di rumah kakaknya dengan alasan akan mengantar ibunya berobat. Kata Riska, hari Kamis pagi ibunya akan tiba dari Semarang menggunakan kereta api pagi. Riska beserta kakak perempuannya berencana mengantar ibunya ke tempat pengobatan alternatif di Bekasi.
Namun, kejadian akhir-akhir ini membuat Bowo selalu curiga pada istrinya. Jangan-jangan cerita kedatangan ibunya hanya alasan saja. Apalagi, saat akan ke rumah kakaknya, Riska tidak mau diantar, malah memilih naik taksi. Sudah lama Bowo mencurigai istrinya punya hubungan dengan pria lain. Bukti SMS di ponsel Riska, dan seringnya Riska secara sembunyi-sembunyi menerima telepon atau menelepon dan berbicara dengan suara berbisik, membuat Bowo makin curiga. Berkali-kali Bowo berniat untuk memata-matai istrinya. Namun, selalu tertunda, karena kesibukan pekerjaannya, dan baru hari Kamis pagi ini Bowo mendapat peluang untuk melakukannya.
Duduk di belakang kemudi, dengan pura-pura membaca koran, pikiran Bowo sedang menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan. Apakah hanya menunggu saja sampai Riska dan ibunya keluar rumah dan berangkat ke Bekasi, atau harus berbuat sesuatu. Tiba-tiba muncul pikiran untuk menelepon Riska. Ketika jarum jam menunjuk angka 06.30, Bowo mengambil ponselnya dan mengontak Riska.
“Ris, bagaimana, Ibu jadi datang?” tanya Bowo.
Riska yang tidak mengharap mendapat telepon dari suaminya agak kaget. Ia sempat berpikir, jangan-jangan suaminya tahu bahwa dia berbohong. Namun, Riska segera dapat menguasai perasaannya. Apalagi, sewaktu akan meninggalkan rumah, suaminya kelihatan biasa-biasa saja, tidak ada tanda-tanda mencurigakan.
Dengan suara agak pelan, namun pura-pura penuh kemesraan, Riska menjawab telepon suaminya. “Ibu baru saja datang, sekarang sedang sarapan. Mas sudah sarapan?”
Nada suara Riska mengesankan tidak terjadi apa-apa, tidak ada yang patut dicurigai. Namun, kecurigaan Bowo justru muncul, ketika melihat di depan rumah tidak ada mobil yang akan mengantar mereka ke Bekasi. Biasanya mobil kakaknya selalu diparkir di halaman rumah. Tapi, mungkin juga mobil dipakai suami kakak Riska, dan Riska akan pergi menggunakan taksi.
Semula Bowo akan bertanya, mau menggunakan kendaraan apa. Tapi, Bowo khawatir, penyamarannya ketahuan. Dia alihkan pertanyaannya, “Jadi, jam berapa mau berangkat ke Bekasi?”
“Ya, sebentar lagi, menunggu Mbak Ratna selesai beres-beres,” kata Riska, berbohong.
Riska pikir, paling-paling suaminya di rumah sedang baca koran, sambil minum teh, sebelum berangkat ke kantor sebagaimana biasanya dia lakukan.
“Oke. Kalau begitu, hati-hati di jalan, ya,” kata Bowo.
Mendengar ucapan suaminya yang penuh pehatian, Riska merasa lega. Berarti, Bowo tidak curiga. Padahal, Bowo sendiri masih bimbang. Bowo berharap, apa yang dikatakan istrinya, bahwa ibunya baru saja tiba dari Semarang, memang betul. Tapi, Bowo bertekad untuk tetap menunggu di dalam mobil sampai melihat dengan mata kepala sendiri ibu mertua, istrinya, serta kakak Riska, Mbak Ratna, keluar dari rumah.
Tak lama kemudian Bowo melihat seorang pria keluar dari rumah. Pria berusia 30-an, perawakannya tinggi, rambut agak keriting. Bowo melihat jam tangannya, pukul tujuh. Bowo belum pernah melihat dan bertemu pria tersebut. Tak mungkin dia saudara Riska, karena Riska tidak punya saudara laki-laki. Riska enam bersaudara, semuanya perempuan, pikir Bowo.
Dengan masih pura-pura membaca koran, mata Bowo terus meng-awasi gerak-gerik pria itu. Rupanya, pria itu sedang menunggu taksi yang lewat. Setelah dapat menyetop taksi, taksi diminta masuk ke halaman rumah. Tiba-tiba saja dada Bowo terasa bergetar. Bowo pikir, jangan-jangan pria ini kekasih istrinya. Ada keinginan untuk menelepon Riska, tapi hati kecil Bowo mencegahnya, Bowo ingin melihat bagaimana kelanjutannya.
Setelah taksi masuk ke halaman, pria itu masuk ke dalam rumah. Tidak berapa lama kemudian, kekhawatiran Bowo menjadi kenyataan. Benar saja, Bowo melihat Riska diiringi pria itu keluar dari rumah. Tidak tampak Ibu maupun kakak Riska. Tangan kiri pria menjinjing travel bag merah yang biasa digunakan Riska, sedangkan tangan kanannya menarik koper beroda warna hitam. Riska tampil cantik mengenakan blus lengan panjang warna krem dan blazer warna cokelat tua. Riska juga mengenakan wig warna cokelat muda, yang dibeli minggu lalu bersama Bowo.
Bowo melihat adegan di depannya tanpa bergerak. Badannya tiba-tiba jadi lemas, kepala terasa panas, dadanya bergetar cepat. Tangannya kencang memegang erat-erat kemudi kendaraannya, seakan mau menabrakkannya ke taksi yang dinaiki Riska.
Ada keinginan Bowo untuk turun dari kendaraan dan menemui Riska. Namun, pikiran jernih Bowo mencegahnya. Kalau dia turun dari kendaraan dan menemui Riska, pasti akan terjadi keributan dan mungkin pertengkaran, yang akan menarik perhatian orang-orang yang sedang lalu-lalang di jalan. Bowo tidak mau dirinya menjadi tontonan orang.
Dengan mata tak berkedip Bowo melihat Riska dan pria itu masuk taksi. Tidak lama kemudian, perlahan-lahan taksi berjalan ke luar halaman, menuju arah Tebet Raya. Bowo hanya dapat menarik napas dalam-dalam. Dari mulutnya berkali-kali keluar ucapan istigfar.
Ada keinginan untuk memutar kendaraannya dan mengikuti taksi yang dinaiki Riska, untuk mengetahui ke mana arah kepergian istrinya. Tapi, Bowo pikir, tidak ada gunanya. Toh, dia sudah melihat langsung istrinya pergi dengan pria lain. Bowo yakin, istrinya sudah merencanakan sejak lama, mungkin mencari kesempatan saat keluarga kakaknya tidak ada di rumah.
Dalam keadaan terpukul melihat Riska, Bowo menghubungi Riska, untuk memberi kesan bahwa dia tahu perselingkuhan Riska. Agak lama Bowo menunggu nada panggil dari ponsel Riska.
Riska sendiri ragu-ragu menjawab telepon suaminya. Riska punya firasat, suaminya tahu bahwa dia pergi dengan pria lain. Ketika kemudian terdengar suara Riska, suaranya sangat pelan, seperti takut didengar orang lain.
“Halo,” kata Riska.
Mendengar suara istrinya, kemarahan Bowo meledak dan dengan nada tinggi berkata, “Ris, dengan siapa kamu pergi? Pacar kamu? Kamu bohongi aku, ya? Sampai hati kamu selingkuh di depan mataku. Memangnya aku kamu anggap apa?” Belum selesai Bowo melampiaskan amarahnya, Riska mematikan ponsel.
Dengan perasaan marah bercampur sedih, badan lemas, dada masih bergetar, tangannya terkepal, Bowo tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Untuk beberapa lama Bowo diam duduk di belakang kemudi, matanya memandang ke depan dengan tatapan kosong. Tanpa Bowo sadari, perlahan-lahan dia kemudikan kendaraannya, arah pulang ke rumah.
Tiba di rumah, Bowo menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Tidak terasa air mata membasahi pipinya. Hatinya sangat pedih, dadanya terasa sesak. Sampai hati Riska berbohong dan mengkhianatinya. Kurang apa Bowo menyayangi dan mengasihi Riska. Apa yang kurang? Semua permintaaan Riska tidak pernah dia tolak, kewajiban sebagai suami telah dia penuhi, baik yang menyangkut keperluan jasmani maupun kebutuhan rohani. Sampai detik ini pun tidak pernah ada keluhan dari Riska.
Penulis: Adam Saleh


