Dari kantor Wali Kota Jakarta Selatan, mobil Toyota Avanza, kendaraan dinas LA-1, itu meluncur mulus tanpa hambatan menuju Kantor Kelurahan Lenteng Agung. Mulai dari obrolan ringan, seperti kegemarannya pada lagu-lagu Rihanna, sampai saat harus berhadapan muka dengan ratusan massa yang mengamuk, ia bagikan kepada femina.
Penuh Kontroversi
“Saya ini galak, lho, di kelurahan. Kalau marah enggak memandang orang,” kata wanita yang akrab disapa ‘Lurah Susan’ ini. Kegalakannya ini terutama muncul saat harus berhadapan dengan oknum staf kelurahan yang menyalahgunakan posisi mereka untuk mengeruk keuntungan dari uang masyarakat. “Semua pelayanan di kelurahan ini kan gratis,” lanjutnya.
Ia mengakui, tidak mudah mengubah ‘tradisi’ lama orang-orang yang terbiasa menyodorkan amplop untuk mempercepat urusannya. Lalu, bagaimana caranya mengatasi anak buah yang nekat menerima suap? “Saya tidak akan langsung pecat. Tapi, saya akan menegur secara langsung di depan forum, ketika rapat koordinasi. Itu cara saya memberi shock therapy. Lurah kalau berbuat kesalahan juga diminta berdiri dan ditanya-tanya di depan semua lurah serta camat se-Jakarta Selatan,” ujar wanita berdarah Padang-Manado ini.
Apakah ia tidak takut dimusuhi banyak orang gara-gara menerapkan kebijakan yang tidak populer? Dengan lugas Lurah Susan menjawab bahwa sejak awal menjabat sebagai lurah, ia telah mengondisikan diri berada dalam situasi sulit seperti ini. Tetapi, meski mencoba untuk sabar dan tidak mau terlalu memikirkan, pernah ia memilih untuk tutup kuping. Terutama ketika ia menghadapi demo penolakan dari massa Front Pembela Islam (FPI) di awal masa jabatannya.
“Waktu itu saya tidak pernah kepikiran akan didemo orang karena masalah keyakinan yang berbeda. Agar tidak terpengaruh oleh pemberitaan yang macam-macam, selama didemo saya tidak mau nonton TV,” jelas Susan, yang memeluk agama Nasrani. Baru belakangan ini ia mengaku berani membuka YouTube, dan tercengang-cengang sendiri. “Gila juga, ya, waktu itu!” katanya, tertawa.
Berbagai upaya politis untuk menggulingkannya dari jabatan terus bergulir. Pernah, suatu LSM yang tidak jelas organisasinya datang ke kantornya, mengancam bahwa mereka punya bukti indikasi praktik korupsi yang dilakukannya. “Jika memang ada bukti, laporkan saja. Saya tidak takut,” tantangnya. Bahkan, sampai dipanggil oleh pihak Polda pun, Lurah Susan menurut.
“Sebagai warga negara yang baik, saya ikuti saja semua proses hukumnya. Eh, malah LSM itu yang ditangkap karena kasus penipuan,” ujarnya, separuh geli.
Baginya, saat ini yang terpenting adalah bekerja dan melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebaik mungkin. “Namanya saja pelayan masyarakat, pasti ada yang suka dan tidak suka. Itu sudah biasa. Apalagi jabatan ini berhubungan langsung dengan masyarakat,” jawabnya.
Tidak sekali dua kali kantornya nyaris remuk, dan para stafnya gemetar menangis ketakutan menghadapi amukan ratusan warga. Seperti insiden pembuatan Kartu Jakarta Pintar (KJP), beberapa waktu lalu. KJP merupakan kartu untuk tunjangan pendidikan. Proses pembuatan yang memakan waktu karena keterbatasan tenaga, membuat massa berpikir bahwa pihak kelurahan sedang ‘mempermainkan’ KJP. Jepretan kamera ponsel berhasil merekam peristiwa mencekam itu.
Dengan sikap asertif, ia berhasil meredakan amukan seorang warga. Ajaibnya, pria yang tadinya berkobar penuh kemarahan itu pun ikut duduk dan membantu mengetik pembuatan KJP. Dari yang awalnya bersitegang, sampai akhirnya bisa saling mengobrol dan melemparkan candaan tentang aksi konyol mereka. Setelah bekerja nonstop ditemani bercangkir-cangkir kopi, Lurah Susan bersama para staf, plus bantuan ‘lawan yang kini menjadi kawan’, akhirnya berhasil merampungkan pembuatan KJP itu pada pukul 4 pagi!
“Bu Lurah ada cincinnya, sih, jadi begitu ketemu orang yang marah-marah, langsung jadi reda,” ujarnya, mengulang candaan mereka tentang cincin batu hitam berbentuk oval yang melingkar di telunjuk kanannya. Mendengar ini, ia hanya tertawa. “Hanya berkat penyertaan Tuhan, semua permasalahan bisa terselesaikan dengan jalan damai, tanpa menjadi anarkis,” ujarnya, penuh syukur.
Soal cincin, itu adalah peninggalan dari almarhum ayahnya. “Kalau ponsel ketinggalan, saya tidak peduli, tapi kalau yang ini tidak boleh! Pernah, saya sudah sampai daerah Kasablanka, dan memilih kembali ke rumah untuk mengambil cincin yang tertinggal. Memakai cincin ini membuat saya serasa sedang ditemani oleh Papa,” ujarnya.(Naomi Jayalaksana)


