Trending Topic
Penderita Kanker Payudara Terus Berjatuhan

16 Nov 2015


Kompleksitas penyakit, kendala fasilitas kesehatan, dan rendahnya kesadaran dini terhadap ancaman kanker payudara menjadi rangkaian panjang masalah yang masih jadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Ibarat gerbong kereta yang saling terkait, satu saja melenceng dari relnya, maka akan menyeret gerbong lainnya hingga ikut terguling. Masalahnya, bukan siapa yang salah, tapi bagaimana agar jaminan sistem pengaman antar-rangkaian permasalahan itu bisa memastikan penderita kanker payudara mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

Di Indonesia, kurangnya pemahaman tentang kanker payudara dan pentingnya deteksi dini membuat banyak wanita terjebak mencari solusi sendiri. Salah satunya melalui pengobatan alternatif. Ahli onkologi sekaligus Direktur Utama RS Kanker Dharmais, Jakarta, dr. Sonar Soni Panigoro, SpB.Onk., M.Epid, mengatakan bahwa sejak tahun ’70-an, sebanyak 75 persen pasien kanker payudara datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi stadium lanjut, atau stadium tiga ke atas. Fakta ini tidak hanya mengecilkan kesempatan pasien untuk sembuh, tapi juga menguras biaya hingga ratusan juta!

Sebagai gambaran, dr. Sonar mengungkap bahwa jika pasien yang sudah terdeteksi kanker mengikuti anjuran dokter, maka mereka hanya perlu mengeluarkan uang sekitar Rp15 juta  untuk biaya operasi satu komponen di stadium awal. Namun, pada saat menginjak stadium lanjut, maka harus ditambah terapi penyinaran yang harga sepaketnya Rp20 juta. Apabila stadiumnya naik, maka seorang pasien harus menjalani kemoterapi yang biayanya mencapai Rp30 juta-an untuk enam kali penyinaran.

“Itu belum menghitung biaya jika terjadi komplikasi, butuh transfusi darah, atau penambahan protein albumin. Apabila ditotal, angkanya bisa sampai Rp200-an juta! Tapi, yang paling menyedihkan, setelah mengeluarkan biaya sebanyak ini akhirnya pasien tetap meninggal juga,” ujar dr. Sonar, mengungkap tingginya angka kematian kanker secara umum.

Dengan angka kasus baru tertinggi di dunia (43%), kanker payudara menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker paru-paru, yaitu 12,9% atau 1.025.000 jiwa dari total 8,2 juta kematian akibat kanker (lembaga penelitian kanker internasional IARC, 2012). Persentase kematian terbesar tentu berada di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 mengungkap bahwa di Indonesia angka insiden kanker payudara mencapai 40 per 100.000 wanita. Jumlah ini tiga kali lebih banyak daripada angka insiden kanker serviks yang 16 per 100.000 wanita. Jumlah kasus baru kanker payudara di Indonesia   sudah mencapai 61.682 kasus. Tren ini diramalkan akan terus meningkat di tahun-tahun ke depan! (f)


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?