Celebrity
Pencapaian Tertinggi Amila Tamadita

25 Feb 2012

“Let’s go to the battle field! Wohoooo!” Itulah yang dituliskan Amila Tamadita (21) di akun twitter-nya, sesaat sebelum mengikuti karantina Wajah Femina 2011. Gadis keturunan Cina, Jawa, Padang, dan Sunda ini memang selalu terlihat bersemangat. Walau tidak memiliki pengalaman modeling seperti finalis lain, mahasiswi semester 8 Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara itu tetap antusias mengikuti berbagai kegiatan selama masa karantina.

Sikapnya yang percaya diri dan tampil apa adanya mencuri perhatian juri. “Di panggung dia bersinar dan kepribadiannya cukup menonjol. Dia punya potensi besar menjadi bintang,” ungkap Jatu Anggraeni, Redaktur Pelaksana Mode majalah femina, sekaligus salah satu juri Wajah Femina 2011.

Saat Marsyel Christadela (Pemenang I Wajah Femina 2010) berhenti di hadapannya, Amila sempat  terdiam beberapa saat dan gemetar. Saking bingungnya, Marsyel sempat berbisik pada Amila agar maju ke depan. “Baru kali ini saya menjadi juara satu. Sebelumnya, paling tinggi, saya hanya menjadi juara dua dalam ajang lompat tinggi antar-SMP se-Jakarta Selatan,” ujarnya.

Mengapa Anda sangat kaget, padahal Anda memang dijagokan teman-teman?
Sebab, ini untuk pertama kalinya saya mengikuti ajang seperti ini. Tujuan awal ikut Wajah Femina karena ingin mencoba sesuatu yang baru, yakni dunia modeling, dan menambah teman. Jadi, tidak ada harapan besar untuk menjadi juara. Apalagi kebanyakan finalis lain sudah cukup berpengalaman di dunia modeling. Sedangkan saya, hanya  difoto teman untuk portofolio mereka.

Tampaknya Anda suka mencoba hal baru?
Ya. Saat kecil saya sempat ikut les balet, saat SMP saya les desain grafis dan menjadi atlet lompat tinggi. Saat SMA, saya ikut Paskibra, bergabung dengan OSIS, serta teater sekolah. Saya sangat senang menjumpai sesuatu yang baru, ilmu baru, dan teman baru. Banyak hal yang tidak kita tahu. Dengan mencoba, kita akan mendapatkan pengalaman yang berharga. Sampai sekarang, saya masih mau mencoba hal-hal lain. Namun, yang tidak jauh dari dunia seni.

Juri jatuh cinta pada sikap Anda, ya? Seperti apa Anda membawa diri?
Saya hanya tampil apa adanya, namun selalu berusaha yang terbaik. Begitu juga saat di ruang penjurian. Keluar dari ruang penjurian, saya merasa tenang karena sudah berusaha semaksimal mungkin. Dalam pikiran saya saat itu, apa pun hasilnya, akan saya terima dengan ikhlas.

Apa hal paling menyenangkan menjadi Pemenang I Wajah Femina 2011?
Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mendengar Ayah dan Ibu mengatakan langsung bahwa mereka bangga pada saya. Senang bisa membuat mereka bangga, termasuk keluarga dan teman yang datang mendukung di malam final. Melihat mereka bahagia dari atas panggung, menjadi kegembiraan tersendiri untuk saya. Bahkan, nenek saya yang kakinya sedang kurang sehat, melompat gembira saat tahu saya menjadi Pemenang I.   

Apa arti keluarga untuk Anda?
Mereka adalah segalanya. Saya tidak mungkin seperti ini, menjadi Pemenang I Wajah Femina 2011, tanpa mereka. Ibulah yang memotivasi saya untuk ikut Wajah Femina.  Dulu Ayah kurang setuju saya masuk ke dunia modeling, Tapi, saat mau mengikuti Wajah Femina, Ayah malah menjadi pendukung utama.

Mengapa Ayah sempat melarang Anda masuk dunia modeling?
Dulu tidak boleh karena Ayah takut saya masuk agency yang tidak jelas. Sebenarnya orang tua saya bukan tipe orang yang suka melarang. Mereka membebaskan saya melakukan apa pun, asal tetap sopan dan bertanggung jawab. Jika sudah melakukan sesuatu, harus siap dengan segala konsekuensinya.

Sebelum ikut Wajah Femina, Anda lebih sering di belakang kamera?
Ya. Selama ini saya di belakang kamera, memotret teman-teman yang punya band untuk membuat sampul album.  Membuat konsep sekaligus mendesainkan. Saya  juga sempat bekerja di salah satu production house, membantu pembuatan videoklip. Tidak disangka, sekarang saya justru yang di depan kamera. Sisi spotlight ternyata menyenangkan, namun tidak dipungkiri kadang-kadang saya butuh di belakang kamera saja. Kini lebih seimbang rasanya.

Djamilah



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?