<< cerita sebelumnyaHari ini sebetulnya aku berniat mengonfrontasi temuanku pada Ardiansyah. Namun, aku terpaksa membatalkan rencanaku, karena Mas Rangga mengajakku mengamati satwa di hutan. Aku, Mahesa, dan Mas Rangga yang berangkat. Inilah kali pertama aku mendapat tugas untuk mengamati perilaku satwa, yang telah dikembalikan ke alamnya. Ada rasa cemas sekaligus senang, saat aku naik ke mobil mengikuti jejak Mahesa dan Mas Rangga.
Kami membawa perbekalan untuk dua hari. Kata Mas Rangga, sekadar berjaga-jaga, bila kami terpaksa menginap di hutan. Kami berangkat naik mobil. Setelah itu, mobil itu kami tinggal di permukiman penduduk yang berbatasan dengan hutan dan kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, menembus lebatnya pepohonan.
Mahesa berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan, aku di belakangnya, dan Mas Rangga di paling belakang. Kami semua menggendong ransel yang berisi bahan makanan, peralatan survival, dan bivak.
Sinar matahari terlihat menerobos di sela-sela pepohonan. Kicau burung dan bebunyian satwa hutan seolah menjadi musik yang menyambut kedatangan kami bertiga. Sejak di mobil, sampai berjalan menembus hutan, Mahesa tak banyak cakap. Entahlah, aku sendiri tak tahu mengapa. Namun, kuperhatikan, akhir-akhir ini Mahesa memang lebih banyak berdiam diri. Bahkan, sekali waktu aku tak melihatnya sama sekali. Kata Mas Rangga, Mahesa sedang pulang ke Jakarta.
”Mahesa itu gila kerja, Ni. Di Jakarta dia punya klinik khusus hewan. Kalau sedang suntuk dengan suasana Jakarta, dia ke sini, mencurahkan waktu dan tenaganya untuk binatang-binatang langka di sini!” ujar Mas Rangga.
Aku hanya manggut-manggut, meski dalam hati makin bertanya-tanya tentang pria satu itu. Belum pernah aku melihat orang yang begitu mendedikasikan hidupnya untuk penyelamatan binatang-binatang langka. Sepertinya, kebahagiaan hidup yang dirasakannya tak diukur dari banyak sedikitnya materi. Sementara orang-orang seusianya tengah berlomba mengejar materi dan jabatan, demi memperoleh masa depan yang lebih gemilang, dia justru berkutat di pedalaman Sumatra ini tanpa mengharap imbalan apa pun.
”Kita berhenti di sini dulu, Ahe. Aku capek. Sepertinya, Bima dan Srikandi tak bakal masuk ke hutan lebih jauh lagi!” kata Mas Rangga.
Mahesa tak berkata apa-apa. Dia hanya mengulurkan botol air mineral yang sedari tadi digenggamnya. Setelah itu, dia pergi, entah apa yang dilakukannya.
”Mas, mungkinkah Bima dan Srikandi bisa hidup sesuai dengan naluri kehewanan mereka, setelah sekian lama menjadi peliharaan orang?” tanyaku, teringat nasib dua harimau Sumatra, yang kami lepas beberapa waktu lalu.
”Kita berharap begitu, Nia.”
”Kasihan binatang-binatang itu, Mas. Mereka sudah terbiasa jadi binatang peliharaan. Mau makan, ada yang memberi. Hidup aman dan nyaman di dalam kerangkeng, tak punya musuh sesama binatang buas. Apa jadinya bila mereka kita lepas ke alam liar, Mas? Bisa nggak mereka cari makan sendiri?”
”Kita kan sudah melatihnya, Nia. Kita sudah memberinya waktu untuk beradaptasi. Mudah-mudahan, bekal yang kita berikan cukup untuk membuat mereka bertahan hidup di alam liar!”
Mahesa kembali, sambil terengah-engah. ”Mereka di sana, Mas. Kira-kira 500 meter dari sini,” ujarnya.
”Yuk, kita ke sana,” kata Mas Rangga, sambil menarik tanganku.
Aku kembali berjalan, menginjak tanah lembek di bawah kakiku. Kuhilangkan perasaan jijik dan takutku. Toh, ada Mas Rangga dan Mahesa yang menemani. Kami berhenti di bawah sebuah pohon besar.
Mas Rangga menyuruhku naik. ”Ini namanya pohon pengamatan, Nia. Kami punya beberapa pohon seperti ini, agar bisa leluasa mengamati satwa,” ujarnya, menjelaskan.
Tak jauh dari pohon itu, ada aliran sungai. Menurut Mas Rangga, tempat paling ideal untuk mengamati satwa adalah di dekat aliran sungai. Soalnya, semua binatang pasti akan datang ke sungai itu untuk minum. Di atas pohon itu pun telah dibangun semacam rumah pohon.
Ketika tiba di rumah pohon, Mahesa dan Mas Rangga ternyata justru meluncur turun. Mereka berpamitan hendak menelusuri jejak harimau yang telah mereka lepaskan pekan lalu. Kuhela napas, dalam hati memaki mereka karena tak mengikutsertakan aku! Ugh! Ini pasti akal-akalan Mahesa!
Duduk diam, sungguh membosankan. Aku mulai mendengarkan suara-suara hutan. Suara siamang. Suara burung-burung. Suara desing yang aneh. Suara apa itu? Aku lebih menajamkan indra dengarku. Suara itu terdengar sayup-sayup, entah dari mana. Namun, aku hampir yakin bahwa suara yang kudengar itu adalah suara gergaji mesin. Aku nyaris terlonjak. Berarti, aku dekat sekali dengan tempat penebangan kayu ilegal itu. Astaga! Jika aku bisa menemukan sumber suara itu, maka aku akan menemukan lokasi tempat perampok-perampok hutan itu beraksi!
Dengan penuh semangat, tanpa memedulikan pesan dari Mas Rangga, aku meluncur turun dan mulai mencari sumber suara itu. Di mana? Suara itu hilang timbul. Aku terus berjalan, sambil menajamkan telingaku. Sampai pada suatu titik, suara itu tak lagi terdengar lamat-lamat. Jantungku berdebar kencang. Makin aku bergerak maju, suara itu terdengar makin jelas.
Itu dia! Aku berhasil menemukan lokasi penebangan pohon itu! Oh, untunglah aku tadi tak lupa membawa kamera digitalku! Di depanku, tepat di depan mataku, terpampang adegan persis di televisi, yang sudah ribuan kali kusaksikan. Dua pria sedang asyik menggergaji dengan chensaw. Mereka sama sekali tak menyadari kehadiranku. Aku sibuk memotret. Meski sadar bahwa aku tak mungkin menghasilkan foto dengan kualitas gambar memuaskan, aku terus memotret, sampai seseorang menoleh padaku dan berteriak, ”Hei, ada orang di sana!” Detik itu juga aku langsung sadar kehadiranku telah diketahui.
Kumasukkan kameraku ke dalam tas, lalu berlari secepat kakiku bisa melangkah. Lari tanpa tentu arah, yang penting selamat! Aku berlari dan terus berlari, tanpa menengok ke belakang. Aku tak tahu berapa orang yang mengejarku. Aku lari seperti kesetanan. Hanya dengan cara inilah aku bisa menyelamatkan nyawaku! Dadaku berdegup kencang seolah hendak meledak.
Tapi... ups! Kakiku tersangkut sebuah akar. Tanpa bisa dicegah lagi, aku terjatuh dengan menimbulkan suara yang sangat berisik, lantaran aku terjatuh di dedaunan kering, yang menjadi alas hutan. Aku mencoba bangkit, tapi... mereka lebih sigap.
”Nah, mau lari ke mana?” seseorang menangkap tanganku dan memaksaku berdiri.
Dua pria berwajah seperti preman menatapku. Aku tak kenal mereka. Kurasakan tubuhku sangat lemas saat mereka membawaku pergi, masuk ke areal yang tadi kulihat. Tak seperti dugaanku, wilayah itu sudah menyerupai permukiman. Ada beberapa bangunan dan sebuah kapal tertambat di tepi sungai. Aku dibawa masuk ke salah satu bangunan.
”Tunggulah di sini, biar bos kami yang mengambil sikap!” ujar seorang pria, sambil melemparku ke lantai kayu dan mengunci pintu. Gelap. Aku hanya dapat mendengar aktivitas penebangan di luar sana.
Waktu sedetik benar-benar terasa seperti setahun. Aku menunggu sampai terdengar langkah-langkah kaki mendekat dan gerendel kunci dibuka. Pintu berderit, menghadirkan seberkas cahaya dan sesosok tubuh. Aku tak bisa melihatnya dengan jelas, karena silau.
”Nia!” ujar sosok itu.
Suara itu sudah tak asing lagi di telingaku. Kukerjapkan mata berkali-kali, sampai mataku terbiasa dalam gelap dan bisa melihat sosok itu secara utuh. Tak ada yang lebih mengejutkan dari apa yang kulihat saat ini. Ardiansyah! Dia menarikku hingga berdiri dan mendudukkan aku di kursi.
”Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
”Seharusnya, aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa yang kaulakukan di sini, Ardi?” ujarku, balik bertanya.
Mereka bilang, biar bos yang mengambil tindakan. Inikah bos mereka itu? Ardikah bos mereka?
”Aku sedang patroli....”
”Jangan bohong, Ardi! Kau pikir aku bodoh dan buta? Hanya polisi hutan yang berhak masuk ke wilayah ini. Wilayah kekuasaanmu ada di luar sana! Bukan hutan dan seisinya yang kaulindungi, tetapi masyarakat di luar sana!” selaku dengan nada sedikit naik.
Penulis: Astrid Prihatini WD
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2006


