<< cerita sebelumnyaKampung Air Lingka, awal Mei 2007
Gadis itu membuka mata. Bekerjap-kerjap perlahan. Sampai bayang-bayang samar di depannya mulai terlihat jelas. Seorang pria bertelanjang dada tampak sedang melipat jalanya, di dalam sebuah kamar sempit yang penuh dengan tumpukan baju kotor di sana-sini.
“Ini... di mana?” Ia bertanya lirih. Tangannya spontan memegang bagian belakang kepalanya yang terasa amat nyeri.
Pria bertelanjang dada itu menjawab acuh tak acuh. “Kau terdampar di pantai. Kulihat dadamu masih bergelombang, tandanya kau masih hidup. Jadi, kubawa kau kemari.”
Pria itu lalu berdiri. Mengambil sebungkus nasi yang teronggok di antara tumpukan baju, dan menyodorkannya pada gadis itu yang berbaring di sebuah tempat tidur papan tanpa alas. “Nih, makan! Kau siapa? Kenapa sampai terdampar?”
Gadis itu berusaha duduk. Memegang bagian yang sama di kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut keras. Ada tonjolan yang terasa membengkak di situ. Siapa? Oh! Ia langsung panik! Ya. Siapa namanya? Kenapa ia sampai tak tahu? Terdampar? Oh! Ya. Kenapa sampai terdampar?
Pria itu mengerutkan dahinya. Raut gadis di depannya mendadak berubah, seperti orang linglung. “Kau kenapa?”
“Aku… tak ingat apa-apa.”
“Juga namamu?”
Gadis itu mengangguk bingung.
“Ya, sudah. Mungkin saja besok-besok kau akan ingat kembali. Sekarang kupanggil kau, eng, Imah. Ya, Imah. Daripada aku harus memanggilmu ’hei’ atau ’hoi’, seperti tinggal di hutan saja.”
Gadis itu kembali menggerakkan kepalanya ke bawah. Ia duduk perlahan-lahan, lalu melepas karet pengikat nasi bungkus tanpa mengucap sepatah kata, dan mulai mengunyah. Tampak sekali bahwa ia sudah benar-benar lapar.
Pintu di sudut kamar terbuka. Seorang pria yang juga bertelanjang dada, namun terlihat dua kali lebih muda, sejenak tertegun. Tatapannya terhujam pada gadis yang sedang mengunyah nasinya dengan lahap. Bola matanya bergerak ke arah pria di sampingnya, yang menjawab isyarat mata itu dengan menyilangkan telunjuknya ke dahi. Gadis itu hanya memandang sekilas, lalu melanjutkan santapnya, seakan tak mengerti akan bahaya baru yang sedang mengintainya.
Kedua pria bertelanjang dada itu menatap tajam ke satu titik pandang, sambil tersenyum menyeringai. Lalu saling melempar isyarat mata. Hampir serentak.
Baloi Centre, April 2007
”Teacher, tunggu.”
Rianty menoleh. Seorang wanita dengan rambut diikat ekor kuda terengah-engah menyusulnya.
”Ada apa?”
”Surat dari Surti, untuk Teacher,” jawabnya, sambil menyodorkan sehelai kertas putih yang terlipat.
“Mana Surti?”
“Sudah berangkat, Teacher,”
Mata Rianty spontan terbelalak. “Berangkat? Kapan?”
“Kemarin malam, Teacher.”
Rianty terdiam. Tercenung sesaat, sampai tak menyadari kapan wanita itu pamit dan berlalu.
Maafkan saya, Teacher. Saya memutuskan untuk tetap pergi. Saya tidak mau menyusahkan Teacher. Terima kasih banyak atas kebaikan Teacher pada saya selama ini. Surti.
Rianty melipat kertas itu. Lalu meremasnya. Dirasakannya satu tarikan napasnya yang dalam penuh kecewa. Kenapa gadis itu tetap nekat berangkat? Kakinya belum lagi sempat beranjak, ketika sebuah pesan masuk menggetarkan ponselnya. Dari Meinar.
Ada operasi tadi mlm. 10 orang terjaring. 5 org prp, skrg ada di sini. Bgm Surti?
Kekecewaannya sejenak menepi. Ia menulis balasan singkat.
Aku ke sn skrg. Surti sdh prg.
Pesan terkirim. Sepasang langkahnya bergegas menuju pelataran parkir. Seiring detak napasnya yang mulai tak teratur.
Garut, awal 2007
Udara pagi menerpa wajah Rianty yang telanjang, sama sekali belum terjamah bedak atau pemulas wajah apa pun. Sejuk dirasakannya langsung merasuk ke pori-pori. Memberinya sensasi kenyamanan melebihi oxygen facial yang kerap dilakukannya, demi menjaga kekencangan kulit wajah di usia nyaris menyentuh angka tiga puluh.
Ia membentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menghirup napas dalam-dalam, seakan tak rela berbagi kesejukan itu dengan makhluk lain di sekitarnya. Sudah lama sekali ia tak berinteraksi dengan udara terbuka sesejuk hawa pendingin ruangan ini, berada di tengah kebun sayur di pedesaan yang nyaris bebas polutan, sejak ia memutuskan untuk merantau ke kota Batam yang bermandikan terik matahari, lima tahun lalu.
“Masuk dulu, Neng, nanti tehnya keburu dingin, suara lembut Bik Parni membuat Rianty mengurungkan niatnya untuk merentangkan kembali kedua tangannya, berkhayal seperti perling yang mengepakkan sayap, terbang riang menelusuri kebun sayur. Sebaliknya, ia pura-pura meregangkan otot sambil menarik kedua lengannya, lalu berbalik, menyeret kakinya masuk ke rumah sederhana itu.
Wanita paruh baya itu masih seperti dulu. Hanya gurat ketuaan di sudut matanya saja yang bertambah banyak. Senyumnya pun masih seperti waktu itu. Senyum ramah yang paling tak bisa ia lupakan kala berpamitan untuk berangkat ke Batam, lima tahun lalu. Dan, tiga bulan setelah itu, Mama mengabarinya bahwa Bik Parni sudah berhenti. Suaminya meninggal, dan ia memutuskan untuk mudik, mengurusi kebun sayur peninggalan almarhum suaminya, serta anak perempuan satu-satunya yang sudah beranjak remaja.
“Bibi, kok, repot-repot, sih? Saya kan cuma sebentar. Nanti siang juga saya sudah pulang ke Bandung, dan besok pagi sudah berangkat kembali ke Batam.
“Duh, terima kasih, ya, Neng, udah sudi mengunjungi Bibi. Tadinya Bibi kira Neng sudah lupa atuh sama Bibi. Maklum, udah lama nggak ketemu, Neng mah tambah geulis aja, puji Bi Parni.
“Ah, Bibi bisa saja, tukas Rianty.
Ia lalu menyeruput tehnya pelan-pelan, sambil menikmati sedapnya daun teh seduh beraroma melati, yang tak akan pernah dijumpainya di Batam, kota metropolitan yang penuh sesak dengan produk impor negara tetangga, dengan segala kompleksitasnya yang beberapa tahun ini telah menyatu dengan denyut nadi rutinitasnya.
Sejenak ia menikmati metamorfosis hidup yang tersaji lewat foto-foto keluarga berbingkai plastik sederhana yang tergantung di dinding, ketika cangkir teh yang isinya tinggal separuh itu perlahan ia turunkan. “Itu Tary? tanyanya, sambil menunjuk ke arah foto seorang gadis berambut ikal.
Bi Parni mengangguk.
“Tambah cantik saja. Sekarang ada di mana, Bi? tanya Rianty.
Tak disangka raut wajah tua itu sontak berubah. Senyumnya luluh lantak, berganti muram.
“Ada apa, Bi? Maaf….
“Enggak apa-apa, kok, Neng, potong Bik Parni cepat. Tatapannya lurus pada wajah anak bekas majikannya itu. Setengah gelisah.
“Neng, sebelumnya, saya minta maaf sama Eneng, ujarnya lirih.
“Ada apa, Bik? Alis Rianty bertaut heran.
“Saya mau minta tolong sama Eneng, kalau nggak nyusahin Eneng.
“Kalau saya bisa bantu, akan saya usahakan. Mau minta tolong apa?
Tatap mata Bik Parni tambah sendu. Segunung rindu yang berbaur cemas seakan berebut meloncat keluar dari bola matanya. Saya mau minta tolong, untuk mencari Tary, Neng! Dia pergi setahun lalu, katanya ditawari kerja di luar negeri..., kalimat Bik Parni terputus. Kapal pertahanannya keburu pecah. Dan, isak tangisnya mengalir deras.
Penulis : Riawani Elyta
Pemenang II Sayembara Mengarang Cerber femina 2008


