Di Oval Room, café & lounge miliknya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Olga Lydia menyapa hangat femina. Siang itu ia terlihat cantik dengan atasan batik hijau cerah yang dipadu dengan celana capri. Senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya. Ia bercerita tentang kafenya yang punya menu western. “Tapi, sejak ada festival kuliner Indonesia di kafe ini, menu rujak pun banyak sekali yang suka,” kata Olga.
Ketika diminta untuk dipotret, dengan luwes wanita lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Parahyangan Bandung ini mengikuti arahan fotografer. Terlihat sekali pengalamannya selama lebih dari 14 tahun berkecimpung di dunia modeling yang membesarkan namanya. Olga mengaku sudah tidak terlalu aktif lagi di catwalk, tapi ia tetap senang berpose di depan kamera. Kini, waktunya justru banyak ia habiskan sebagai pemain film, sutradara, produser, sekaligus entrepreneur.
“Sebenarnya yang membuka jalan saya untuk berakting adalah femina. Tak lama setelah mengikuti Pemilihan Wajah Femina, datang tawaran casting untuk peran di film televisi berjudul Lo Fen Koei (2001),” tutur Olga.
Pengalaman pertama mengikuti casting membuat Olga deg-degan. Ia bahkan harus mengulang adegan berpuluh-puluh kali. Lelah yang dirasanya terbayar saat ia berhasil mendapatkan peran sebagai Tan San Nio, seorang wanita Tionghoa yang harus rela diperistri oleh pria yang usianya lebih tua.
Walaupun Olga tidak banyak berdialog di film pertamanya, sejak itu tawaran main sinetron dan film datang silih berganti. Peran sebagai gadis Tionghoa pun kerap ia lakoni, hingga melekat pada dirinya.
Seperti juga di film Soegija. Olga berperan sebagai wanita Tionghoa yang diculik paksa oleh tentara Jepang untuk dijadikan jugun ianfu (wanita penghibur bagi serdadu-serdadu Jepang di masa penjajahan).
“Ini salah satu naskah film terbaik yang pernah saya baca. Film ini membawa kita ke masa perang kemerdekaan dengan tema kemanusiaan yang mendalam dan universal berkat pemikiran Romo Soegijapranata,” ungkapnya.
Sempat kesulitan menyesuaikan kesibukan kerjanya dengan jadwal syuting Soegija, Olga bersyukur bisa tampil total bersama tim produksi film yang anggotanya berasal dari beragam budaya dan bangsa dan diarahkan sutradara Garin Nugroho. Harus bolak-balik Jakarta-Semarang-Yogyakarta sekalipun, ia tetap menjalaninya dengan senang hati.
Wanita penggemar film karya Tim Burton ini mengaku bahagia jika dengan berkarya ia bisa berbagi pengetahuan baru dengan penonton. “Film Indonesia saat ini miskin dengan tema perjuangan kemerdekaan. Berbeda dengan Hollywood, yang sampai sekarang masih banyak memproduksi film yang mengangkat cerita peperangan di Amerika. Dari film seperti ini kita bisa belajar sejarah dan makna sebuah peristiwa. Penting pula, saat pulang, penonton bisa mendiskusikan film tersebut dengan orang lain,” ungkap Olga.
Sebenarnya, Olga bekerja sama dengan Garin jauh sebelumnya. Persisnya, ketika Olga menyutradarai sebuah film pendek, Real Love (2008). “Saya dan film, seperti ada sesuatu yang tak berkesudahan. Mulai dari menjadi pemain, sutradara, sampai produser. Saya selalu ingin mencari lagi, dan lagi,” ungkapnya. Olga sudah dua kali menjadi produser eksekutif, yaitu untuk film Sang Pemimpi (2009) dan Negeri Lima Menara (2011).
Bagi Olga, hubungan kerja sutradara dengan aktor mirip dengan hubungan kerja antara koki dengan bahan masakan. Koki tidak mungkin bisa membuat makanan yang enak, kalau bahannya juga tidak yang terbaik. Begitu juga sebaliknya. Bahan pangan yang bagus akan menjadi masakan yang biasa saja, bila koki tak pandai mengolahnya.
“Tapi, peran koki memang lebih besar dari bahan masakan. Ia harus menyiapkan bahan hingga mengaturnya sampai siap saji,” ujar Olga. “Menjadi koki (sutradara) dengan bahan masakan (aktor), sama-sama seru, tapi beda serunya.” Meski tantangan menjadi sutradara cukup besar, Olga tak mau gampang menyerah. Setelah itu, ia menerima ajakan Marcella Zalianty untuk menggarap salah satu film pendek di film Rectoverso, yang diangkat dari kumpulan cerpen karya Dewi Lestari.
“Judulnya Curhat untuk Sahabat. Saya cukup puas dengan naskahnya. Saya bisa memasukkan unsur cerita dari pengalaman pribadi dan teman-teman. Seperti judul besarnya, Rectoverso, yaitu satu peristiwa memiliki dua sisi, film ini saya harap bisa dinikmati tak hanya oleh wanita, tapi juga pria,” ujar Olga, bersemangat.
Faunda Liswijayanti


