Health & Diet
Ngemil, Merusak Kerja Hormon

5 Nov 2015

Tahukah Anda, makanan camilan yang biasa Anda konsumsi, dapat menjadi zat stimulan - yang bila dikonsumsi secara berlebih, akan meningkatkan jumlah dopamin yang justru menurunkan kinerja, bahkan merusak reseptor dopamin.  Umumnya makanan tersebut memiliki rasa amat manis, asin, gurih, maupun berlemak. Makanan seperti ini akan mengalirkan rasa senang yang deras.

Selain sebab di atas, camilan --terutama buatan pabrik atau industri rumahan-- menurut Juniarta Alidjaja, DCN, ahli gizi dari Klinik Perisai Husada Bandung, uga berpotensi menjadikan orang kecanduan. Karena mudah didapat dengan harga terjangkau, kemasan menarik, mudah dibawa, dan disebut sebagai makanan ringan, maka memberi persepsi   seolah aman, tak membuat gemuk, dan memanjakan lidah.

Karena segala ‘kelebihannya’ itulah, Juniarta mewanti-wanti agar mewaspadai kegemaran Anda terhadap camilan. “Camilan manis dan berlemak cepat sekali meningkatkan kadar gula darah. Memberikan efek nyaman dan bahagia, tapi hanya sesaat dan tidak memberi rasa kenyang pada lambung, karena tak ada serat. Akibatnya, kita cenderung mengonsumsinya secara berlebihan,” ujar Juniarta.

Beragam penyakit pun akan membayangi Anda akibat kandungan dalam  camilan itu. Kelebihan gula membuat rawan terkena diabetes melitus tipe 2. Memakai pemanis buatan juga berisiko   sakit kepala, depresi, obesitas, pikun, dan bahaya karsinogen (zat stimulan kanker) akan menghadang.

Rasa asin yang kuat dari penambahan natrium berisiko membuat dehidrasi dan hipertensi. Sedangkan rasa gurih, yang seringnya dari penambahan MSG, dapat membuat Anda jadi mual, pusing,  juga berpotensi sebagai karsinogen.  Penguat rasa asam dan pedas cukup digemari. Pedas yang membuat Anda megap-megap  atau asam yang membuat mata sampai memicing memberi kepuasan tersendiri. Mulut bisa tahan, tapi belum tentu perut Anda. Mulas, diare, atau sakit maag bisa Anda alami.

Adapun pewarna buatan mungkin dimasukkan dalam batas normal. Tubuh sebetulnya punya mekanisme sendiri untuk menetralisasinya. “Tapi, jika konsumsi melebihi batas dan terus-menerus, maka bisa timbul alergi, seperti gatal dan ruam, sakit maag dan sakit perut hingga hiperaktivitas,” kata Juniarta. Begitu juga dengan kandungan pengawet makanan, terlebih pada produk makanan buatan pabrik tak bersertifikasi Depkes atau BPOM. Lagi-lagi, akan jadi karsinogen untuk tubuh Anda.

“Camilan yang bukan buatan sendiri mau tak mau harus diperketat konsumsinya. Karena biasanya diproses dengan cara digoreng, ditambah salut tepung, dan berbagai penguat rasa lainnya,” ujar Juniarta. Sarannya, ganti dengan camilan sehat, yaitu camilan bergizi dan kaya serat. ”Contohnya, ubi ungu kukus, kacang hijau gula palem jahe tanpa santan, singkong keju kukus, jagung rebus saus yoghurt barbecue, talas kukus, sukun goreng,  kacang oven, kacang rebus, kurma, pisang keju panggang, puding aneka buah,” ujar Juniarta.

Untuk sore hari,  Juniarta menyarankan untuk mengudap camilan yang rendah karbohidarat dan lemak, seperti yoghurt, puding buah, susu lowfat, atau aneka buah potong. “Kalori per sekali makan snack antara 200 sampai 300 kalori saja,” katanya, mencontohkan. (f)
 



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?