<< cerita sebelumnyaAGENDA KERJA 1964
Saat langkah Dayu hendak beringsut keluar dari ruang kerja ayahnya, entah kenapa, langkahnya mendadak terhenti saat matanya tertuju pada punggung sebuah buku berukuran sedang, Agenda Kerdja 1964. Letaknya di antara himpitan buku teks tentang ilmu tanah berbahasa Belanda. Maklum Bram Nataatmadja, ayahnya Dayu, menguasai sedikitnya tiga bahasa asing secara aktif: Inggris, Belanda dan tentu saja Jepang. Perlahan buku berjaket kulit imitasi berwarna merah marun diambilnya dari rak buku yang menyimpan banyak cerita ini
Semula, Dayu tidak terlalu tertarik dengan buku agenda setebal centimeter ini. Setelah membolak-balik sebentar, tadinya Dayu akan mengembalikannya ke rak buku. Tiba-tiba, ”Hup!” secarik kertas putih terjatuh ke lantai dari himpitan lembaran kertas buku tua.
Setelah diamati, ternyata secarik amplop putih bergaris merah dan biru yang warnanya mulai memudar. Masih menggamit buku di tangan kiri, jemari kanan Dayu yang tampak terawat rapi berusaha menjangkau surat di lantai.
Tidak ada yang istimewa, di bagian muka tertulis jelas ”Dear Bram di Tempat,” dengan tulisan halus miring. Seakan ditulis dengan sangat hati-hati. Entah perasaan apa yang mendorong Dayu berusaha merogoh ke dalam amplop, yang jelas isinya hanya selembar kertas yang lagi-lagi warnanya putihnya sudah memudar dan mengeluarkan aroma apak.
Isi surat terbilang singkat. Seperti ungkapan perasaan yang penuh kasmaran. Mata Dayu menelusuri seiap kata, setiap baris, dan berusaha menghayati helaan nafas sang penulis.
Bandung, 1 Juli 1965
Yang terormat,
Kang Bram
Tak terasa kita sudah hampir 2 bulan tak berjumpa. Rindu membucah dalam dada tuk bersua dengan Akang. Banyak yang hal harus disampaikan. Tapi, situasi sekarang tidak memungkinkan kita sering bertemu. Dinda khawatir dengan keadaan Akang di Subang, takut terjadi apa-apa. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu apa pun.
Jangan sampai surat ini diketahui Teh Asti, ya Kang. Hubungan kita jangan sampai tercium oleh siapa pun, termasuk Teteh Asti, istri Akang.
Kalau ada waktu, secepatnya Akang segera ke Bandung, Dinda ingin segera bertemu, ada hal yang harus disampaikan. Seperti biasa, di tempat kita sering bertemu, di Jalan Tikukur.
Perlu Akang ketahui, hatiku hanya untuk Akang seorang.
Bila kita bertemu nanti, panggil saja namaku, Arimbi.
Peluk cium,
Arimbi.
Saat membaca setiap kata di surat yang ditulis dengan huruf sambung yang indah ini, nafas Dayu seakan tercekat. Hampir sekujur tubuhnya menegang di atas kusi kerja ayahnya. Seribu satu perasaan bercampur jadi satu. Kaget, geram, sekaligus remuk redam.
Bagaimana tidak, hanya dengan selembar kertas usang ini, hatinya serasa dirajam jutaan silet. Amarahnya meradang. Seluruh pikirannya kalut. Puncaknya, seakan seluruh langit runtuh menimpanya dalam kehampaan perasaan.
Setiap kali mencoba membaca tulisan yang berderet di atas kertas berukuran A5, beribu degupan memalu jantungnya. Dayu meruntuki kebodohannya. Ia menyesal harus membuka sampul surat. Hanya dalam waktu tidak kurang dari lima menit, sikap dan perasaanya pada almarhum ayahnya yang semula dipenuhi rsa hormat sekaligus cinta tanpa tepi berubah 180 derajat.
Kini, yang tersisa adalah rasa tidak percaya yang menggumpal dalam kerongkongannya. Tiba-tiba saja kecintaannya kepada ayah, sebagai figur kepala rumah tangga yang bertanggung, suami dari seorang istri yang sangat setia mentor yang senantiasa memberikan pencerahan ilmu, sekaligus sahabat yang mau berbagi cerita di kala suka dan duka sirna dalam sekejap.
”Ayah ternyata sama saja dengan pria lain, yang tidak pernah setia kepada pasangannya.”
Dayu merutuk dalam batin. Pikiran Dayu melayang ke masa-masa indah di waktu kecil dulu, menjadi ank kesayangan ayah, hingga dewasa. Gambaran ayah kini ibarat pigura pecah berkeping-keping.
Dayu hanya mampu menarik nafas dalam-dalam. Menarik dalam-dalam kepedihan dan kekecewaan hatinya.
TIKUKUR
Dayu menginjak pedal gas mobilnya hampir sampai ke dasar. Kendaraan yang disewanya untuk seminggu itu melaju kencang di atas aspal hotmix, yang membelah pekatnya malam di perbukitan kebun teh di daerah Ciater yang berhawa sejuk. Jemarinya mencengkeram kemudi, sementara irama R&B dari cakram MP3 nyaris memenuhi seisi kabin mobil. Itulah satu-satunya cara Dayu mengusir sepi.
Kelebatan sosok hitam di kanan-kiri jalan seakan menjadi penanda betapa cepatnya mobil abu-abu metalik itu menembus kabut di seputaran kaki Gunung Tangkuban Perahu. Saat kendaraan membelok ke kiri di sebuah tikungan menanjak, jantung Dayu tiba-tiba nyaris keluar dari rongga dadanya, ketika ia harus menginjak pedal rem mendadak. Ban radial beradu dengan aspal hitam menghasilkan kepulan asap berbau sangit.
Hati Dayu merutuk. Insting Dayu mengatakan, ada sekelebatan sosok hitam menyeberangi jalan secara mendadak. Langsung saja gerak refleksnya beraksi, ketika kakinya menginjak pedal rem. Dayu kaget bukan main. Ia menyangka yang melintas adalah seseorang yang mencoba menyeberang jalan. Tahunya, seekor macan kumbang hitam yang tengah mencari mangsa di malam hari. Untunglah kendaraan tidak sampai terguling ke dalam jurang di tepi kanan jalan. Posisi kendaraan berputar menghadap kembali ke arah Subang. Bahkan, bagian depan sudah berada di tepi bibir jurang.
Lepas dari kekagetannya, Dayu bersyukur karena luput dari musibah. Macan kumbang yang nyaris mencelakainya, sempat menengokkan kepalanya ke arah kendaraan yang ditumpangi Dayu. Tak lama kemudian, hewan malam itu melangkah menuju kegelapan malam.
Setelah menghidupkan kembali mesin, Dayu memutar kembali arah kendaraan menuju Bandung. Mengikuti instingnya. Mencari tahu identitas wanita bernama Arimbi, seperti yang tercantum pada surat yang ditujukannya pada Bram Nataatmadja. Ayahnya.
Kepergian Dayu kembali ke Bandung, memang tidak bisa dihalang-halangi oleh semua orang. Bahkan oleh ibunya, yang kini harus duduk di kursi roda sejak terkena stroke setahun silam. Setelah tiga hari tinggal di rumah orang tuanya, langkah Dayu tidak bisa dikekang lagi.
”Dayu, kenapa harus buru-buru pulang? Sudah nggak sayang Ibu? Ibu kesepian, Nak, masih ingin kamu temani,” pinta ibunya. Tetapi, hati Dayu yang remuk redam bergeming dengan bujukan ibunya.
”Bukan begitu, Bu, Dayu ada urusan penting di Bandung malam ini juga. Jadi harus pamit pada Ibu,” ujarnya.
Dayu merasa sangat berat harus meninggalkan ibunya saat itu. Tetapi, kekecewaan yang membuncah dalam sanubarinya seakan menjadi tembok tebal yang nyaris tak tergoyahkan. Ia sadar harus berbohong kepada wanita yang telah melahirkannya, lebih tiga puluh tahun silam.
Sekali lagi, kekecewaan pada ayahnya, yang menjadi pangkal keputusannya meninggalkan kota yang telah membesarkannya. Terbayang ibunya yang kini sangat bergantung pada perhatian kakak sulungnya, yang kebetulan memutuskan pindah berdinas di Subang. Jadi, perawatan ibunya kini sepenuhnya dipegang oleh keluarga kakaknya yang tinggal tidak jauh dari rumah peninggalan mereka.
Sebelum melepas putri tunggalnya, ibunya mencium kedua pipi Dayu. Tak lupa membisikkan pesan di telinga.
”Nak, bila menghadapi masalah atau perlu bantuan, jangan sungkan-sungkan bicara dengan Ibu.”
Dayu menangkap gelagat kecurigaan Ibu atas sikapnya. Ku Ibu didoakeun, sing lungsur-langsar (Ibu doakan supaya dimudahkan dari segala masalah), pesan ini masih terngiang di gendang telinga Dayu, ketika melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Penulis: Hadi PM


