Celebrity
Nadine dan Dunia Tulis-Menulis

8 Nov 2011

Setelah mengeluarkan biografi, Pantaskah Aku Mengeluh: Diary of Nadine Chandrawinata, tahun 2007 silam, ternyata membuat Nadine ketagihan menekuni dunia tulis-menulis. Hobi menulisnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar ini rupanya terus ia asah dengan menuliskan jurnal perjalanannya mengelilingi berbagai tempat eksotis di dalam dan luar negeri lewat sebuah blog berbentuk diary, di nadinechandrawinata.blogdetik.com.

Kisah-kisah seru dan inspiratif, dipadu dengan tutur bahasa yang ringan dan mengalir, membuat tulisan Nadine selalu menarik untuk dibaca. Tak lupa, ia pun meluapkan perasaan demi perasaan yang dialami dengan detail pada setiap kisah perjalanan yang ditulis. Coba tengok kisahnya saat berada di ‘pelukan’ Pegunungan Arfak, Manokwari, Papua Barat.

Nadine dengan fasih bercerita tentang perjalanannya yang menegangkan terombang-ambing di atas medan yang berbatu-batu dalam jeep off road hingga sambutan hangat yang ia terima dari masyarakat pedalaman Kampung Testega yang, menurutnya, mengajarkan pelajaran hidup yang sangat berarti, yaitu berbagi. Ia pun mendeskripsikan budaya tradisional yang dimiliki masyarakat pedalaman dengan sangat indah dan lengkap. Membuat pembacanya seolah turut hadir di tengah-tengah kegembiraan yang tengah ia rasakan.

Tak mengherankan jika kemudian Nadine berencana membukukan kisah perjalanannya selama kurang lebih 3 tahun itu. “Saya ingin sekadar berbagi pengalaman suka dan duka, tantangan, dan juga kesulitan yang dialami selama menjadi backpacker,” ungkapnya. Ia berharap, siapa pun yang membaca bukunya nanti terdorong untuk ikut mencicipi keindahan dunia yang telah ia jelajahi, mulai dari Aceh hingga Papua. Juga pengalamannya berkenalan dengan aneka satwa liar dan mendaki Pegunungan Himalaya. “Di dalam buku ini saya juga membeberkan tip memilih perjalanan bagi pemula supaya tidak takut bepergian,” ujarnya, membocorkan sedikit isi buku yang kini sedang dalam proses pengeditan.

Diakui Nadine, proses menulis yang ia lalui gampang-gampang susah. Untungnya, ia selalu menuliskan poin-poin informasi dan juga perasaan yang ia alami dan tangkap lewat indra, baik di dalam blog maupun buku harian, untuk memancing ingatannya. Dari situ, ia jadi lebih mudah bercerita ulang. Bahkan, penulisan buku ini selesai hanya dalam waktu 1 bulan saja. “Saya sengaja menyediakan waktu khusus selama sebulan di rumah saja dan menulis,” tutur Nadine, yang sesekali melarikan diri ke Manado dan menulis di tepi pantai ketika mengalami kebuntuan.

Lalu, perjalanan ke mana yang paling menarik dan berkesan baginya? “Pulau Weh di Aceh!” serunya cepat. Perjalanan yang tak mudah karena ban mobil yang ia tumpangi  sempat pecah, melewati hutan tanpa penerangan sedikit pun, tertinggal kapal feri untuk menyeberang ke pulau, menginap seadanya di rumah penduduk, sampai harus berbagi tidur di kamar yang sangat sempit, harus ia lakoni. Namun, perjuangan Nadine tak sia-sia. Sesampainya di sana, ia yang kala itu baru saja mendapatkan open license menyelam, langsung jatuh hati pada alam Pulau Weh. “Ada satu sisi favorit menyelam saya, namanya The Canyon. Batunya berwarna-warni dan sangat tinggi tebingnya,” sambung Nadine, yang juga mengolaborasikan foto-foto perjalanan dan puisi di dalam bukunya nanti.

Stephanie Mamonto
 



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?