Fiction
Molek dari Tepian Sungai Musi [5]

3 Apr 2012

<< Cerita Sebelumnya

Kerikil-kerikil kecil terlempar ke dalam air. Batu-batu itu menimbulkan bunyi dan riak-riak di sekelilingnya. Seperti riak-riak perasaan Molek yang harus bertahan di tempat terdalam, tak boleh keluar. Jika bisa, sebetulnya dia ingin protes. Namun, dia hanya diam. Seumur hidup dia diajarkan untuk menerima kata-kata orang tua. Semua itu untuk menunjukkan bakti dan terima kasih karena telah dilahirkan ke dunia. Jika tak suka, simpan saja di dalam hati, karena sepenggal kata "ahâ" saja adalah dosa baginya.

"Berapa lama lagi kamu mandi? Hari sudah gelap. Untung Aisyah pulang, kalau tidak, pastilah aku mandi malam-malam"

Sebuah suara menghentikan kegiatan Molek melempar-lempar batu. Dia menoleh, melihat kakaknya berdiri di tangga teratas. Dia bergeser memberi jalan agar Denti bisa masuk ke dalam air.

"Apa yang kamu pikirkan" tanya Denti.

Molek dan Denti hanya terpaut setahun, sedari kecil mereka selalu bersama. Baginya, Denti bukan hanya saudara lebih tua, tapi juga sahabat sehati. Mereka sering bercakap-cakap dan sangat dekat satu sama lain.

Bukannya menjawab pertanyaan Denti, Molek balik bertanya, Cek, apakah Cek bahagia?

"Aku bahagia," jawab Denti, singkat.

"Betulkah?" Molek ingin menegaskan.

"Betul. Karena aku mensyukuri hidup dengan tidak meminta lebih dari yang telah kuterima, tidak bermimpi untuk mendapatkan yang tak mungkin."

Molek melempar kerikil terakhir yang ada di genggamannya. Kata-kata Denti terdengar sangat tepat dan mudah. Itulah yang seharusnya dilakukan, itulah jawaban pertanyaannya.

Dia memandangi Cek Ti menggosok kaki dengan batu apung. Kain yang dipakainya tidak menutupi tulang-tulang bahu yang bertonjolan keluar. Cek Ti sangat kurus, padahal dulu tubuhnya indah. Mungkin, karena dia sudah melahirkan dua kali dan keduanya merupakan cobaan berat. Anak pertamanya hanya bertahan dua puluh hari. Bayi itu kuning dan tidak mau menyusu. Cek Ti sangat terpukul. Dia menjadi begitu pendiam, tenggelam dalam kesedihan.

Setahun lebih sedikit anak keduanya lahir, kini berumur lima bulan, tampak gemuk, sehat, namun sebetulnya sering sakit. Menjelang magrib, bayi itu sering menangis menjerit-jerit, membuat Nyai mengunyah-ngunyah beras kunyit yang disemburkan ke bayi malang itu untuk mengusir setan pengganggu.

Molek menyepak-nyepak air dengan kakinya. Dia membayangkan Lukman, suami Cek Ti. Seharusnya, dia percaya Abah pandai memilih suami untuk anak-anaknya. Lukman tampan dari keluarga kaya dan sederajat dengan mereka. Tapi, entah mengapa, Molek melihat, sejak menikah, kakaknya tidak seperti dulu. Ada yang aneh. Entah apa yang kurang, tapi itu pasti sesuatu yang sa­ngat penting sebagai penentu kebahagiaan perkawinan. Apakah dia juga nanti sama seperti kakaknya? Tampak serasi dari luar, namun tersiksa di dalam.

Hati Molek bergejolak. Dia tak membenci Yusuf. Tapi, hatinya tak bisa menerima Yusuf sebagai suaminya. Membayangkannya saja membuat tubuhnya gemetar. Aku tak mau menikah, batinnya memberontak. Aku bukan Cek Ti yang pintar berpura-pura, padahal hanya memendam perasaan. Aku tak ingin tersia-sia, karena tak tahu untuk apa hidup di dunia ini, jika tidak untuk bahagia.

Molek menaiki tangga cepat-cepat, setengah berlari menuju rumah, menyembunyikan air mata yang mulai merebak karena putus asa. Di depan, Mbuk dan Aisyah asyik bercakap-cakap. Mereka semua lalu pergi ke pasar. Mbuk akan membeli bahan pakaian untuk baju baru Molek. Meski keluarga Yusuf belum resmi melamar, seisi rumah sudah sibuk mempersiapkan acara.

Di sebuah toko, bahan-bahan pakaian dalam aneka corak dan warna, tersusun rapi memikat mata wanita mana pun. Namun, Molek tak tertarik. Dia hanya memerhatikan Mbuk, Aisyah, dan pelayan toko memilih-milih bahan.

"Bagaimana dengan yang ini? Warna biru dihiasi keleng­kan (benang perak) di pinggirannya. Cocok sekali untuk pengantin dan warnanya biru. Bukankah kau sangat suka warna biru?"tanya Mbuk.

Molek hanya mengangguk tak tertarik. Matanya beralih memandang ke luar jendela pada orang-orang yang lalu-lalang. Sesosok bayangan melintas di depan jendela, membuat jantungnya berhenti sesaat.

"Mbuk, aku mau ke toko manisan dulu. Said minta dibelikan bonbon."Tanpa menunggu izin, Molek berjalan keluar. Dia setengah berlari memburu bayangan itu. Dia lupa pada kain batik yang membatasi langkah kakinya.

Apa yang kau lakukan? Sebuah suara bergema di kepalanya. Aku tak tahu, yang pasti aku hanya ingin bertemu dengannya. Suara lain menjawab. Lelaki yang dikejarnya berjalan sangat cepat, melintasi orang-orang yang berjalan lambat, menikmati isi toko lain yang tampak lebih cemerlang.

Molek terus mengejar, meski ada setitik kesadaran di hatinya, betapa Mbuk akan sangat marah, jika tidak menemukannya di toko manisan Baba Ahong. Dia berdoa sepenuh hati, semoga mereka masih lama di toko kain. Semoga kain-kain memikat itu bisa membingungkan Mbuk dan Aisyah.

Bayangan itu masuk ke gang kecil. Ketika Molek sampai di mulut gang, dia berhenti agak ragu. Lorong itu gelap dan Molek tidak tahu ke mana arahnya. Namun, kakinya yang tidak sejalan dengan pikiran, melangkah otomatis, bergerak sendiri ketika melihat bayangan itu nyaris tak terlihat lagi ditelan kegelapan. Setelah beberapa langkah, matanya jadi terbiasa dalam gelap, bisa melihat bahwa lorong itu terbentuk dari dinding-dinding toko.

Ketika makin dekat, dia menyadari bahwa bayangan itu jadi dua orang. Sosok satunya berbentuk siluet wanita. Mereka berdiri membelakanginya. Molek bertanya dalam hati, merasa tidak enak. Apakah dia akan mendekati dan menyapa Mang Zein? Dia bisa membayangkan reaksi lelaki itu, pastilah sangat tidak menyenangkan. Tapi, dia juga ingin tahu, apa yang dikerjakannya dalam gelap di lorong sempit busuk ini bersama seorang wanita.

Molek menempel ke dinding, memasang kuping, berusaha menangkap pembicaraan. Dia berjalan sangat perlahan, tak ingin membuat kedua orang itu menyadari kehadirannya. Kini Molek mulai bisa mendengar suara Mang Zein ditimpali suara lembut seorang wanita. Siapa wanita itu dan apa yang membuat Mang Zein harus menemuinya di tempat seperti ini?

Molek makin dekat. Dia berhenti di bagian dinding yang agak menjorok ke dalam. Di situ dia bisa mendengar lebih jelas pembicaraan mereka berdua.

"Kau tetap akan pergi? Menurutmu, di sana lebih baik?" suara Mang Zein.

"Aku tak tahu. Mungkin tak lebih baik dari di sini. Tapi, kita tak akan tahu tanpa mencoba," kata wanita itu.

"Kalau begitu kapan kau berangkat?"tanya Zein lagi.

"Minggu depan. Aku tak punya penggantiku. Kukira, tak ada yang berani melakukannya. Aku juga tak bisa bertanya pada orang, risikonya terlalu besar. Itu bisa membocorkan apa yang telah kulakukan selama ini. Jadi, kau harus mencari sendiri penggantiku."

"Aku mengerti,"kata Mang Zein.

"Ini informasi terakhir. Dua hari lagi ada pasukan yang membawa pasokan senjata baru. Rutenya betul seperti yang pernah kita bicarakan kemarin. Tapi, pasukan yang mengawal kelihatannya akan lebih banyak. Jadi, berhati-hatilah. Tolong katakan pada Adenan untuk pindah secepatnya dari rumah Ujang. Ipar Ujang itu tidak dapat dipercaya. Dia sepertinya berniat membocorkan rahasia bahwa rumah kakaknya dijadikan markas kalian. Dia senang menjilat dan sedang butuh uang untuk membayar utang berjudi."

"Baik. Terima kasih banyak." Zein tersenyum hormat. "Kami semua mengucapkan selamat jalan, semoga kau beruntung di tempat baru."

Wanita itu mengangguk, "Terima kasih kembali. Sampaikan salamku pada Adenan, katakan agar dia menjaga diri baik-baik." Wanita itu berbalik arah mendekati tempat persembunyian Molek.

Molek makin menyuruk ke dinding. Percakapan itu membuatnya memahami yang sedang terjadi. Dia tahu Mang Zein sering membantu menyembunyikan para gerilyawan, sering jadi penghubung dan penyokong dana kegiatan mereka. Perjalanannya berdagang pun tak luput dari semua ini.

Pertama kali Molek mengetahui kenyataan itu, dia cemas. Bukankah itu berarti Mang Zein pejuang? Jika ketahuan bisa ditangkap, dipenjara, atau dibuang. Tapi, Mang Zein berkata tegas, "Aku akan membantu siapa saja yang memperjuangkan kemerdekaan kita. Semua pasti ada risikonya. Untuk pekerjaan semulia itu, jika tertangkap, aku sudah siap menanggungnya."

Bau harum mengalahkan bau busuk, ketika wanita itu melintas dengan cepat. Inten! Molek menutup mulut terkejut. Molek kebingungan. Ketika menoleh, Mang Zein sudah tidak ada. Dia berlari ketakutan untuk sebuah alasan bodoh. Dia merasa ada tangan-tangan terjulur keluar dari dinding-dinding gelap, mengapai-gapai mencoba menangkapnya.

Molek berhenti mengatur napas, lega saat sampai di ujung lorong. Untung, tak ada seorang pun melihat dia. Samar-samar dia melihat Inten masuk ke rumah minum De Zon.


Penulis: Lisa Andriy


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?