<< Cerita SebelumnyaSeorang wanita tua yang disebut tunggu jero (perias pengantin) sedang memasang pacar di kuku tangan, kuku kaki, ruas-ruas jari, serta di pinggir telapak kaki Lela. Lela tidak boleh ke mana-mana sampai pacar itu kering dan meninggalkan warna cokelat gelap kemerahan di kulitnya. Dia harus berbaring di tikar agar tidak mengotori tempat tidur dan ambal (permadani).
“Apa kabar, Penganten?” tanya Molek, mendekati Lela.
Lela tersenyum malu-malu. Dia gadis manis berumur empat belas tahun. Seperti semua pengantin lain yang pernah dilihat Molek, tampak bahagia. Pakaian bagus, makanan dan minuman yang berlimpah, keramaian sanak keluarga sejak berbulan-bulan yang lalu, semuanya menyenangkan.
Calon suami Lela, Umar, menurut Molek agak bodoh beraut muka congkak seakan meremehkan orang lain. Wajahnya tak tampan, kakinya timpang, karena sakit sewaktu kecil. Namun, dari semua itu sikap Umar yang mau menang sendirilah yang membuat dia tak bisa membayangkan bahwa ada orang yang sudi menikah dengannya.
Molek memandangi saudaranya itu lekat-lekat, namun yang terlihat hanya sinar kebahagiaan yang memancar. Dia tak habis pikir mengapa Lela bersedia menjadi istri Umar. Tapi, begitulah, Lela gadis baik dan penurut. Tingkah lakunya santun tak tercela. Dia anak berbakti yang percaya orang tuanya akan memberikan yang terbaik untuknya.
Umar anak tunggal dari keluarga terpandang dan kaya raya. Pernikahan ini menguntungkan bagi keluarga Lela, yang tak menampik untuk jadi lebih kaya, meski kini sudah kaya. Hidup Lela akan terjamin. Dia akan selalu duduk di atas amben di setiap rumah yang dikunjunginya, sebagai tamu kehormatan.
Dulu, ketika mendengar tentang perjodohan ini, Molek pernah meminta pendapat Lela. Tapi, Lela tak punya komentar apa-apa tentang calon suaminya. Mungkin karena dia tak pernah memikirkannya. Atau, dia lega karena sudah bertunangan, sehingga tak akan jadi aib keluarga sebagai perawan tua. Mungkin Lela tidak pernah membayangkan apa sesungguhnya pernikahan itu, selain dari sebuah kewajiban semua perempuan untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Molek mengeluh dalam hati, kenapa ia tak bisa seperti Lela. Be-gitu sederhana dan tak berpikir macam-macam. Menjalani hidup dalam restu orang tua, bukankah akan selalu membawa selamat dan bahagia? Mengapa aku menyukai orang yang bahkan tak boleh hadir di dalam mimpi?
Lela tiba-tiba berkata, “Cek Molek menyusul, ya.”
Molek tersenyum. “Doakan saja.”
Aisyah menjawil kakaknya. “Ayo, ke belakang. Masih banyak yang harus dibantu. Sebentar lagi akan bersaji makan malam.”
Molek melihat saudara-saudaranya sibuk menyiapkan makan malam. Piring-piring berisi lauk-pauk dan sayuran berjajar panjang siap disajikan. Semua bekerja sambil bercanda, namun tetap tampak cekatan, karena ibu-ibu sedang menilai gadis-gadis itu untuk dipertimbangkan sebagai menantu.
Di sudut lain, Mbuk, Nyai, dan beberapa wanita yang lebih tua duduk berkumpul beristirahat setelah seharian memasak. Ada yang bermain cuki (seperti catur), ada yang hanya bercakap-cakap, sambil menyirih. Di depan mereka ada tepak (kotak perlengkapan menyirih) yang terbuka. Juga ada peridon kuningan yang sudah digosok mengilat. Kasihan sekali nasib peridon itu, pikir Molek. Indah, tapi hanya dijadikan tempat meludah.
“Molek, siapa yang menjaga rumah?” kata Mbuk, heran.
“Rumah kukunci, Mbuk. Kuncinya dititip ke Ujuk,” Molek menerangkan, sambil menyalami yang lain. Dari semua yang disalaminya, ada satu yang langsung membuat suasana hatinya tak enak. Dia duduk di samping Nyai.
“Kemarilah, Molek,” kata Bicik Esa, istri Mang Zein.
Molek tak bisa menolak.
“Bajumu bagus sekali,” puji Bicik Esa.
Nyai menepuk bahu Esa dan berkata, “Gadis kami ini pandai menjahit. Semua bajunya dibuat sendiri. Tisikan tangannya halus dan rapi, serapi jahitan mesin.” Nyai menarik lengan baju Molek untuk diperlihatkan pada Esa.
Kebaya itu memang salah satu baju Molek yang bagus, dari bahan paris biru muda dengan sulaman bunga-bunga kecil di seluruh permukaan. Lengannya agak melebar, berbentuk lonceng, berpinggiran renda sewarna baju.
Molek menghabiskan waktu lama dan sangat berhati-hati waktu menjahitnya. Dia sangat menyukai bahan paris itu. Terlebih lagi karena pemberian Mang Zein, sehingga jadi sangat istimewa. Dengan batik biru kehitaman motif kerak mutung yang menonjolkan keindahan kebaya itu, seharusnya memang tak ada yang bisa dikeluhkan.
“Selain pandai menjahit, masakannya pun sedap sekali. Aku sendiri yang mengajari. Jadi, kau tahulah, semua jenis masakan dia pasti bisa,” lanjut Nyai, membusungkan dada, membanggakan diri. “Dia juga tak pernah menyusahkan orang tua. Tutur bahasanya lembut, tingkah lakunya sopan. Bagaimana menurutmu, bukankah dia manis? Umurnya pun cukup untuk menjadi istri.”
Molek menunduk, meremas jemari. Dia telah mendengar hal yang sama dari mulut Nyai secara sembunyi-sembunyi, sejak beberapa tahun lalu. Dulu dia malu karena Nyai membuatnya tampak seperti barang dagangan, ditawarkan ke sana-sini, tapi tak laku juga. Tapi, hari ini perasaan malunya berlipat-lipat, karena ia mendengar dan melihat sendiri Nyai menjajakan dagangannya.
“Ah, Wak (bibi) ini, aku kan kenal si Molek dari kecil. Tak perlu dikatakan lagi, aku sudah tahu semua. Kita ini keluarga dekat.”
“Iya, tapi jangan cuma dekat. Cobalah lebih dekat lagi. Alangkah senangnya kalau kita besanan.”
Molek bergerak gelisah. Nyai sudah keterlaluan, dia telah merendahkan harga dirinya. Jika tak melihat dirinya ditolak, dia tak peduli. Tapi, kalau begini, saat itu juga dia mau memberikan apa saja agar ada yang mengajukan lamaran sehingga bisa ditolaknya (hanya dalam mimpi, karena Nyai akan menyetujui lelaki mana pun yang datang melamar, asalkan masih bernapas) untuk menunjukkan pada perempuan itu bahwa dia bukannya tak laku.
Molek makin gelisah, tak tahan ingin keluar dari daerah jual-beli ini untuk bergabung dengan gadis lain. Dengan begitu dia bisa keluar-masuk ruangan membawa makanan dan melihat Mang Zein.
Penulis: Lisa Andriy


