Membuat para murid paham pada sebuah pelajaran memang menjadi tugas guru di sekolah. Tapi, tentunya bantuan orang tua juga dibutuhkan. Paling tidak, membantu anak mempelajari lagi materi yang sudah diajarkan, tetapi belum dikuasai.
“Dulu waktu masih mengajar SD, saya senang sekali kalau ada orangtua yang datang dan berdiskusi tentang perkembangan anaknya, karena membantu pekerjaan saya sebagai guru. Apalagi kalau sebelumnya para orang tua sudah menjalin hubungan baik dengan guru,” ungkap Andri. Caranya, jangan datang menemui guru saat ada keluhan saja. Di hari-hari pertama masuk kelas baru, Anda sebaiknya menjelaskan bagaimana anak Anda kepada wali kelas. Sifat, perilaku, hingga kesukaan anaknya. Jadi guru tak akan terkaget-kaget jika harus menghadapi anak Anda yang terlalu aktif, misalnya.
Kebetulan di sekolah Andri, pihak sekolah selalu membangun komunikasi yang baik dengan orang tua murid. “Setiap awal semester, kami mengirimkan dokumen semacam silabus kepada orang tua yang menjelaskan, pelajaran apa yang akan anak-anak terima di semester tersebut. Jadi, para orangtua sudah tahu, nanti anak-anaknya akan belajar apa,” kata Andri lagi.
Harus diakui, kesibukan orang tua serta pelajaran yang makin sulit, membuat banyak orang tua menyerah. Bahkan menghubungi gurunya saja tidak sempat. Pada akhirnya memilih mengikutkan anak les di luar jam sekolah atau memanggil guru les privat ke rumah, sekalian untuk membantu menyelesaikan PR anak.
Mengenai hal ini, Ella berpendapat, “Boleh saja ikut les atau memanggil guru privat. Namun, bukan berarti orang tua bisa lepas tangan. Orang tua tetap harus memantau sampai di mana pelajaran dan pemahaman mereka. Karena, bisa saja anak kelihatannya sudah rajin belajar atau les, padahal ia masih kesulitan. Inilah saat orang tua berdiskusi dengan guru dan mencari solusinya,” kata Ella.
Selain itu, keberadaan guru les juga memiliki kelemahan. Misalnya, ketika mereka memiliki metode pengajaran yang berbeda dengan guru di sekolah, akibatnya malah bisa membuat anak bingung. “Orang tua harus jeli melihat masalah dan mencari solusinya,” jelas Ella.
Kalau mencari yang ideal, memang seharusnya institusi sekolah ramah perkembangan anak, hingga tumbuh kembangnya seimbang, baik dari aspek kognitif, sosial, maupun emosional. Sayangnya, sekolah semacam itu tidak banyak.Kenyataannya, mayoritas sekolah masih menekankan cara belajar satu arah yaitu dari guru ke murid. Anak jarang diberi kesempatan mempraktikkan pengetahuan yang ia dapatkan.
Dan, perilaku yang cenderung berbeda di kelas, seperti ngobrol, jalan-jalan, dianggap kesalahan, sehingga anak dihukum. Membuat anak dengan karakter yang berbeda, sulit untuk menangkap pelajaran.
Selain itu, masih ada mindset (baik guru maupun orangtua) bahwa belajar adalah aktivitas duduk di meja belajar, membaca buku pelajaran, atau mengerjakan soal. Padahal aktivitas belajar bisa berupa apa saja.
Supaya orang tua tidak ikut-ikutan membebani anaknya, hingga ujung-ujungnya anak kekurangan waktu bermain dan terlalu fokus pada prestasi akademis, orang tua
harus bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan di rumah. Belajar tidak harus berarti hanya pada saat ada PR atau ulangan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan membawa materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari anak. Di pelajaran IPA dan IPS. Banyak yang sebetulnya relevan dengan keadaan sekarang dan (harusnya) menjadi bagian dari kegiatan anak sehari-hari di rumah. Mulai dari cara merawat diri, lingkungannya, hingga cara bersikap kepada orang yang lebih tua. Kalau orang tuanya tidak mencontohkan, dan tidak membantu mendorong kemandirian anak dan mendekatkan anak pada lingkungan sekitar, sulit rasanya anak memahami pelajaran sekolah. Akibatnya, pelajaran hanya sekadar teori.
Andri member saran, sebagai orangtua, bisa membantu belajar anak dengan cara yang lebih kreatif, yakni mengulik inti dari pelajaran tersebut. Misalnya, saat belajar science, Anda bisa bercerita tentang mengapa bisa terjadi bencana, penemuan IPTEK yang terbaru, ataupun lainnya, sesuai dengan topik yang dipelajari.
Dalam mengajar anak, apa pun metodenya, yang perlu dihindari, orang tua sebaiknya jangan merasa menjadi yang paling tahu dan selalu benar. Yang penting, orang tua aktif bertanya kepada anak mengenai pengalamannya di sekolah, bagaimana ia menerima pelajaran, apakah ia mengerti atau tidak, dan apa yang ia butuhkan untuk mendukung pelajarannya. “Dengan begitu, anak yakin, orang tuanya memang perhatian dan berusaha membantunya,” tambah Ella.(ARGARINI DEVI)


