Adik satu-satunya tinggal di luar negeri sejak dua tahun lalu. Ia kini menjalin kasih dengan pria asing yang berbeda keyakinan. Hubungan mereka serius, dan kekasihnya ingin meminang adik. Adik memohon pada Anda untuk meyakinkan Ibu agar Ibu mau menerima kekasihnya. Ayah sudah meninggal dunia. Bagaimana sebaiknya harus bersikap? Menurut Irma Makarim, tiap orang, keluarga atau masyarakat mempunyai pandangan berbeda tentang keyakinannya dan keyakinan orang lain. Bagi yang menganggap keyakinan ini sebagai identitas diri maupun keluarganya, mungkin akan lebih sulit menerima kehadiran keyakinan yang berbeda. Biasanya, mereka beranggapan bahwa hanya keyakinannyalah yang benar, di luar itu semua salah. Tetapi, banyak juga keluarga dengan pandangan lebih terbuka, bisa menerima dan hidup rukun bersama orang yang mempunyai keyakinan berbeda. Dengan mengetahui pandangan ibu Anda mengenai hal ini, akan membantu Anda dan adik dalam melakukan pendekatan.
Pasangan yang berbeda keyakinan, biasanya belum merasakan adanya kendala selama masa pacaran, apalagi bila tinggal di luar negeri. Di negera kita biasanya kendala baru mulai bermunculan ketika mereka memutuskan untuk menikah. Selain datang dari keluarga, pihak negara juga tidak mendukung pernikahan beda agama. Bila adik sudah yakin akan menikah dengan kekasihnya itu, sebaiknya kendala ini diselesaikan dulu. Adik Anda bukan hanya perlu meyakinkan ibu Anda untuk menerima kekasihnya yang berbeda agama, tetapi juga memikirkan jalan keluar agar perkawinan ini sah secara hukum.
Kalau Anda melihat banyak kebaikan dalam hubungan adik dengan kekasihnya, tentu tak ada salahnya membantu melancarkan jalan. Mungkin adik melihat Anda punya pandangan terbuka dan berpotensi untuk berbicara dengan Ibu mengenai hal ini, sehingga minta bantuan Anda. Tentu akan lebih baik bila adik dan kekasihnya langsung datang membawa kabar ini pada Ibu. Pepatah yang mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang, kelihatannya mengandung kebenaran. Adik perlu melakukan pendekatan dengan membawa dan memperkenalkan kekasihnya kepada beliau. Sikap dan penyesuaian kekasih dalam keluarga Anda, sangat berperan dalam pendekatan dan membuka hati dan pandangan Ibu.
Sedangkan menurut Monty Satiadarma, bagi sebagian orang, perbedaan keyakinan agama tidak menjadi masalah, namun bagi sebagian lain hal ini merupakan masalah mendasar. Alangkah lebih bijaksana jika adik Anda sendiri yang berbicara mengenai masalah ini kepada ibu Anda, bukan Anda. Bukankah ia yang berniat membina rumah tangga, dan bukankah ia, dengan segala kedewasaannya, telah memiliki pertimbangan sendiri akan pilihan hidupnya. Anda perlu menyampaikan kepada adik, bukan Anda tak ingin menjadi ‘penyambung lidahnya’, namun Anda memercayai dirinya sebagai individu dewasa yang memiliki jalan hidup atas pilihannya, dan ia pulalah yang harus bertanggung jawab atas segala pilihannya.
Jika Anda gagal ‘membujuk’ Ibu, Anda yang disalahkan adik. Jika Anda berhasil membujuk Ibu dan kelak ada masalah dalam hidup adik (walau tentu tidak diharapkan), Anda yang akan disalahkan oleh Ibu. Jadi, lebih baik tidak mengambil alih keputusan tindakan hidup seseorang, karena masing-masing individu memiliki tanggung jawab atas diri dan keputusan hidup masing-masing.




