Health & Diet
Metode Berbasis Interaksi untuk Anak Autistik

10 Nov 2015

Metode yang cukup baru untuk anak autistik di Indonesia, salah satunya disebut floortime. Pendekatan yang digunakan disebut developmental individual differences (DIR). Metode ini dikembangkan oleh Dr. Stanley Greenspan, MD, psikiater asal Amerika Serikat.
Dalam metode floortime, fokusnya ada pada anak dengan cara memperkuat interaksi dengan anak. Langkah yang dilakukan terapis/orang tua mengikuti ide si anak guna mengetahui apa minat anak sebagai pintu bagi kita untuk masuk ke ‘dunianya’. Ini merupakan dasar penting agar nantinya anak dapat menjalin interaksi dengan kita dengan menggunakan efek kita (ekspresi wajah, suara).

Mengikuti ide anak adalah hal yang penting. Karena, ketika interaksi dimulai dari minat anak yang muncul dari dalam diri anak, pengaruhnya akan berbeda dibandingkan bila kita yang mengarahkan (directive) anak. ”Kalau anaknya sudah tune-in dengan kita, jatuh cinta pada kita, dan tertarik pada kita, baru kita beri tantangan (challenging) untuk menarik kemampuan anak ataupun membawanya pada level kemampuan yang lebih tinggi lagi,” jelas Feka.
   
Untuk membuat seorang anak tune-in bukan perkara gampang dan tidak boleh dipaksakan sama sekali. Interaksi yang diharapkan adalah interaksi yang menyenangkan dan playful. Feka menjelaskan, dalam metode floortime ada enam tahapan kapasitas perkembangan yang bersifat dinamis dan merupakan tahapan seumur hidup. Metode ini dapat diterapkan pada siapa pun, mulai dari anak hingga dewasa (typical maupun berkebutuhan khusus).

Tahapan ini dikenal dengan istilah FEDC (functional emotional development capacities), yang dimulai dengan tahap regulation and interest in the world. Pada anak pada umumnya, tahap ini dimulai secara alami sejak bayi, sementara pada anak autistik kurang terbentuk dengan sempurna.

Mereka mengalami kesulitan dalam mengelola input sensasi yang diterima oleh indra sehingga menghalangi mereka untuk bisa fokus dan tenang. Diharapkan ketika anak dapat fokus dan tenang, terapis atau orang tua ’menanti’ anak menerima kehadiran mereka (engaging) dan tune-in, yang ditandai dengan kontak mata dan kilauan di mata mereka.

Tahapan ini, disebut Dr. Greenspan, sebagai tahapan ‘jatuh cinta’. Karena, interaksi yang diharapkan terjadi muncul dari dalam diri anak pada saat anak ‘jatuh cinta’ dengan kita adalah mereka tune-in dan berkoneksi terus dengan kita, bukan dengan mainan yang berputar ataupun gadget.  

Tahap selanjutnya, anak diharapkan mulai membuka siklus komunikasi yang bermakna (baik secara verbal maupun bahasa tubuh) kepada terapis atau orang tua. Di tahap ini anak diharapkan mau mencoba menyampaikan maksud mereka. Selanjutnya, komunikasi meningkat menjadi komunikasi dua arah (back-forth communication and problem solving), di mana anak mencoba mengomunikasikan kesulitannya kepada orang lain.

Setelah itu, anak diharapkan memunculkan lebih banyak idenya dan mulai terlihat dalam pretend play (symbolic thinking). Pada akhirnya, ia akan mampu menghubungkan ide-idenya dengan mempertimbangkan logika dari  tiap tindakan (building bridges-logical thinking).

Pada individu yang lebih dewasa, metode ini kemudian berlanjut dengan mengembangkan kemampuan berpikir lebih kompleks dengan melihat dari sudut pandang yang berbeda (multiple thinking), melihat segala sesuatu lebih luas, tidak hanya hitam-putih atau benar-salah (grey area), dan melakukan refleksi dari apa yang ia lihat dan lakukan (reflective thinking).

Untuk hasil terbaik, menurut Feka, metode ini harus dilakukan sedini mungkin dan  dilakukan oleh orang tua dan lingkungan di rumah. Yang terpenting dari intervensi DIR/floortime adalah proses yang terjadi antara anak dengan orang tua dan melihat mikro momen dari perubahan dan progres yang terjadi pada anak dan orang tua. (f)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?