“Pernikahan adalah komitmen eksklusif yang sakral, bukan usaha coba-coba,” ungkap Elly Nagasaputra, M.K., Personal & Marriage Counselor dari www.konselingkeluarga.com. Sayangnya, saat ini banyak sekali pasangan muda yang kurang sabar dalam berproses. Bisa jadi hal ini merupakan efek bawaan dari budaya serba instan. Sehingga, cepat sekali orang mengambil kesimpulan bahwa hambarnya hubungan dengan pasangan ini disebabkan oleh absennya cinta. Padahal, cinta itu sendiri tidak muncul begitu saja, tapi perlu diupayakan. Menurut Elly, sampai tahun tertentu dalam perkawinan, cinta sulit didefinisikan. Seiring bertambahnya usia pernikahan, Anda mungkin tak lagi merasakan desiran atau debaran jantung saat menerima telepon dari pasangan, atau saat bergandengan tangan dengannya. Periode ‘cinta gila’ atau romantic love itu bukannya hilang, tapi telah tumbuh menjadi cinta yang matang.
Ketika cinta sulit didefinisikan, maka respek berfungsi sebagai takaran cinta Anda terhadap pasangan. Sebab, respek mudah dilihat, diukur, dan dievaluasi. “Jadi, ketika cinta itu seolah memudar, respek yang Anda miliki terhadap pasangan sejak awal hubungan, akan menjaga rumah tangga Anda tetap berada di jalurnya,” papar Elly.
Lagi-lagi, respek tidak datang dengan sendirinya. Anda harus mengusahakannya melalui karakter, tanggung jawab, dan integritas Anda sebagai seorang pribadi. Selama kita masih respek kepada suami, maka tidak mungkin seorang istri berteriak-teriak kepada sang suami. Sebaliknya, ketika suami masih respek kepada istri, maka ia akan memperlakukannya dengan baik dan sopan.
“Memelihara intimasi juga menjadi hal yang vital dalam kehidupan pernikahan,” lanjut Elly. Untuk menjadi intim melibatkan aktivitas yang memungkinkan kedekatan fisik bersama pasangan. Apakah itu berjalan bergandengan tangan, nonton film, makan malam berdua, atau melakukan pillow talk.
Naomi Jayalaksana


