Setelah menikah, hampir semua pasangan bercita-cita menjadi orang tua yang baik. Untungnya, banyak orang tua masa kini sadar bahwa untuk menjadi orang tua, kita perlu berbagai persiapan, bahkan sejak sebelum mengandung. ”Para calon orang tua harus membekali diri dengan berbagai hal, mulai dari pengetahuan dasar mengenai pemenuhan kebutuhan si bayi, bagaimana peran orang tua kepada anak, juga kepada pasangan masing-masing,” ujar Efriyani Djuwita, M.Si., psikolog anak dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
”Penting juga calon orang tua membekali diri dengan pengetahuan soal tumbuh kembang anak,” ujar Dr.dr. Hindra Irawan Satari, spesialis anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Dengan mengetahui dan memahami perkembangan fisik, mental, dan emosional anak, orang tua bisa melakukan tindakan yang tepat pada anak, termasuk bisa menemukan kelainan, seperti pertumbuhan tubuh dan perkembangan kecerdasan, sehingga lebih cepat ditangani oleh dokter anak.
Meski banyak calon orang tua merasa clueless, menurut Efriyani, sebenarnya secara tidak sadar sejak kecil mereka sudah belajar mengenai hal ini lewat pengalaman menjadi anak, yaitu dari melihat bagaimana orang tua kita atau orang tua orang lain mengasuh. Namun, makin ke sini orang tua makin melek dengan pentingnya pengetahuan mengenai parenting. Oleh karena itu, mereka menyerbu pengetahuan mengenai parenting dari banyak sumber. ”Hal ini saya rasa positif,” ujar Efriyani.
Nydia Tantra (29), ibu rumah tangga, salah satu yang mengandalkan nasihat orang tua dalam hal ilmu parenting. ”Maklum, karena saat ini saya masih tinggal serumah dengan orang tua, cara saya membesarkan Christian, anak saya yang kini berusia 5 tahun, tak lepas dari perhatian mereka. Tak hanya dari orang tua sendiri, mertua saya juga terbilang cukup aktif memberikan masukan kepada saya dalam hal merawat dan membesarkan Christian,” ujar Nydia. Meski percaya pada orang tua dan mertua, tak semua nasihat mereka ia ikuti. Nasihat yang cocok, ia ambil. Nasihat yang terbilang tidak masuk akal, cukup dijadikan perbandingan saja.
Lain lagi dengan Ruth Ninajanty (29), seorang website content officer. Baginya, zaman sekarang, menanyakan ilmu parenting kepada orang tua saja tidak cukup. ”Pengaruh anak-anak di era sekarang dengan dulu berbeda. Saya dan ibu saya memiliki gaya pengasuhan yang tidak sama. Saya lebih cuek, beliau lebih detail dan konservatif seperti harus makan sendiri. Apalagi zaman sekarang, begitu banyak pengaruh dari luar. Orang tua zaman dulu tentunya tak perlu ribet harus mengamankan ponsel, gadget, internet, maupun tayangan televisi,” ujar Ruth. Pengaruh tersebut menuntut orang tua zaman sekarang harus lebih sigap dan tanggap dalam menjaga anak-anaknya agar terhindar dari pengaruh negatif dari luar.
Mariska Sebayang (29) yang berprofesi sebagai jurnalis, merasa ilmu dari ibu dan mertuanya ada yang cocok, tapi ada juga yang dirasakan kurang cocok. Untuk hal-hal yang masuk akal, ia ikuti. Misalnya, ibunya selalu ribet dengan urusan ‘masuk angin’. Pokoknya, kalau ke luar rumah, ke mal yang ber-AC, cuaca gerimis, dan cuaca agak sejuk, maunya anak dipakaikan jaket atau kardigan.
“Yang banyak saya tiru adalah ilmu mendisiplinkan anak ala bapak saya. Bapak tegas dan keras dalam memberlakukan time out atau istilah Bapak dulu, setrap. Ini saya terapkan pada Kayla, anak saya, walaupun hanya kalau Kayla sudah keterlaluan. Itu pun kadar kerasnya saya turunkan sedikit,” ujarnya.
Namun, ada juga yang ia rasa ‘perlu’ diperbaiki. “Yaitu soal menyiapkan makanan sehat dan bergizi, serta soal komunikasi yang efektif. Ibu dan bapak saya cenderung tidak bicara panjang lebar dan tidak ekspresif. Untuk memperbaikinya, saya harus mencari tahu lebih banyak info dari luar,” ujar Mariska.
Sama dengan soal susu formula, Dewa Ayu tidak mau mengikuti cara orang tuanya yang sedikit-sedikit memberikan antibiotik kepada anak seperti saat ia sakit dulu. Ia memberikan penjelasan secara baik-baik agar orang tuanya memahami tindakannya. Dalam hal ini dr. Hindra setuju.
Zaman dulu orang tua sering terburu-buru membawa anak yang dilihat kurang sehat ke dokter atau mengobati sendiri dengan obat yang belum tentu tepat. Anda sebetulnya bisa mengusahakan dahulu perawatan sendiri di rumah dengan menggunakan info buku atau situs yang dibuat oleh organisasi kedokteran atau institusi pendidikan kesehatan. ”Apabila masalah kesehatan diatasi sendiri dan ternyata hasil yang didapat tidak sesuai harapan, maka itu saatnya harus mencari pertolongan dokter,“ ujar dr. Hindra.
Yoseptin Pratiwi
Foto: Getty Image


