Menurut dr. Dafsah Arifa Juzar, SpJP dari Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, penyakit-penyakit degeneratif disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain genetis, usia, ras, dan gaya hidup yang tidak sehat. Faktor genetis, usia, dan ras tidak bisa kita kendalikan, namun gaya hidup ada di tangan Anda.
Satu fakta yang patut disadari, penelitian yang dilakukan National Institutes of Health, Amerika Serikat, menemukan bahwa 15% dari pengidap diabetes tipe 2 (diabetes yang tidak diderita sejak lahir) bukanlah mereka yang kelebihan berat badan. Para ahli kesehatan memang setuju bahwa kelebihan berat badan dan obesitas membuat risiko seseorang terkena penyakit degeneratif meningkat. Tapi, berat badan hanya salah satu faktor risiko.
Kolesterol, sebagai salah satu indikasi Anda memiliki risiko penyakit degeneratif, tidak selalu berbanding lurus dengan bobot tubuh seseorang. Kadar kolesterol orang kurus bisa sama dengan kadar kolesterol orang yang bertubuh gemuk. “Hal ini disebabkan oleh metabolisme asupan kolesterol jenuh tidak bekerja dengan baik,” ujar dr. Dafsah. Dengan kata lain, berat tubuh seseorang tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan tinggi rendahnya kadar kolesterol.
Kadar kolesterol dapat menurun pada anggota keluarga. Oleh karena itu, kadar kolesterol yang melebihi rata-rata juga dapat dialami oleh orang kurus yang membawa genetis kolesterol tinggi. Selain faktor genetis, kadar kolesterol dalam darah dapat dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi. Makanan yang dimaksud adalah makanan yang mengandung lemak jenuh seperti mentega dan biskuit. Minum kopi berlebihan, kurang berolahraga, dan merokok merupakan faktor lain penyebab tingginya kolesterol.
Orang langsing juga tak sepenuhnya aman dari risiko stroke (tersumbat atau pecahnya pembuluh darah yang mengakibatkan gangguan asupan makanan ke otak). Ini karena orang langsing juga tak lepas dari risiko tekanan darah tinggi (hipertensi) penyebab stroke.
Menurut dr. Dasfah, beberapa hal yang menjadi faktor meningkatnya tekanan darah adalah zat kimia dalam rokok yang merusak dinding pembuluh darah sehingga ruang dan sirkulasi pembuluh darah menyempit, konsumsi garam berlebihan, yang membuat darah menjadi kental dan dinding pembuluh darah menebal, serta konsumsi minuman beralkohol, yang meningkatkan tekanan darah secara tidak beraturan dan membuat jantung bekerja lebih berat.
Satu hal yang tak boleh dilupakan juga adalah faktor stes. “Stres meningkatkan adrenalin yang membuat tekanan darah meningkat. Stres yang terjadi tiap hari dan berkepanjangan mengakibatkan beban kerja jantung berat sehingga irama jantung jadi tidak beraturan. Semua itu bisa menyebabkan stroke,” jelas dr. Dafsah.
“Orang-orang yang secara genetis kurus, memiliki kecenderungan untuk menyimpan lemak pada daerah perut, sekitar jantung dan hati. Kelompok ini yang justru lebih berisiko untuk mengalami serangan jantung,” ujar dr. Dafsah. Kondisi ini kerap disebut TOFI (thin outside fat inside) atau VAT (visceral adipose tissue).
Kecenderungan yang membuat orang langsing lebih berisiko adalah asumsi bahwa kalau langsing pasti sehat. Ini menyebabkan --dibandingkan mereka yang kelebihan berat badan dan obesitas-- orang yang langsing dan susah gemuk sering kali merasa tidak merasa perlu untuk menjaga makanan dan berolahraga.
Itu sebabnya, orang-orang yang langsing, seperti Dewi, dianjurkan oleh dokter untuk diet. Bukan mengurangi asupan kalori agar lebih ramping, tapi memilih makanan yang bergizi seimbang serta menghindari junkfood dan makanan yang terlalu manis. Perlu diketahui, risiko penyakit degeneratif terjadi karena terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi, gemar mengonsumsi makanan dan minuman instan, jarang mengonsumsi makanan berserat, konsumsi karbohidrat yang berlebihan, dan kurang aktivitas fisik seperti olahraga.(DESIYUSMAN M, NURI FAJRIATI)


