Sebagian dari jenis-jenis kelainan darah di bawah ini mungkin sudah tak asing di telinga. Namun, tahukah Anda, sejauh mana kondisi-kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan wanita? Ahli hematologi-onkologi dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo/Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Ronald Hukom, memaparkannya lebih jauh.Anemia
Anemia termasuk kelainan darah yang paling sering dialami wanita usia produktif. Penyebabnya antara lain, perdarahan yang banyak saat mengalami menstruasi (menorrhagia), pola makan yang kurang seimbang sehingga tidak cukup zat besi dan vitamin, hingga penyakit kronis yang memengaruhi produksi darah di sumsum tulang belakang. Wanita hamil dengan anemia memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai komplikasi selama kehamilan.
Dalam kondisi anemia, kadar hemoglobin (Hb), yaitu protein yang mengandung zat besi dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, berada di bawah normal. Pada umumnya, tanda-tanda anemia antara lain tubuh menjadi lemas dan cepat lelah, mudah sesak napas, kepala pusing, dan jantung berdebar-debar karena harus bekerja lebih berat untuk mengimbangi kadar Hb yang rendah. Jika tidak ditangani, kondisi anemia yang sudah berat bisa berakibat gagal jantung.
Hemofilia
Penyakit kelainan darah genetis yang menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan penyembuhan luka karena darah yang sulit membeku. Penderita hemofilia juga berisiko mengalami perdarahan dalam, khususnya di persendian seperti lutut, siku, dan pergelangan kaki, yang bisa merusak jaringan dan organ tubuh.
Sebagian besar kasus hemofilia merupakan penyakit bawaan, namun 30% kasus terjadi akibat mutasi genetis spontan. Karena belum ada obatnya, penderita hemofilia sampai sekarang baru dapat ditangani dengan suntikan faktor pembekuan darah tertentu yang diberikan secara rutin seumur hidup.
Ada beberapa jenis hemofilia, tergantung pada jenis faktor pembeku darah yang tidak cukup dimiliki oleh penderitanya. Hemofilia A, jenis yang paling umum, diakibatkan oleh kurangnya faktor pembeku darah, yaitu faktor VIII. Ada pula hemofilia B, yang diakibatkan oleh kurangnya faktor IX. Gen yang menyebabkan hemofilia A dan B terdapat di kromosom X, dan diwariskan oleh wanita pembawa sifat (carrier) hemofilia kepada anak laki-lakinya.
Sementara itu, hemofilia C, yang diakibatkan oleh kurangnya faktor XI, tidak dipengaruhi oleh gen dalam kromosom X. “Hemofilia jenis ini dapat terjadi baik pada pria maupun wanita, namun lebih umum ditemukan pada orang Yahudi keturunan Ashkenazi,” jelas dr. Ronald.
Wanita pembawa sifat hemofilia umumnya tidak mengalami tanda-tanda hemofilia, namun mungkin mengalami gejala-gejala perdarahan apabila faktor VIII atau IX dalam tubuh mereka relatif tidak mencukupi. Adapun wanita dengan hemofilia C dapat mengalami menorrhagia dan perdarahan berkepanjangan setelah melahirkan.
Leukemia
Dikenal pula dengan istilah kanker darah, leukemia berawal dari sel darah putih yang abnormal. Leukemia lebih banyak menyerang pria daripada wanita, dan lebih umum ditemukan pada ras kulit putih. Beberapa faktor risiko leukemia termasuk faktor lingkungan, kontak dengan radiasi atau bahan kimia, infeksi virus, maupun kondisi genetis tertentu.
Gejala-gejala leukemia bervariasi, tergantung tipe yang diderita. Beberapa yang umum termasuk demam, tubuh terus-menerus mudah lelah, mengalami infeksi yang sering atau parah, kelenjar getah bening membengkak, mudah mengalami memar atau perdarahan (termasuk mimisan), mengeluarkan keringat berlebihan, dan rasa nyeri di tulang.
Leukemia dapat terdeteksi lewat pemeriksaan fisik, misalnya dilihat dari rona kulit yang pucat layaknya penderita anemia atau pembengkakan kelenjar getah bening, hati, dan limpa, tes darah, dan tes sumsum tulang belakang.
Ada berbagai jenis leukemia, sehingga pengobatan penyakit ini bisa menjadi cukup kompleks. Berdasarkan kecepatan berkembangnya, leukemia terbagi atas leukemia akut, yang lebih cepat memburuk dan membutuhkan penanganan segera, dan leukemia kronis yang berkembang lebih lambat dan bisa tak segera terdiagnosis karena hampir tak ada gejala awal.
Adapun, berdasarkan jenis sel darah putih yang terkena kanker, ada dua jenis leukemia, yaitu leukemia limfositik dan mielositik. Leukemia limfositik menyerang jaringan getah bening yang membentuk sistem kekebalan tubuh, sedangkan leukemia mielositik memengaruhi sel-sel mieloid di sumsum tulang belakang, yang berperan memproduksi sel-sel darah.
(Puji Maharani)


