Merancang interior apartemen dengan layout ruangan yang tidak simetris merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana mengatur tata letak interior agar ruangan tersebut berfungsi maksimal dan tidak ada sudut yang terbuang.
Seperti unit apartemen ini, yang memiliki tiga kamar tidur dengan kondisi dinding serong dan banyak tekukan, menimbulkan beberapa konsekuensi dalam penempatan perabotan. Sudut perabotan akan lebih menonjol, membuat ruangan terasa ‘penuh’ dan mengganggu sirkulasi ruangan. Sementara dinding serong itu tidak bisa dibongkar karena merupakan bagian dinding utama yang memisahkan antar-kamar tidur.
Bagian ruang duduk yang terletak dekat jendela dan pintu ke arah balkon dirancang dengan konsep fleksibilitas living room. Maksudnya, ruang duduk ini lebih menekankan pada pemanfaatan built-in furniture di sepanjang dindingnya yang berhadapan. Satu bagian dinding dirancang untuk built-in kabinet televisi dan rak buku untuk menampung koleksi buku, pernak-pernik, dan mainan anak.
Dinding di depannya untuk menempatkan satu sofa yang bentuknya simpel agar masih ada ruang di bagian tengahnya. Ruang tengah ini tidak diletakkan meja kopi, melainkan hanya digelar karpet untuk duduk lesehan atau ruang bermain anak. Sebagai pengganti meja kopi, diletakkan meja sisi di samping sofa.
Di unit ini area dapur dan ruang makan cukup terbatas sehingga tidak memungkinkan untuk meletakkan satu set meja dan kursi makan model konvensional. Apalagi ada penambahan pada dinding kamar service yang berbatasan dengan ruang makan sehingga perlu trik merancang meja dan kursi makan.
Maka, dibuatlah bangku built-in lengkap dengan ruang penyimpan di dalamnya sebagai kursi makan. Lebih mirip sebuah tempat duduk ala banquet di kitchenette (dapur mungil). Meja makan dirancang dan dibuat khusus dengan finishing natural bergaya semiklasik. Meja makan ini sebagai aksen menarik di antara banyaknya furniture built-in warna putih.
Dapur mungil dirancang ulang dalam bentuk L tanpa menghabiskan banyak ruang. Kabinet L itu juga dilengkapi meja gantung kecil yang menempel ke dinding sebagai meja persiapan. Antara area dapur dan meja makan berdekatan dengan area service yang juga sekaligus kamar pembantu. Maka, harus ada pemisah fisik agar lalu-lalang orang di area service tidak mengganggu kegiatan di ruang makan, yaitu dengan memasang bilah-bilah kayu yang dipasang vertikal.
Kamar-kamar tidur anak tampil senatural mungkin dengan model tempat tidur sorong (atas-bawah) diletakkan menempel ke dinding dekat jendela agar selalu mendapatkan cahaya alami. Meja belajar dan rak buku dirancang menggantung untuk menghemat ruangan dan menyiasati agar tidak terlalu memenuhi ruangan karena adanya dinding serong tersebut. Letak lemari baju memanfaatkan lebar dinding yang menekuk dekat pintu masuk.
Kamar tidur utama juga tetap ada ruang kerja pribadi yang memanfaatkan dinding serong untuk meletakkan meja gantung dan rak buku serta untuk menggantung televisi. Ruang di bawah jendela dimanfaatkan untuk tempat duduk berupa bangku panjang dengan tempat simpan built-in.
Pemilik memang membutuhkan ruang simpan yang cukup banyak untuk menampung buku, tas, sepatu, dan aksesori yang mereka bawa dari tempat tinggal sebelumnya. Maka, selain bangku dengan tempat simpan, juga banyak dibuat lemari dan rak di sepanjang dinding.
Jangan lupa:
• Tempatkan sofa dan perabotan lain merapat ke dinding agar ruang gerak tetap leluasa.
• Letakkan tempat tidur merapat ke jendela jika kamar cukup sempit.
• Minimalkan memakai meja lepasan. Perbanyak meja gantung yang dipaku ke dinding untuk menghemat ruangan.
• Untuk mengimbangi ukuran ruangan yang tidak simetris, coba letakkan karpet persegi panjang di antara furniture atau depan sofa.
• Pasang tirai dengan motif kain dengan pola berulang. Jika senang suasana ruang yang stabil dan tenang. pilih warna kain tirai yang senada dengan warna furniture atau warna dinding. Jika menginginkan suasana yang dinamis dan energik, pilih warna kain tirai yang kontras dengan warna ruang atau perabotan.(f)




