Fiction
Menapak Jejak di Siberut [2]

25 Sep 2015


<<<<<< Cerita sebelumnya


Bagian 2
Kisah sebelumnya:
Martha yang asal Medan diam-diam pergi ke Mentawai untuk mengunjungi tantenya, Mindo, yang menjadi aktivis sosial di sana. Tanpa alamat yang jelas, ia berangkat dengan kapal dan mendarat di Siberut. Di sana ia dijemput oleh Yunus, salah satu kolega Mindo. Kepergian itu membuat Martha dicari-cari oleh kekasihnya di Medan, dan kedua orang tuanya.
    

“Mak, sekarang posisi Mamak ada di mana? Di ruang tamu atau…?” suaraku nyaris berbisik.
“Kenapa dengan suaramu? Sinyalnya buruk, ya, di sana? Mamak ada di rumah, dengan bapakmu!”
“Martha mau tanya sesuatu. Tolong HP-nya tidak pakai speaker, Mak!”
“Apa? Kok, tidak jelas suaranya? Ini Bintatar mau bicara dulu samamu.”
Mamak pasti tidak bisa menangkap isyarat dalam nada bicaraku. Tiba-tiba saja pemilik suara di seberang sana sudah berganti.
“Halo, Martha…!” Suara berat lelaki itu laksana gemuruh di dadaku.
Aku menekan tombol merah di ponsel, memutus percakapan. Aku tidak siap mendengar apa pun dari mulutnya.
 “Apa kata Mamak?” Tante Mindo muncul dari dapur dengan sebuah teko yang mengepul dan dua gelas kosong. Saat ia menuangkan minuman ke gelas, aku tahu ia sedang membuat teh manis dengan air perasan jeruk nipis. Aromanya menyegarkan dan membangkitkan selera.
Kuceritakan dengan ringkas.
“Mungkin kalau mereka tahu kamu mau ke sini, mereka akan berusaha menghalangimu sejak awal!” gumamnya.
Aku mengiyakan.

Ada sekat terselubung yang terbangun antara Mamak dan Tante Mindo. Tepatnya, antara Tante Mindo dengan semua keluarga besarnya. Mereka tidak menyetujui jalan hidup yang dipilihnya. Ompung –kakek dan nenek–  menguliahkannya ke Jawa, berharap setelah itu ia akan meniti karier cemerlang yang membanggakan, lalu menikah dengan pemuda Batak yang mengharumkan nama keluarga, serta membesarkan anak-anak. Mereka ingin Tante Mindo menjalani hidup yang biasa saja, tidak seperti sekarang dengan hidupnya yang terasing, jauh dari keluarga, dan melajang di usia nyaris empat puluh.

“Apakah mereka masih sering membahas ‘itu’?” Tante menatapku dengan mimik yang tak bisa kutafsirkan.
“Hanya sekali-sekali, Tan!” desahku.
“Dan mereka sebisa mungkin memperkecil akses di antara kita, takut kamu akan mengikuti jejak Tante dan menjalani kehidupan yang aneh menurut mereka, begitu, ‘kan?”
Dengan tersenyum pahit, kuanggukkan kepala. Itu bukan rahasia lagi. Beberapa kali mereka mengungkapkannya dengan terus terang, karena pilihan hidup Tante Mindo adalah sebuah anomali, melenceng dari garis hidup yang telah dilalui para pendahulunya.
“Itu risiko pilihan, Mar!” Tante mengembuskan napas berat. “Panggilan jiwa. Sesuatu yang membuatmu menyadari bahwa Tuhan menempatkanmu ke dunia untuk melakukan itu. Ibarat potongan puzzle, kita tidak akan berarti bila diletakkan di tempat yang tidak seharusnya. Dan inilah tempat Tante. Tante bahagia menjalaninya, karena di sini, Tante menjadi berguna bagi banyak orang, sekalipun yang kami lakukan itu sebenarnya masih sangat kecil.” Senyumnya mengembang, namun butiran kristal bening menggantung di kedua kelopak matanya.
“Ada bagian-bagian yang Tuhan telah tetapkan dalam hidup kita, dan kita tidak bisa mengubahnya. Misalnya, kita terlahir sebagai perempuan dari keluarga Batak. Namun banyak hal yang merupakan pilihan ketika kita menjalani hidup. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya kita memilih jalan yang lain. Namun, ketika kita sudah memilih, jalanilah dengan ikhlas. Tante sudah belajar untuk tidak berusaha menyenangkan semua orang, karena itu adalah sesuatu yang mustahil. Kita tidak mungkin bisa mengendalikan pikiran orang lain tentang kita. Yang penting, lakukanlah sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita!” tegasnya.
Aku mengangguk perlahan, berusaha memahami petuahnya, sambil menyeruput teh jeruk nipis buatannya.
“Martha kenal beliau, ‘kan?” tunjuknya pada sebuah gambar seorang perempuan tua yang tampak bersahaja dalam balutan sari putih dengan garis tepi biru, terbingkai indah dalam ukuran besar di dinding ruang tamu. Bunda Teresa. Ibu bagi orang-orang papa di Kalkuta, India. Sosok itu pastilah salah satu inspirasi Tante Mindo.
Lagi-lagi aku mengangguk.
“Seandainya beliau adalah putri Batak, semua pencapaian kemanusiaan yang diraihnya itu akan seolah tak berarti sama sekali, hanya karena ia tidak menikah. Boleh saja ia meninggal dan seluruh dunia berkabung. Tapi, di kalangan sukunya sendiri, kematiannya akan dianggap sebagai matinya seorang kanak-kanak. Tidak ada acara besar. Tidak ada pesta adat. Yang ada hanyalah kematian seorang yang belum sempurna menjalani hidup sebagai manusia. India boleh menyebutnya Ibu. Dunia boleh memberinya Nobel. Tapi, orang Batak hanya akan melihat kesendiriannya, dan menganggapnya sebagai aib.”
Seperti digodam rasanya mendengar pengakuan itu. Aku makin kelu. Penentangan-penentangan yang dilakukan seluruh keluarga besar terhadap Tante Mindo berkelebatan laksana film yang diputar cepat. Cibiran. Pandangan sebelah mata. Tuntutan bakti pada keluarga. Seolah-olah apa yang sedang dilakukannya tak ada artinya. Sia-sia belaka. Bahwa banyak yang sudah diinvestasikan untuk hidupnya, namun dianggap tak mau membalas budi.

Aku ingat betul, Tante Mindo terakhir pulang empat tahun lalu ketika ibunya,  ompung-ku, sedang sekarat. Ia menjagainya beberapa hari di rumah sakit hingga akhirnya meninggal. Aku membolos kuliah selama beberapa hari demi melihatnya untuk terakhir kali.
Lalu para raja adat berdiskusi sengit untuk memutuskan upacara pengebumian Ompung. Nama Tante Mindo disebut-sebut terkait dengan status lajangnya. Dari segi umur, ia seharusnya sudah menikah, sehingga Ompung dapat menyandang status saur matua, yaitu semua anak-anaknya telah menikah. Namun, karena masih ada yang belum menikah, Ompung hanya dapat menyandang status sari matua, yaitu meninggal dengan masih meninggalkan anak yang harus ditanggungnya. Status itu lebih rendah satu level dengan saur matua, yang adalah status tertinggi bagi orang tua Batak yang meninggal. Perbedaan status ini memengaruhi wibawa orang tua serta tata cara adat yang akan diberlakukan dalam ritual pengebumian.

Malam itu, Mamak berusaha mengajak Tante Mindo ke dapur hingga pembicaraan para tetua adat itu berakhir. Ia khawatir kalau Tante Mindo tidak bisa menahan diri dan melakukan tindakan yang dapat memperkeruh suasana. Namun, Tante Mindo menolak. Ia tetap bertahan di sana, memperhatikan para tetua memperbincangkan dirinya seolah sedang membicarakan orang lain yang sama sekali tidak ada kaitan dengannya. “Aku tahu diri, Kak. Aku tak mungkin melakukan tindakan yang mempermalukan keluarga. Apalagi, ini kan untuk pengebumian Mamak!” gumamnya. Saat itu, semua orang diam-diam mencuri pandang pada Tante Mindo dengan nada mengasihani, seolah-olah ia adalah wanita paling malang sedunia, karena dari miliaran laki-laki, tak ada satu pun yang hendak mempersuntingnya sebagai istri.

Itu adalah malam yang tak dapat kulupakan. Menegangkan dan kaku. Seolah seluruh ketenangan menguap dan pergi dari bubungan jabu gorga –rumah berukir– milik Ompung. Namun, aku makin mengagumi ketenangan Tante Mindo, sekalipun aku tahu banyak hal sedang berkecamuk dalam benaknya.

***

Tok tok tok….
Ketukan itu membuatku bergegas membuka  daun pintu.
Yunus berdiri di sana.
“Anailoita, Martha!” Suaranya ramah, dihias senyum manis memikat di wajahnya. Aku tergeragap, tak siap membalas percakapan, mungkin karena aku segera teringat masih berutang maaf padanya. Aku hanya bisa berkata, “Hai… silakan masuk!”
“Tadi saya sudah ada janji dengan Ibu Mindo. Beliau ada di rumah, ‘kan?”
Aku mengangguk, lalu mempersilakannya duduk di kursi ruang tamu.
“Hei Yunus, Anailoita!”
Syukurlah Tante Mindo segera muncul, sehingga aku tidak perlu salah tingkah lebih lama.
“Tolong buatkan kopi, ya Mar!” katanya, menyelamatkanku. Aku beranjak ke dapur membuatkan minuman dan membiarkan mereka berbincang. Sepertinya ada hal yang sangat serius yang mereka diskusikan.
 Tante menelepon beberapa orang, kadang-kadang memakai bahasa yang tak kumengerti. Tentu saja itu bahasa Mentawai. Aku jadi ingin tahu siapa sebenarnya Yunus itu, dan apa kaitannya dengan Tante Mindo.
“Silakan diminum!” ujarku, sambil menyodorkan segelas kopi panas ke hadapannya. Ia berterima kasih dan seperti biasa, senyumnya terkembang.
“Ibu pernah bilang kalau Martha akan di sini selama dua minggu. Bagaimana kalau kita minta tolong ia menjadi relawan di sana selama seminggu atau sepuluh hari? Siapa tahu ia bersedia?” Ucapannya membuatku yang baru saja duduk mengernyitkan kening, tak tahu topik bahasan sama sekali.
Aku memandang Tante Mindo, meminta penjelasan.
“Ide menarik juga, tuh!” Tante Mindo tersenyum ke arahku. “Begini, Mar. Ada seorang staf lapangan kita sedang sakit, jadi ia harus dibawa ke Padang untuk dirawat. Maklumlah, layanan puskesmas di sini tidak bisa diharapkan, paling-paling dokter hanya datang berkunjung dua atau tiga kali setahun,” keluhnya.
Itu layanan kesehatan terburuk yang pernah kudengar.

“Dia menjadi guru di sekolah yang kita rintis, sekaligus mengawasi operasional pos baca yang kita dirikan. Kalau terlalu lama mereka libur menunggu ada guru atau relawan baru, nanti anak-anak itu bisa menjadi malas ke sekolah lagi. Memang daerahnya sangat terbelakang dibandingkan di Siberut sini, tapi itu bisa menjadi petualangan yang menantang juga untukmu. Kamu tak perlu menjawabnya sekarang, pikirkanlah dulu malam ini. Nanti Tante juga bisa kasih lebih banyak informasi, kok. Pertimbangkanlah dulu, ya?” Tante Mindo tidak memberiku kesempatan berargumen.

“Nanti tolong saya dikabari segera setelah ada keputusan, ya, Bu?” ujar Yunus kepada Tante Mindo. “Tapi saya berharap Martha menyanggupinya. Jarang-jarang, lho, orang kota punya kesempatan seperti ini. Lagi pula, sepanjang catatan sejarah, orang Mentawai tidak pernah menjadi kanibal, kok, tidak memakan orang, jadi tak perlu cemas,” godanya.
Kurasa wajahku bersemu merah karena tak tahu harus berkata apa. Untunglah Tante Mindo kembali mengajaknya berbicara, mendiskusikan beberapa topik berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang akan mereka lakukan, membuatku menyimpulkan bahwa Yunus juga bekerja di lembaga yang sama dengan Tante Mindo. Diam-diam kuamati dia.
Sepertinya ia selalu tersenyum, seolah-olah itu dibawanya sejak lahir. Matanya agak sipit, dengan warna kulit agak kekuningan. Rambut hitamnya dipangkas cepak. Giginya rapi. Ia menyeruput kopinya perlahan sambil memejamkan mata, seolah ia sangat menikmatinya, lalu mengusap bibirnya untuk memastikan tidak ada ampas kopi yang tertinggal di kumis tipisnya. Sikapnya santai dan suka bercanda. Tante Mindo kadang-kadang sampai terbahak dibuatnya.

Sepertinya ia sangat pandai memperlakukan wanita. Pikiran itu tiba-tiba mengingatkanku pada Bintatar, namun segera kuenyahkan.
Ketika ia pamit, segera kucecar Tante Mindo dengan segudang pertanyaan mengenai pemuda itu.
“Kok, sepertinya kamu tertarik sekali pada dia?” godanya. “Yunus itu pemuda yang sangat baik, Tante sudah menganggapnya adik sendiri. Dia bekerja di kantor kecamatan, pegawai negeri. Dulu dia kuliah jurusan antropologi, satu almamater dengan Tante. Dia banyak membantu kami berurusan dengan pemerintah daerah, sehingga mereka lebih mudah mengerti program-program kami. Kadang-kadang ia juga terlibat dalam beberapa kegiatan kita sebagai tokoh pemuda di sini. Dia pemuda cerdas yang mencintai tanah kelahirannya,” papar Tante panjang lebar. “Dia masih single, lho?” imbuhnya.
Kurasa informasi itu sudah lebih dari cukup. Awalnya aku bahkan mengiranya tukang ojek langganan Tante Mindo, namun aku tidak yakin melihat penampilannya yang rapi  dan mengesankan sebagai seorang yang berpendidikan.
“Kembali ke topik tadi, bagaimana menurutmu?”
“Hmm?”
“Tentang menjadi relawan itu. Tante pikir, karena kamu sudah masuk ke dunia yang baru, mengapa tidak sekalian saja menjadi bagian dari dunia baru itu, bukan hanya jadi penonton? Jadi yang baru itu bukan hanya dari segi daerahnya, tapi juga kesibukannya. Kamu pun bisa merasa bosan kalau hanya mengikuti Tante sepanjang hari. Setidaknya, pikiranmu teralihkan dari masalah yang sedang kamu hadapi. Dengan membuka diri kepada dunia lain, banyak kemungkinan yang bisa terjadi, bahkan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya,” nasihatnya.
 “Tapi Martha enggak punya bayangan mau melakukan apa di sana, Tan! Nanti malah bikin kacau…,” kataku, menghela napas berat.
“Jangan pesimistis dulu. Nanti kamu bisa belajar di lapangan. Yang perlu dilakukan hanya mendorong agar anak-anak itu punya daya juang untuk belajar, punya mimpi, dan bersemangat untuk meraihnya. Mereka perlu tahu bahwa ada dunia mahaluas dengan berbagai kesempatan menanti mereka, yang bahkan dengan kejam dapat menggilas mereka jika tidak dapat menghadapinya dengan bijak. Mereka itu tinggal di pedalaman, tidak ada akses dengan buku atau sumber ilmu. Sekolah terdekat berjarak belasan kilometer dan harus ditempuh dengan bersampan menyusuri sungai dan menyeberangi laut. Jadi kami membuka sekolah untuk anak-anak setingkat sekolah dasar. Semacam kelas jauh, begitu,” jelasnya.
Sepertinya menantang.
“Bagaimana?”
“Menurut Tante, apakah aku bisa?” tanyaku setelah hening sejenak.
“Pertanyaannya sebaiknya diganti menjadi ‘Apakah aku mau?’’ Karena, siapa saja bisa melakukan sesuatu di sana, asalkan mereka mau. Masalahnya, tidak banyak yang mau. Kalau kamu mau, kamu pasti bisa,” kata  Tante Mindo meyakinkanku dengan senyumnya. Aku balas tersenyum.
“Tante simpulkan, kamu bersedia, bukan?”
Anggukanku membuat wajahnya bersinar.

***

Kurasa, aku telah salah mengambil keputusan. Memang Tante Mindo telah menceritakan banyak hal tentang rute yang hendak kutempuh dan gambaran umum penduduk lokal yang akan kutemui nanti. Ketika mendengarnya, aku diliputi fantasi seolah hendak bertualang ke negeri ajaib. Semangatku terpompa menyadari bahwa aku pun bisa menjadi pahlawan. Namun, belum satu jam mencemplungkan diri ke dalam keputusan nekat ini, aku sudah mulai berpikir untuk menyerah. Terlalu banyak kejutan yang membuatku serasa mau mati berdiri.

Tante Mindo hanya mengantarkanku ke sebuah dermaga kecil berair keruh. Di sana, Yunus sudah menungguku. Aku sudah diberi tahu bahwa Yunus akan mengoordinasi sebuah program kesehatan dengan pemuka desa yang hendak kutuju, penyuluhan tentang sanitasi dan hidup sehat, serta pengobatan gratis yang akan dilakukan bekerja sama dengan salah satu LSM. Jadi, Yunus akan turun ke lapangan untuk memantau persiapan desa untuk program tersebut.

Ketika pertama kali melihat pompong, sebatang kayu panjang yang telah dibentuk menjadi sampan, aku berteriak, “Apa? Kita akan naik ini?” Pikiranku langsung kalut, membayangkan aku sedang menyabung nyawa dengan sia-sia ke tempat ini. Tapi, Yunus bersikap seolah tidak terjadi sesuatu, begitu juga pengemudi sampan itu. Mereka memegangi tanganku. Pompong bergoyang hebat ketika aku menaikinya. Aku tak bisa bicara selama beberapa saat.

“Ada pelampung, ‘kan?” tanyaku penuh harap. Namun, gelengan kepala Yunus seolah menghentikan detak jantungku, sekalipun ia menggoyangkan kepalanya sambil tersenyum. Saatnya bersiap untuk mati.
Yunus berusaha menenangkanku dengan mengisahkan banyak cerita ketika pompong mulai bergerak menyusuri aliran sungai lebar yang berwarna kecokelatan. “Terjadi banjir di hulu sungai. Kalau tidak, airnya akan cukup jernih. Dan ini adalah satu berkat bagi kita,” katanya tersenyum, yang kurasakan seolah ia meledekku dan menakut-nakutiku. “Banjir akan menolong kita berkendara di sungai dengan lancar. Kayu-kayu bisa menghalangi jalan kita. Bahkan di bagian sungai yang dangkal, kita terpaksa harus turun ke sungai yang berlumpur dan menyeret pompong dengan susah payah!” terangnya. Baru kupahami maksudnya, sepertinya ia seorang pemuda yang tulus.

Aku masih kehilangan kemampuan bicara saat tangan Yunus menunjuk beberapa murai biru terbang melintasi sungai serta segerombol burung bangau yang sedang mencari ikan dengan bertengger di reranting pohon yang menjulur ke sungai. Sangat indah dan alami, seperti seiris surga yang belum tersentuh tangan-tangan para perusak. Namun, pada sebuah kelokan sungai, ketika tangannya mengarah pada seekor biawak besar yang sedang berjemur di segunduk tanah kering di tepi sungai, aku terbeliak. Biawak itu pun tak kalah terkejutnya, segera berbalik cepat ke rerimbun perdu begitu melihat kami. Aku bergidik. Kalau saja aku tidak sedang dipenjara dalam pompong kecil ini, mungkin aku sudah melompat sejauh mungkin.

“Tak usah takut!” Yunus tersenyum lebar. “Dia punya alasan untuk lebih takut pada kita. Dia pasti tidak mau memberikan kulitnya untuk dijadikan gajeumak, gendang Mentawai!” kali ini tawanya makin lebar, membuatku sedikit relaks.
Makin lama, aku merasa makin terbiasa. Suara bising mesin pompong mulai berirama di telingaku. Dengan perlahan, kuselonjorkan kaki yang mulai terasa kebas. Aku diperingatkan tidak boleh membuat gerakan tiba-tiba, tidak boleh asal mengubah posisi duduk, karena itu akan dapat mengganggu keseimbangan. Artinya, perahu kecil ini bisa terbalik dan kami akan berada dalam masalah besar.
Yunus menunjuk pada beberapa monyet aneh yang bergelantungan di rerimbun mangrove yang lebat. “Itu simakobu, monyet ekor babi!” jelasnya. Monyet-monyet dengan ekor seperti ekor babi itu segera berlompatan menjauh mendengar deru mesin pompong. Bagi mereka, kehadiran kami adalah suatu gangguan.
Sesekali kami berpapasan dengan warga yang mendayung perahu lesungnya yang ramping. Pemilik pompong kami menyapanya dengan ramah, dengan bahasa yang tak kumengerti. Lalu Yunus memberi tahuku bahwa mereka baru pulang dari ladang mereka, dengan membawa berbagai hasil bumi seperti nilam, kayu bakar, rotan, dan sagu.
Entah sudah berapa lama kami meluncur, kulihat sungai besar ini bercabang menjadi dua. Kami mengambil jalur kanan. Yunus memberi tahuku, namanya Sungai Silaoinan. Sedangkan cabang sungai yang di sebelah kiri bernama Sungai Sarereket. Di tepian sungai, kulihat beberapa bangunan yang asing berdiri. Peradaban tradisional Mentawai tersuguh di depan mata.

“Itu yang dinamakan uma!”  tunjuk Yunus. Lalu ia berkisah tentang rumah tradisional Mentawai itu. Bangunan beratap daun sagu dan berdinding kulit kayu itu adalah sebuah rumah panggung luas, lengkap dengan teras. Kayu-kayu bakau pilihan menopangnya dengan kokoh. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan yang ditempati beberapa keluarga dari garis keturunan laki-laki. Kata Yunus, struktur sosial uma bersifat egalitarian, artinya semua anggota dewasa memiliki hak yang sama, kecuali sikerei,  ahli pengobatan tradisional dan pemimpin beragam upacara adat dan keagamaan.
“Tidak ada lagi generasi baru yang membangun uma. Mereka memilih membangun rumah modern yang lebih praktis. Bahkan di seluruh Kepulauan Mentawai ini, hanya di Pulau Siberut inilah kita masih bisa melihat uma. Pulau Pagai dan Sipora tidak punya uma lagi!” katanya dengan nada prihatin. “Padahal, uma bagi kami bukan hanya sekadar tempat untuk tinggal. Uma adalah pusat kebudayaan kami. Itulah jantung jati diri kami. Jadi bisa kamu bayangkan, orang-orang Mentawai tanpa uma sebenarnya telah menjadi orang lain,” suaranya terdengar getir di antara riuh deru mesin pompong.
Pak Satoko, pemilik pompong, menepikan pompong.
“Kita sudah sampai!” Yunus tersenyum. Ia lebih dulu turun dari perahu, lalu membantuku turun. Tanpa menggenggam erat tangannya, kurasa perahu kecil ini bisa terbalik dengan mudah karena ketidakmampuanku menjaga keseimbangan. Setidaknya, aku bersyukur satu episode perjalanan ini sudah berakhir.
“Anailoita...!” seru Yunus, sambil berjalan menuju sebuah uma. Aku mengikutinya menaiki sebuah tangga kayu yang terbuat dari sebatang kayu bulat yang dibentuk sedemikian rupa dengan parang, lalu dibaringkan dengan kemiringan yang tepat dari tanah menuju teras lebar uma. Di pintu masuk kami disambut dengan beberapa tengkorak babi, monyet, dan burung yang digantung menjadi semacam hiasan, membuatku justru merasa bergidik.(f)





************
Hembang Tambun
Pemenang III Sayembara Mengarang Cerber Femina 2015





 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?