<< cerita sebelumnya “Nanti kamu sendiri yang bosan kalau tak ada kegiatan.Seharian di rumah itu malah bisa bikin kamu uring-uringan. Coba pikirmasak-masak dulu, deh, entar menyesal,” saran Togi. Lagi-lagi Jojor hanyamengangguk sambil bersandar di bahu bidang suaminya.
Sejak hari ia menambatkan hatinya pada pria yang sekarang sudah menjadisuaminya itu, Jojor tahu, ia memiliki tanggung jawab berat. Togi adalah anaktunggal. Anak semata wayang yang mendapat limpahan kasih sayang keluarganyatanpa membuatnya menjadi seorang lelaki yang manja. Ia mengenalnya di tahunketiga kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kotanya. Mereka berbedajurusan. Pertemuan yang tak terencana di sebuah simposium kampuslah yangmenjembatani hubungan mereka.
“Boleh saya tebak kenapa namamu Jojor?” kata pemuda keren itu sambil tersenyum,tanpa melepas jabatan tangannya.
“Silakan,” jawabnya. Bibirnya berhias senyum.
“Pasti kakak-kakaknya semua perempuan!” tebaknya, jitu.
Senyum Jojor melebar mengiyakan. Semua orang yang ngerti bahasa Batak pastibisa memakluminya. Jojor merupakan kata dalam bahasa Batak yang artinya‘berderet’ atau ‘berurutan’. Nggak jauh beda dengan kata ‘berbaris’. Nama itumenjadi nama yang netral dan umum dipakai di kalangan Batak, baik untuk lelakimaupun perempuan.
“Memangnya berapa kakak kamu?”
“Empat,” sahutnya, sambil mengacungkan jari tangan kanannya, kecuali jempol.“Dan satu adik... perempuan juga!”
“Waw… pasti menyenangkan kalau punya keluarga besar. Kenapa tidak minta satuadik perempuan lagi biar menjadi tujuh bidadari seperti cerita dongeng?”
“Lalu kamu mau menjadi pemuda yang mencuri selendang salah satu dari kami,begitu?” sambungnya, cerdas.
“Nggak usah dicuri, diminta saja kan gampang!” jawabnya, sambil tertawa.“Lagian, mana mungkin gadis kuliahan seperti kamu masih suka mandi bareng disungai?” godanya.
Jojor menatapnya tersenyum.
“Memangnya kamu nggak pengin nanya kenapa aku bernama Togi?”
“Karena orang tuamu memberimu nama itu!” Jojor membuatnya geregetan.
“Maksud saya, kenapa orang tua saya memberiku nama itu?” jelasnya.
“Ya, harusnya kamu nanyanya ke orang tuamu, dong, bukan ke aku!”
“Dasar...,” Togi menjadi gemas.
“Makanya ceritain saja kalau memang ada sejarahnya!”
“Nggak ingin nebak?”
Jojor menggeleng. Bibirnya tetap berhias senyum.
“Karena aku anak paling besar!” jelasnya. Jojor mengerti sekarang. Togi jugamerupakan kata dalam bahasa Batak yang artinya ‘mengajak’, dengan demikiandiharapkan kelahirannya akan mengajak keturunan lain hadir dalam keluarganya.
“Berapa bersaudara?” tanya Jojor.
“Satu.”
“Anak tunggal?”
“Ya, sekaligus menjadi anak bungsu!” Togi tertawa. Jojor juga.
“Waw… kasihan, dong,” tukas Jojor.
“Kasihan kenapa?”
“Tidak ada kawan main, nggak bisa jitak kepala adik, nggak bisa merengek mintagendong sama kakak, dan… terancam punah!” Entah bagaimana kata-kata mengerikanitu meluncur dari bibirnya. Namun, pria muda di hadapannya hanya tersenyum.
Sebuah perkenalan yang aneh.
Dan, itu terjadi sembilan tahun lalu.
Rupanya, perkenalan yang aneh itu berbuah cinta. Hubungan itu berlanjut hinggamereka tamat kuliah. Bahkan, ketika Jojor diterima bekerja di bagian pemasaransebuah produk kosmetik kenamaan dan Togi bekerja di sebuah perusahaan Jepangyang baru buka cabang di Indonesia, hubungan mereka tetap berjalan. Hingga disuatu sore, sepulang Jojor bekerja, ia mendapati Togi sedang menunggu di terasrumah kontrakannya.
“Orang tuaku sudah mendesakku lagi untuk menikah,” katanya, setelah cukup lamangobrol ngalor-ngidul.
“Kan dari kemarin-kemarin juga sudah,” sahut Jojor.
“Tetapi, kali ini beda,” tukasnya. “Mamak sampai datang ke sini dari kampungdan membawa beberapa foto anak gadis orang. Apa maksudnya coba?” Togi sepertiprotes.
“Pasti gadisnya cantik-cantik, ‘kan?” goda Jojor.
“Jor… kali ini tolong serius dikitlah!” suara Togi memelas.
“Oke, sori!” Jojor mengiyakan.
“Saya ingin kita menikah akhir tahun ini!”
Jojor mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Ia masih saja terkejut dengan apayang didengarnya, padahal ini bukan kali pertama Togi meminta ia menikahdengannya. Ia selalu beralasan, dirinya belum siap terikat dalam sebuahpernikahan. Ia masih ingin fokus pada kariernya yang cukup menjanjikan. Tetapi,kali ini ia berada dalam posisi sulit. Ditinjau dari adat ketimurannya, umurnyasudah sangat cocok untuk menikah. Dua puluh lima tahun. Bahkan, di beberapasuku –yang sebagian orang dengan teganya memberi cap ‘kolot’– ia sudah dianggapperawan tua. Dan Togi, lelaki dua puluh tujuh tahun yang sedang ada dihadapannya saat ini, sedang meminta kepastian darinya. Keduanya sudah sama-samamapan dan saling mencintai, apa lagi?
“Apakah itu pilihan terbaik?” tanya Jojor.
“Mungkin kamu ada usul lain?” Togi balik bertanya.
Hening sesaat.
“Mungkin memang sudah saatnya kita harus menikah,” suara Jojor mendesah.“Apalagi karena kamu anak tunggal, jadi saya bisa mengerti alasan orang tuamu.”
“Jadi kamu setuju?”
Jojor tersenyum. Lalu mengangguk.
“Terima kasih, Tuhan!” Togi memekik girang. Lalu ia bangkit dari duduknya danmenyalami Jojor kuat-kuat, seolah ia baru saja membuat deal hebat danmemenangkan sebuah tender proyek besar. “Kalau begitu, dalam tiga bulan inikita harus mempersiapkan semuanya,” lanjutnya. Saat itu langit senja Septembersedang memerah saga, memancarkan siluet indah di tengah lebat pepohonan betonkota metropolitan.
“Makasih, ya, Hasian,” katanya.
Jojor juga tersenyum. Ia juga sama bahagianya. Hanya, cara mengekspresikankebahagiaan itu berbeda. Siapa yang tidak berbahagia bisa bersanding denganTogi, pemuda tampan pujaan hati yang penuh perhatian dan sudah mapan itu?
“Sekarang kita ke rumahku, yuk!” ajak Togi, tiba-tiba.
“Ngapain?” Jojor bingung.
“Mamak masih di rumah. Ia pasti senang melihat calon menantu.”
“Ah… jangan sekarang, Bang! Masa saya menghadap calon mertua dengan pakaiankerja begini? Lagi pula, saya belum mandi. Nanti saya dikira perempuan ‘manja’,mandi jarang,” elak Jojor.
“Kalau begitu, silakan mandi dan berkemas. Saya akan menunggu. Setengah jamcukup?”
“Empat puluh lima menit!”
“Deal!”
Pertemuan pertamanya dengan wanita yang akan menjadimertuanya itu terbilang cukup unik. Saat Togi mengenalkannya kepada ibunya,wanita itu mengamati wajahnya lama, seolah ia makhluk asing yang berasal dariplanet lain. Sejenak Jojor terpaku, seperti patung-patung pajangan di etalasetoko-toko busana.
“Kenapa, Mak?” tanya Togi, ikut bingung.
“Kau bilang sama Mamak bahwa calon istrimuboru–wanita–Batak!” gumamnya, dalam bahasa Batak tulen, sambil menatap tajampada anaknya.
“Saya boru Manurung, Inang!” kilah Jojor, dengan bahasa Batak yang fasih.
“Kau…? Kau…?” wanita itu tak bisa melanjutkan kalimat yang tertahan ditenggorokannya saking terkejutnya.
“Kenapa, Mak? Nggak nyangka ada wanita Batak secantik dia?” goda Togi, membuatranum muka Jojor.
Ibunya belum bisa bersuara.
“Nanti Mamak bisa didemo semua wanita Batak, karena secaratidak langsung sudah memvonis bahwa wanita Batak itu tidak ada yang cantik!”guyon Togi berlanjut.
“Ah, Abang ini ada-ada saja!” Jojor merasa grogi. Lalu dia mengajak wanitaparuh baya di depannya itu berbicara dalam bahasa daerah tanpa terlihat janggalsama sekali. Dari pengamatannya, calon ibu mertuanya itu sangat terkagum-kagumpadanya. Beberapa kali ia memuji Jojor karena, sekalipun sudah menjadi wanitametropolitan, tidak melupakan akar budaya yang membungkusnya.
Penulis: Hembang Tambun
Pemenang III Lomba Mengarang Cerber femina 2008


