Celebrity
Maudy Ayunda, Tarik Menarik Dua Pilihan

7 Oct 2015


Menemukan suara di tengah hiruk pikuk kehidupan personal dan profesional.

Satu-satunya yang masih mengingatkan orang pada bintang cilik di film Untuk Rena ini adalah sepasang gigi kelincinya. Namun, daftar panjang porto folionya yang mengundang decak kagum kembali menggiring kita pada sosok wanita muda dewasa dengan sederet prestasi dan mimpi. Kepada femina, Maudy Ayunda (20) membagikan apa yang paling membuatnya bahagia, dan apa yang hingga kini masih membuatnya gundah.


Ketika banyak selebritas muda cenderung mengejar popularitas dengan fokus di satu bidang, wanita kelahiran Jakarta 19 Desember 1994 ini justru memilih untuk berakrobat dengan waktu dan menekuni semuanya. Apakah itu kariernya di dunia hiburan, kehidupannya sebagai pelajar di dunia akademis, dan keinginannya menjajal dunia korporasi, hingga ke panggung politik.

Permasalahan muncul ketika ia merasa bahwa masing-masing dunia itu sama menyenangkannya. Tiap bidang punya sisi positif dan ia sangat menikmati proses eksplorasinya. Ia menyukai sensasi, dinamisasi, dan kreativitas dunia hiburan yang lebih banyak memberdayakan otak kanannya. “Di saat yang sama, sisi nerdy saya juga menginginkan sesuatu yang lebih mengeksplorasi otak kiri saya,” ungkap mahasiswi tahun terakhir di Fakultas Politics Philosophy and Economics (PPE) di Universitas Oxford ini, penuh hasrat.

Tidak sekadar bicara, ia benar-benar menjajaki pilihan-pilihan yang ada dengan serius. Ketika tiba liburan kuliah musim panas misalnya, ia harus memilih apakah   fokus penuh pada kariernya di jalur tarik suara dengan melakoni semua jadwal off air, atau mengambil jatah waktu 1,5 bulan untuk magang di salah satu perusahaan konsultasi bisnis.
  
“Saya sempat pusing sekali,” ujar wanita yang akhirnya memilih untuk menjalani kedua-duanya. Artinya, ia harus siap melalui berbagai ‘kegilaan’, berupa jadwal padat dan melelahkan, yang sering membuatnya pulang hingga larut malam. Ketika karyawan lainnya bisa menikmati akhir pekan bersantai-santai, Maudy justru sibuk menyanyi off air. Namun, ia mengaku tidak menyesal. Baginya, semua pengalaman ini sangat menambah wawasan dan perspektifnya dalam memandang dunia kerja.

Ia juga sangat menikmati masa magangnya sebagai seorang analis bisnis di sebuah perusahaan konsultan di Jakarta. Bidang karier yang satu ini memberinya kesempatan untuk menyalurkan kegemarannya dalam membedah sebuah masalah, melakukan analisis, dan merancang strategi jalan keluar bagi mereka yang hendak mengawali bisnis.

Di tengah magang ini pula Maudy mendapat kesempatan menemani Perdana Menteri Inggris, David Cameron, blusukan di Jakarta. Rupanya, birokrat Inggris itu juga lulusan PPE Oxford.  Alhasil, setengah harian itu, selain diisi dengan mencicipi  berbagai jajanan lokal dari pasar ke pasar, juga diisi dengan obrolan seputar perkuliahan. Meski setelah itu, Maudy harus segera kembali ke kantornya dan langsung melakukan presentasi penting.
Apakah perjumpaan dengan salah satu petinggi politik di Inggris itu mengilhaminya untuk memilih jalur karier di dunia yang sama?

“Politic is not a closed door for me. Saya tertarik bekerja di pemerintahan, sebagai analis ekonomi, atau berafiliasi dengan sebuah partai,” ungkapnya. Tetapi, ia masih ingin menyimpan hasrat karier di dunia birokrasi dan politik ini menjadi tujuan jangka panjangnya. “Mumpung masih muda, saya ingin mengeksplorasi dunia bisnis atau menjadi pekerja sosial,” ungkap Maudy, yang dalam dua atau tiga tahun ke depan berencana melanjutkan ke program master atau S-2.

Seorang idealis, atau perfeksionis? Pertanyaan ini sempat membuat Maudy sejenak tercenung. Sebab, ia merasa bahwa selama ini  ia menjalani semua bidang pilihannya secara total. Bukti kerja kerasnya pun terukir melalui berbagai pencapaiannya di masing-masing bidang tersebut. Namun, apakah ini kemudian tergolong perfeksionis? Ia sendiri ragu. Setidaknya, ia tahu bahwa kini ia berkembang menjadi sosok idealis.

“Visi hidup saya adalah untuk menjadi orang yang ada di suatu posisi yang berguna dan memberikan manfaat bagi orang lain. Dan ini semua bisa saya wujudkan di   tiap bidang yang saya terjuni,” ungkap wanita yang menaruh perhatian besar pada pemberdayaan kaum muda ini.

Kejelasan visi ini juga yang kemudian membuahkan berbagai kepercayaan padanya. Salah satunya, ketika ia terpilih menjadi pembicara di acara Post2015 Regional Conference di Bali. Di depan ratusan utusan berbagai negara, dengan bahasa Inggris yang lancar dan terstruktur, Maudy memaparkan hal-hal yang masih membatasi generasinya dalam berkarya dan upaya solusi yang bisa diberikan.

Tidak salah jika ia menjadi salah satu patron bagi generasinya. Namun, di tengah semua itu, menjadi sosok yang selalu menjadi sorotan, apakah ia merasakan tekanan tersendiri? “Ada sekali!” jawabnya spontan. Ekspektasi ini, menurutnya tidak hanya berasal dari publik, tapi juga dari lingkungan sekelilingnya, seperti keluarga, perusahaan label musik tempatnya bernaung, dan pembimbing akademisnya.

Meski begitu, di tengah hiruk pikuk kepentingan ini ia tidak lupa untuk memberikan ruang bagi dirinya sendiri. “Saya harus menemukan suara saya sendiri, dan memutuskan apa yang benar-benar saya inginkan. Sebab, tidak semua orang di luar sana yang benar-benar memahami kebingungan saya,” lanjutnya.

Baginya, menempuh pendidikan di Inggris merupakan salah satu caranya untuk menepikan diri. Ia tidak perlu dipusingkan dengan jadwal yang saling bertabrakan. Ia hanya mengikuti saja jadwal-jadwal perkuliahan yang teratur dan terencana. “Di sini saya bisa hidup lebih normal. Pendek kata, segala sesuatunya menjadi lebih jernih,” ujar penggemar Lenka, ini, tertawa.

Ia mengaku sangat menikmati kehidupannya sebagai perantauan di negeri orang. Ia bisa benar-benar nyaman menjadi dirinya sendiri. Tidak harus berpikir keras harus memilih baju apa saat ingin berbelanja kebutuhan ke supermarket. Di tahun pertamanya, ia juga merasakan tinggal di dorm atau asrama. Ia belajar mengelola segala sesuatu sendiri ketika menyewa rumah bersama teman-temannya di tahun ke-2 kuliah.

“Tahun ini adalah tahun terberat bagi saya,” ujarnya. Mengawali kuliahnya di September 2015, tahun ini adalah tahun terakhir perkuliahannya. Ada ujian yang harus dihadapi, proyek magang yang harus dijalani, dan album yang rilis. Namun, ia merasa beruntung memiliki support system yang bisa diandalkan, yaitu keluarga dan teman-teman terdekatnya. “Meski tidak mudah,  perjalanan saya makin mengerucut pada apa yang menjadi visi saya,” tutupnya, dengan senyum manis. (f)

Naomi Jayalaksana




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?