Fiction
Matahari Matahari [3]

1 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

“Ayo, mandi sana,” Bunda memulai satu lagi kebiasaan menegakkan disiplin dengan jalan pintas yang menurutnya paling efisien. Termasuk, memaksa anak-anaknya buru-buru bangun dan mandi dengan menyibakkan selimut mereka.

“Bunda...,” Ati melenguh mempertahankan selimutnya. “Aku belum mau mandi. Baru aja bangun tidur. Aku mau sarapan dulu.”

“Sejak kapan kamu sarapan dulu baru mandi? Dasar jorok,” balas bundanya, berusaha menarik selimut lebih lebar lagi.

Tapi, sambil tetap menahan selimut agar tetap menyelimuti tubuhnya, Ati bersikeras, “Aku biasa gitu. Lagi pula, memang yang lebih baik sarapan dulu. Baru mandi dan gosok gigi. Bunda tahu berapa juta kuman yang akan bersarang di mulut kita, kalau kita tidak sikat gigi setelah makan?”

Bunda melotot dan bersiap-siap untuk marah. “Ya, sudah!” katanya, namun pegangannya pada ujung selimut  makin erat. “Mandi tanpa sikat gigi.”

“Aku nggak biasa, Bunda...,” Ati membantah.

“Harus dibiasakan!” paksa Bunda.

“Enggak!” bantah Ati, dengan segenap kekuatan ditariknya selimut yang ujungnya ada di tangan Bunda sampai wanita tua itu tak lagi memegang apa-apa.  “Bunda tidak bisa memaksa aku melakukan seperti yang Bunda mau. Aku sudah bukan anak kecil lagi.”

Tak ada yang diucapkan Bunda kemudian. Gertakan anak gadis yang pernah meninggalkannya itu membuatnya mengingat masa lalu menyakitkan yang tidak pernah ingin ia alami kembali.

Masih tanpa sepatah kata, wanita itu beranjak dari pinggir ranjang dan berjalan ke arah pintu.

“Bunda...,” panggil Ati saat tangan bundanya meraih handle pintu. Wanita hampir enam puluh itu berhenti dan menoleh, mendapatkan Ati memeluk bahunya erat namun lembut begitu tubuhnya sepenuhnya berbalik. “Aku sayang Bunda,” bisiknya hangat.

Bunda membalas pelukannya.

“Mandi, ya?” katanya.

Ati tersenyum geli. Bundanya sama sekali tidak berubah.

Memang benar kasih ibu itu panjang sepanjang jalan. Bagaimanapun seorang anak telah membuat kebahagiaan dan kebanggaan mereka sebagai seorang wanita nyaris lenyap, mereka terus-menerus menetap di suatu tempat untuk memaafkan anak-anak yang kembali itu.
Kedai kopi itu terletak di lantai dua sebuah mal yang ramai dengan pengunjung. Lokasinya yang berada tepat di mulut game centre membuat tamu yang duduk di sana, dalam space counternya yang terbuka, seperti menjadi orang asing dalam kerumunan masa.

Ati membalas senyuman seorang pria yang duduk di seberangnya. Dia tidak mengenal pria itu sama sekali. Tapi, seperti pria-pria lain yang melihatnya dan memutuskan untuk dengan sopan mengangguk dan tersenyum, Ati akan menyambut ramah segala maksud baik.

Pria itu berpakaian rapi. Dasi berwarna terang dengan penjepit berkilau keperakan, yang serasi dengan warna kemejanya, terjalin indah di bawah dagunya yang bersih dan segar. Ati bisa menerka dalam sekali lihat, bahwa pakaian yang dikenakannya bukan hanya rapi, tapi juga mahal. Sementara dari caranya menyapa yang tenang dan sopan, pria itu menunjukkan kedudukan sosial yang bukan sembarangan.

“Sendiri?” pria itu mendekatinya dan bertanya. Posisinya setengah membungkuk tepat di hadapan Ati.
Sesopan mungkin Ati menggeleng, “Sebenarnya tidak. Saya menunggu suami. Itu dia!” katanya.

Bayu tiba. Hari ini dia mengenakan polo shirt berwarna navy dan denim berwarna senada. Mulutnya mengembangkan senyuman, meskipun Ati bisa menangkap rasa heran di matanya, karena menemukan seorang pria tak dikenal berdiri tak seberapa jauh darinya.

“Maaf. Saya harap, saya tidak mengganggu sedikit pun,” ujar pria tadi, sambil mengulurkan tangannya. “Agung.”

“Matahari,” Ati tak punya alasan berbohong mengenai namanya.

Pria itu tampak terkesiap. Tiba-tiba seperti ada ratusan bahan pembicaraan yang harus ia bahas bersama wanita cantik itu berkenaan dengan namanya. Tapi, Bayu sudah lebih dulu berdiri di antara mereka dan membuat pria itu merasa dia tak seharusnya berada di sana.

“Kalau begitu, lain kali saja,” ujar pria itu, penuh kesopanan.

Seolah tidak mau suami yang menunggu itu merasakan kecurigaan karena kehadirannya yang lebih awal, dijabatnya tangan Ati akrab. Semacam jabatan tangan kawan lama. Dia tidak tahu bahwa Bayu adalah masa lalu Ati, lebih dari siapa pun.

Pria itu mengundurkan diri, setelah sebelumnya tersenyum pada Bayu. Tapi, sebenarnya, matanya tak pernah lepas dari mengawasi wanita yang menyebut dirinya ‘matahari’ itu.

Ati tersenyum lembut pada Bayu, meski dia tak bisa mengingkari bahwa pesona pria itu lumayan menyita perhatiannya. Pria itu pasti curiga, mana ada suami-istri secanggung aku dan Bayu, dia berkata pada dirinya sendiri.

Bayu kelihatan bahagia. Warna mukanya bersinar-sinar, jika bahagia. Ati bisa membacanya tanpa harus diberi tahu.

“Aku excited banget ketemu kamu hari ini,” katanya, meletup-letup.

Ati mengerutkan keningnya, sambil tersenyum menerka-nerka. Memang sebaiknya ada hal yang menarik, mengingat bagaimana perjuangannya memenuhi undangan Bayu pagi ini.
Bundanya langsung berusaha memperlihatkan taringnya, begitu mendengar rencana Ati menemui pria bernama Bayu. Mendengar namanya diucapkan di dalam rumah itu saja, darahnya mendidih. Apalagi, nama itu merujuk pada orang yang sama. Orang yang mencerai-beraikan keluarganya. Pria rendah yang telah berkhianat.

“Lagi pula buat apa, sih, Ti?” bisik Bintang, abangnya. Bunda pernah mengancam tidak akan memaafkan seorang pun yang membawa pria itu, yang enggan ia sebutkan namanya, kembali ke dalam topik pembicaraan di dalam rumah.

Ati menggerakkan bahunya.

Bunda keluar dari dapur dengan sepiring penuh kue mangkuk berkilau kecokelatan, yang masih mengepulkan uap hangat. Ati dan Bintang segera menutup mulut mereka.

“Bunda tidak setuju kalau kamu kembali pada Bayu itu,” tembak Bunda ketus. “Pria seperti Bayu tidak akan mungkin berubah, Ti. Kamu hanya akan dijadikan pelampiasan,” katanya, emosional.

Ati tidak mau dikatakan sebagai objek pelampiasan. “Bunda ngomong apa, sih? Aku menemuinya karena dia cuma mengundang sebagai sahabat. Lagi pula, aku patut merasa berterima kasih karena dia mau mengantarkan sampai rumah tempo hari.”

“Omong kosong!” seru Bunda. “Dulu dia mengundang Sofie sebagai apa? Adikmu? Kamu mau jatuh dalam perangkap yang sama?”

“Bunda, tenang saja. Aku bukan wanita bodoh yang mau berbagi pria dengan adik perempuan sendiri. Lebih baik aku tak menikah.”

“Ati,” kata bapaknya, untuk memperingatkan ucapannya.

“Aku akan tetap menemui Bayu, karena aku tidak menemukan alasan untuk menolak maksud baiknya. Sekalian ingin mendengar mengenai Sofie,” Ati memutuskan. Setelah yakin tak seorang pun mendebatnya, dia mengundurkan diri dari ruang keluarga dan berjalan cepat menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.


Penulis: Ratih Tri Widowati



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?