<<< Cerita SebelumnyaSatu hari menjelang pencoblosan.
Tiba-tiba isu itu merebak tak terkendali. Awalnya cuma bisik-bisik. Tapi, belakangan, tanpa dinyana, jadi agenda meeting sangat penting malam itu.
Aku masuk ke ruang rapat setengah linglung, setelah gedoran tinju Aziz di pintu kamar memutus konsentrasiku menulis e-mail ke rekan-rekan kerja di Jakarta. Seluruh personel tim sukses hadir. Dari yang akrab kukenal, sampai yang baru sekali kulihat. Atmosfernya terasa lebih hebat dari ketegangan kami menyusun materi kampanye tempo hari.
Rapat sudah berjalan ke tengah rupanya. Awalnya aku kesulitan menyimak, karena separuh peserta bicara meledak-ledak, nyaris berteriak kalap.
“Dorang kirim delapan mobil ke Waepo malam ini. Kemarin lima. Juga ada di Namlea. Laporan dari Air Buaya baru masuk, ada empat mobil. Yang lain menyusul. Kita seng boleh duduk diam saja!” seorang berperawakan kekar dan berkumis tebal berseru meletup-letup, disambangi gumam dan seruan tak jelas beberapa orang lainnya. Mestinya pria kekar itu dihadirkan sebagai jurkam kemarin. Temperamennya pantas menjadi provokator.
Ruangan seketika gaduh, namun Hajah Nur sebagai pemimpin rapat seperti tak berdaya mengintervensi. Basrilah yang kemudian pegang komando.
“Tenang... tenang...! Torang harus berpikir terang, jangan bawa emosi.”
“Bukan emosi. Tapi, faktanya sudah jelas. Kita punya saksi. Jadi, biarkan dorang bicara.”
Ucapan si kekar kembali disambut gumam kabur separuh peserta. Dua orang pria --yang juga baru malam itu kulihat-- didorong-dorong maju sambil dibentak kasar, “Hayo, cerita! Cerita!”
“Oke,” Basri kembali menyela. “Silakan kamong (Anda) cerita.”
Fokus mataku beralih pada dua orang itu, dan baru menyadari ada selembar uang kertas lima puluh ribuan bersama amplop kumal di masing-masing tangan mereka.
“Katong sedang duduk-duduk di depan rumah, sewaktu mobil-mobil dari Namlea datang,” salah seorang berbicara, terdengar lugu dan ragu.
“Mereka bikin apa?” seseorang menyerobot tak sabar.
“Kasih katong ini,” katanya, menunjuk uang kertas di depannya.
“Lalu, suruh apa?”
“Suruh katong pilih nomor….”
“Cukup!” Hajah Nur memutus. Suaranya menggeletar, namun masih menyimpan wibawa. “Seng perlu sebut nomor atau nama kandidatnya. Kita cukup simpulkan bahwa ada kandidat lain yang mulai melakukan serangan fajar. Bermain money politic dengan menyuap calon pemilih supaya mencoblos nomor mereka.”
“Ya, betul itu. Betul! Dan, katong seng boleh duduk-duduk santai, kalau seng mau kalah besok!” suara-suara itu berdengung saling berebut entah diucapkan oleh siapa, dan tak kunjung berhenti sampai Hajah Nur kembali angkat bicara.
“Di mana panwas waktu itu?”
“Seng ada panwas lai (lagi). Mengapa pula tanya panwas? Ini semua permainan. Permainan! Persoalannya buat katong sekarang adalah: mau menang atau kalah? Jangan sampai percuma katong kerja keras selama ini!” Lagi-lagi suara-suara itu tak jelas dilontarkan oleh siapa. Namun, bisa kurasakan situasinya kian liar dan tak terkendali.
“Jadi, kita harus bikin apa?”
“Seng bertanya lai. Serangan fajar harus dilawan serangan fajar! Mau bikin apa? Kecuali katong siap kalah. Tapi, siapa yang siap kalah di sini? Siapa?”
Seisi ruangan bergetar ketika setiap orang berseru: “Seng ada!”
“Ibu, kalau boleh….” Aku mengacungkan telunjuk, minta izin bicara, dan langsung melanjutkan sebelum diiyakan. “Saya kira kita tidak perlu larut dalam emosi berlebihan. Ini permainan kotor, dan dari awal kita sepakat untuk bermain cantik….”
“Sebentar, Ibu Konsultan! Izinkan beta bertanya.”
Aku juga tak kenal orang ini, tapi dia jelas mengenalku dari sebutan ’Ibu Konsultan’ tadi.
“Menurut ilmu Ibu yang Ibu bawa dari Jakarta, dengan cara apa katong bisa lawan money politic yang dilakukan kandidat lawan?”
Aku terbatuk, tak mengira dihadapkan pada soal sepelik ini. Tapi, suara-suara peserta lainnya menuntutku menjawab.
“Maaf, Saudara-Saudara, money politic tidak ada dalam kajian ilmu saya, karena itu bukan termasuk….”
“Oke, kalau begitu, menurut pemikiran Ibu, cara apa yang bisa mengalahkan money politic?”
Ini sama sulitnya dengan yang pertama. Aku melirik Hajah Nur, juga Basri. Keduanya sama-sama tengah memandangku. Mereka juga menunggu. Aku menyerah.
“Saya tidak ingin menganjurkan, tapi memang tidak ada yang bisa mengalahkan money politic selain money politic itu sendiri….”
“Nah!”
Dan, kehebohan yang lebih gila segera meletus. Semua orang berseru, berteriak, mengembuskan napas lega, mengabaikan suaraku yang mencoba melerai dengan kalimat terpotong-potong.
“Tapi… maksud saya….”
Tiba-tiba suara benda keras dibentur-benturkan ke kayu, menghentikan semua orang. Hajah Nur meminta seisi ruangan diam dengan mengetuk-ngetukkan penghapus whiteboard ke permukaan meja.
“Oke, konsultan kita sudah bicara. Artinya….”
“Ibu, nanti dulu!” aku meminta dengan panik. Ini benar-benar akan lepas di luar kendali. “Saya tidak ingin kita menodai perjuangan kita. Jauh-jauh Ibu menghadirkan saya ke sini, karena kita sepakat ingin belajar dan memberi pembelajaran kepada masyarakat Buru tentang bagaimana cara bermain politik yang baik. Melaksanakan pilkada dengan jujur dan beretika. Saya kira, kita tak perlu mementahkan semuanya setelah seluruh proses berdemokrasi yang benar kita lakukan.”
“
Artinya,” Hajah Nur mengulang, seakan tak tergerak, “kita tidak punya pilihan selain….”
“Ibu! Saya….” Aku menoleh ke sekeliling ruangan, lalu mencondongkan wajah ke telinga Hajah Nur, berbicara lebih lirih namun tegas, cukup bisa didengar Basri yang duduk di sebelahnya.
“Ibu, saya akan mengepak koper saya malam ini juga, kalau Ibu mengikuti arus. Karena, begitu Ibu memutuskan ikut bermain, berarti Ibu tidak memerlukan saya lagi!”
Kami bersitatap, lama. Ruangan hening, bahkan helaan napas seperti hilang.
Lalu, ia tersenyum samar, seperti sedang menahan sakit yang menjebak, dan berpaling ke peserta rapat. Dalam satu helaan napas, titahnya jatuh: “Kita tidak punya pilihan, kalau lawan bermain, kita akan balas bermain….”
Ruangan itu meledak sejadi-jadinya, memecahkan rasa di dadaku. Dengan wajah pias sulit percaya, aku mengentak bangkit. Sebelum tubuh gemetarku bergerak, Hajah Nur cepat menggenggam lenganku.
“Maafkan saya….”
Jadi, seperti inilah Buru.
Aku tegak di anjungan kapal cepat yang membawaku ke Ambon. Lengang, karena pada saat bersamaan seluruh warga Buru tengah berduyun-duyun antre di depan TPS.
“Jangan tinggalkan Buru seperti ini.”
Basri menyusulku ke dermaga sebelum keberangkatan.
“Lalu, harus dengan cara apa?” aku mendesah tertatih dengan sisa semangat yang ada. “Seluruh kerja keras saya sia-sia. Kehadiran saya pada akhirnya cuma semacam debu yang kehilangan makna.”
“Kamu harus memahami apa yang ada di diri Ibu Hajah dengan semua hiruk-pikuk pilkada ini.”
“Apa? Bahwa dia akan membangun masa depan Buru dan mengawalinya dengan ketidakjujuran?”
“Itu poin yang kedua.” Basri bersandar di tepian deck. “Poin yang pertama adalah karena dia sangat ingin memuliakan nama suaminya dengan meneruskan cita-cita almarhum.”
“Lalu, menghalalkan segala cara?”
“Bukan dia yang mulai, tapi pihak lawan lebih dulu bermain.”
“Kalau begitu, jangan libatkan saya!”
Basri menghela napas. “Saya mengerti prinsipmu, tapi saya juga bisa memahami idealisme Hajah Nur. Hanya dengan menjadi kepala daerah, kita akan bisa mengubah Buru.”
Aku tak percaya akan definisi itu, karena ada satu bukti yang sudah bicara hingga ke dunia internasional bagaimana caranya memuliakan Buru: Pramoedya Ananta Toer dengan empat karya emasnya.
Tapi, setiap orang punya pilihan, dan meninggalkan Buru secepatnya adalah pilihanku. Tak perlu aku melihat langsung hasil pemilu hari ini, bahkan tak mau tahu. (Tamat)
Penulis: Djoenaedy Siswo Pratikno


