Perilaku lupa, ceroboh, atau cuek pada benda-benda miliknya, menurut psikolog Rima Olivia, disebabkan karena dua hal: ‘bakat’ dan asuhan dari keluarga. “Kecenderungan seseorang berjiwa rapi atau sebaliknya, sesungguhnya sudah ada sejak dini. Dari kecil, sudah senang menata barang, mengembalikan barang pada tempatnya, walaupun tidak ada yang mengajarinya. Biarpun lingkungan tidak berharap untuk rapi, dia tetap akan meletakkan barang pada tempatnya,” tutur Rima.
Yang kedua, pola asuh keluarga yang membiasakan rutinitas tertentu sejak usia kanak-kanak, akan memengaruhi penciptaan karakter tersebut. Misalnya, seseorang merasa perlu untuk mempersiapkan segala sesuatu secara detail karena dia merasa aman dan nyaman ketika sudah tahu semua rencana secara terperinci.
“Biasanya, orang semacam ini membutuhkan pola untuk memahami dunia luar. Jika dari kecil dilatih orang tua untuk mengembalikan barang di tempatnya, seiring bertambahnya usia, kita merasa tidak nyaman jika ada orang yang tidak meletakkan barang di tempatnya semula.” Sebaliknya, jika di keluarga tidak ada pembiasaan seperti ini, kemudian orang tersebut tidak memiliki kecenderungan untuk rapi dan teratur, wajar jika saat dewasa dia akan menjelma menjadi sosok yang ceroboh.
Perbedaan nilai juga bisa memberikan reaksi yang berbeda. Sikap Nana yang merasa tidak bersalah karena telah merusak barang yang dipinjamnya, bisa jadi karena buat dia tidak penting untuk menjaga barang-barangnya sendiri. Menurut Rima, Nana tidak memikirkan akibat yang ditimbulkan saat buku yang dipinjamnya terlipat atau ketumpahan kopi, misalnya.
“Ketika berbicara mengenai perbedaan nilai, maka hal tersebut tidak bisa disalahkan atau dibenarkan. Bagi seseorang, buku rapi yang lantas menjadi lecek mungkin masalah sepele. Akan tetapi, bagi yang mempunyai value merawat barang, menjaga baik-baik apa yang dimiliki, memperlakukan sesuatu dengan sembarangan adalah sesuatu yang tidak bisa dibenarkan,” tegas Rima.
Perlu diingat, yang menentukan nilai atau value tersebut, bukan melulu berdasarkan pengaruh pengasuhan orang tua. Nilai itu bisa muncul dan ditentukan oleh diri sendiri. Bisa saja seseorang yang semula ‘berantakan’, masuk ke lingkungan yang serba teratur dan rapi, ia jadi berubah. Namun, begitu ia keluar dari lingkungan tersebut, ia merasakan nilai kerapian bukanlah hal yang membekas di hatinya. Besar kemungkinan ia akan kembali menjadi berantakan.
Rima menambahkan, efek terburuk dari sosok yang pelupa, cuek, dan suka menunda, pada tahap profesionalisme bisa mengancam kariernya. Pada tahap ekstrem, pekerjaannya jadi berantakan, terancam kehilangan klien, dan kehilangan kepercayaan atasan.
Kecerobohan seseorang juga memengaruhi aktivitas hidupnya. Lupa membayar tagihan, bisa membuat kena bunga. Lupa membayar utang pada teman, bisa di-blacklist. Malas merapikan rumah, bisa jadi sarang bakteri. Dan seterusnya….
Dilihat dari hubungan sosial, ia akan dianggap sebagai sosok yang tidak menghargai orang lain dan tidak bisa menepati janji. “Bayangkan, bagaimana jika tidak ada teman yang mau meminjamkan barangnya. Tidak ada yang mau bikin janji ketemuan. Walaupun orang itu menyenangkan, kalau ia ceroboh, ia bisa kehilangan teman,” tutur Rima.


