Ketika berambisi menurunkan berat badan, sering kali kita percaya teori yang beredar dan segera mempraktikannya. dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt, weight loss specialist dari Klinik LightHouse, memberikan sarannya untuk Anda. Teori: Tidak makan nasi
Praktik:
“Tidak makan nasi tidak menjamin berat badan seseorang turun,” ujar dr. Grace. Semuanya tergantung dari total kalori yang masuk di dalam tubuh selama 24 jam. Nasi putih dianggap jahat karena indeks glikemik (ukuran kecepatan makanan diserap menjadi gula darah) yang tinggi. Dengan tingginya indeks glikemik, akan sangat berpengaruh terhadap gula darah. Makanya, nasi putih tidak terlalu dianjurkan bagi mereka yang menderita diabetes.
Bagi yang sedang menurunkan berat badan, tetap dapat mengonsumsi nasi, namun sebaiknya lauk dan sayur dimasak tanpa menggunakan minyak. Sebab, 4 sendok teh minyak mengandung kalori sama dengan segelas nasi. Karena itu, lebih baik kalori dari minyak yang digunakan untuk mengolah lauk atau sayur, diganti nasi karena lebih mengenyangkan. Semua tergantung dari diri sendiri, apakah memilih makanan yang mengenyangkan atau memilih makanan yang tidak mengenyangkan namun mengandung kalori tinggi.
Teori: Ganti nasi putih dengan nasi merah
Praktik:
Tidak banyak perbedaan jumlah kalori yang terkandung di dalam kedua jenis nasi ini. Indeks glikemik pun demikian, bila nasi putih 70, maka indeks glikemik pada nasi merah sekitar 55-60. Perbedaan utama antara kedua jenis nasi tersebut hanya pada kandungan seratnya.
Nasi merah mengandung serat yang tinggi, sehingga seseorang merasa kenyang lebih lama. Kalau untuk menghindari berat badan naik, tidak ada keharusan untuk mengonsumsi nasi merah. Sebab, dengan mengonsumsi nasi putih bersama sayuran sebagai sumber serat juga memiliki efek yang tidak jauh berbeda dengan nasi merah. (f)


