Troy berusaha duduk relaks di jok depan, mendampingi Atmo. Garut sudah jauh tertinggal. Mereka kini masuk daerah Nanggrek, pintu gerbang Kabupaten Bandung. Dengan halus Ujang dan ibunya menolak keinginan Troy agar mereka pindah ke Bandung.
”Saya, mah, orang kampung, Den. Tidak pantas tinggal di kota,” begitu kata ibu Ujang.
Sebuah penolakan yang terasa aneh diterima akal Troy. Sementara ribuan orang kampung setiap tahun berduyun-duyun membangun mimpi di kota, wanita tua itu justru menolak kesempatan yang begini mudah. Ujang pun tidak beda dari ibunya. Dia merasa lebih nyaman di desa. Terutama agar bisa menjaga ibu dan anak-anaknya.
Jadilah Troy kembali ke Bandung hanya ditemani Atmo. Iroh meminta izin untuk tinggal di kampung suaminya selama beberapa hari. Yah, semoga saja waktu kamu balik ke Bandung aku masih hidup, Iroh, batin Troy, saat Iroh mengutarakan maksudnya itu.
Sore itu, lalu lintas tidak terlalu padat. Tidak harus merayap dan menghitung menit dengan caci-maki. Troy menikmati betul perjalanannya. Lebih dari kapan pun. Dia mencermati setiap hal yang terlewati, seolah-olah dia tak akan pernah menyaksikannya lagi.
”Orang, kan, lain-lain, Mas. Mungkin, meski serba kekurangan, Ujang merasa bahagia jika ada di dekat ibu dan anak-anaknya. Berkumpul dengan keluarganya.”
Keluarga? Troy merasa ada yang berdenyar di kepalanya. Gambaran tahun-tahun terakhir berkelebat ringan. Dia telanjur menjadi layang-layang putus. Bergerak sendiri tanpa kendali. Kalau ada yang dia sisakan dari memori keluarganya hanyalah nomor telepon rumah. Apa mereka belum pindah?
Troy meraih ponsel dari sakunya, lalu menekan kombinasi nomor Surabaya. ”Halo.”
Suara berat ada di seberang. Troy yakin, itu suara bapaknya.
“Halo. Mau bicara dengan siapa?’
Troy terenyak. “Papa....”
“Troy. Ini kamu?”
“Iya, Pa.”
”Apa kabar kamu, Troy. Sehat?”
Ada yang bergerak di helaian otot tubuh Troy. Serasa di mana-mana. Sebuah geletar yang bersamaan meletup dan akhirnya memusat di dada dan bola mata.
“Baik, Pa.“
Studio Extreme TV, sebelum rekaman
’’Menurutmu, gimana penampilanku?“
Galih melongo ditanya Troy begitu. Dua tahun dia menjadi produser Mad Man Show, baru kali ini Troy meminta pendapatnya.
“Oke,” jawab Galih, masih dengan ekspresi keheranan. Sama herannya dia dengan pilihan setelan Troy pagi ini. Serba putih. Kemeja putih, setelan jas putih, sepatu putih.
”Usahakan sempurna, ya.”
Galih masih tak paham, ”Apanya?”
“Semuanya. Kapan rekaman hari ini tayang?”
”Pekan depan,” jawab Galih santai, sambil mengecek perlengkapan kamera.
”Oh, berarti aku harus lihat dulu.”
”Biasanya kamu pilih lihat di TV, Troy?”
Troy mengangkat bahu. ”Tidak, kalau pekan depan aku sudah tidak ada.”
”Kamu mau cuti?”
Troy tersenyum, sambil menggeleng. ”Diberhentikan.”
Galih membiarkan kamera yang sedari tadi ia otak-atik. Produser satu ini memang tidak pernah nyaman sekadar berteriak-teriak, tanpa memastikan bahwa semua baik-baik saja. ”Kamu yakin akan baik-baik saja?”
Troy tersenyum lagi. ”Entahlah.”
Akhir Januari, hujan masih gemar mengguyur
Troy menggeletakkan tubuhnya di kursi malas, sembari menonton dirinya sendiri di televisi. Itu tayangan hasil rekaman pekan sebelumnya. Troy tersenyum melihat penampilannya yang tampak jauh lebih kalem. Narasumber Mad Man Show edisi kali ini adalah seorang mantan rocker yang bertansformasi menjadi ulama. Tokoh agama. Narasumber yang sebelumnya sama sekali tidak masuk kategori Mad Man Show.
Di meja dekat Troy bersantai, tergeletak selembar kertas yang berisi daftar nama dan nomor telepon. Banyak sekali. Puluhan, atau mungkin ratusan. Setiap nomor sudah dicoret dengan tinta merah.
Semua orang sudah kutelepon. Sekarang aku bisa mati dengan tenang.
Hari ini genap sebulan setelah ramalan Atlantis. Bagi Troy, ini waktunya mati. Dia merasa sehat-sehat saja, tapi dia yakin hari ini akan mati. Sekarang, dia menunggu kematian itu dengan secangkir kopi dingin dan acara Mad Man Show yang segera pungkas.
Ketika acara itu benar-benar selesai, Troy segera menekan-nekan tombol remote control, memindah saluran. Seperti biasa, layar televisi dipenuhi acara gosip.
”Pemirsa, bagi Anda yang selalu menyaksikan tayangan Mad Man Show, bersiap-siaplah untuk kehilangan talkshow yang pernah dijuluki sebagai yang terekstrem di Indonesia itu.”
Mata Troy melebar. Kaget. Mereka tahu?
”Sepekan terakhir, rating Mad Man merosot, bahkan terlempar dari daftar 20 tayangan paling digemari di Indonesia. Rupanya, ini akhir riwayat Mad Man Show di kancah pertelevisian Indonesia.”
Troy dihantam perasaan superasing. Kepalanya berat, napasnya sesak, matanya seperti ditaburi kaca. Dia buru-buru memencet tombol off pada remote control.
Rumah makan Sunda, Jalan Supratman
”Kamu aktris yang hebat.”
Galih mengembangkan senyum sampai gigi gingsul di bagian kiri mulutnya terlihat. Dia duduk santai di kursi kayu jati, menghadapi hidangan Sunda yang disajikan dengan cara berkelas. Nasi timbel, lengkap ditemani soft drink di gelas berbentuk bunga tulip.
”Tidak akan berhasil kalau bukan kamu sutradaranya.” Seorang wanita muda duduk anggun di depan Galih. Dia mengenakan gaun bercorak bunga-bunga. Bahu lebarnya samar oleh cropped jacket. Dia... Atlantis.
“Kamu yakin, kita tidak keterlaluan?”
Senyum Atlantis mengembang tambah lebar. ”Kamu bilang ini satu-satunya cara untuk mengubah Troy?”
Galih mengangguk mantap. ”Aku bisa dia bunuh, bila ia tahu ini semua berawal dari ideku.”
Atlantis tertawa kecil. ”Katakan padaku, bagaimana kamu meyakinkan pembantu Troy untuk berbohong?”
”Iroh, maksudmu? Dia tidak berbohong. Memang ayahnya meninggal. Cuma, sudah lima tahun lalu.”
Tawa Atlantis makin nyaring, ”Akting polisi temanmu itu juga meyakinkan.”
”Ya. Dia juga sangat berjasa.”
Keduanya berbincang, sambil sibuk mengunyah menu makan siang mereka. Atlantis mengangkat wajahnya. ”Kamu yakin, karier Troy tidak akan hancur?”
”Troy si mulut pedas mungkin sudah hancur. Tapi, aku sudah menyiapkan image baru untuk dia.”
”Oh, ya? Biar kutebak... Troy si sombong yang bangkrut?”
Galih tersenyum. ”Dia orang yang sangat berbakat. Dia akan segera disenangi banyak orang.”
Atlantis melirik dengan cara memikat. Dia lantas meraih gelas tulipnya, lalu menyodorkannya ke Galih. ”Buat Troy. Cheers!”
Galih melakukan hal sama. ”Cheers!” Tamat
penulis: Taufiq Saptoto Rohadi
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2006
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2006


