Travel
Li Ho, Taiwan!

25 Jul 2013


Taiwan, negara berbentuk pulau seluas 36,188 km², bagi saya identik dengan drama-drama romantis. Salah satunya Meteor Garden, serial yang sempat booming pada tahun 2001. Berhubung sudah lama berlalu, hanya sedikit sekali jejak drama kondang itu. Tapi, saya menemukan keasyikan lain, melihat pemandangan dari gedung pencakar langit yang sempat memegang rekor tertinggi di dunia, hingga menjelajah lorong-lorong pusat perbelanjaan.

Keindahan alami hingga teknologi tinggi
Saat mengunjungi salah satu landmark Taipei, Chiang Kai-Shek Memorial Hall, saya mendapat penjelasan bahwa bintang dengan 12 sinar di bendera Taiwan berarti kerja keras terus-menerus sepanjang hari. Chiang Kai-Shek adalah mantan presiden dan tokoh pemersatu Taiwan di masa lalu. Patung perunggu Chiang Kai-Shek berukuran 16 m x 12 m dipajang di salah satu bagian di sini.
Salah satu pemikiran penting Chiang Kai-Shek, selain politik, adalah ilmu pengetahuan. Rupanya, ia tak hanya ahli soal ilmu bertempur dan politik, ia juga seorang visioner. Dalam pemikirannya, Taiwan sudah didorong untuk maju dalam ilmu pengetahuan. Ditambah prinsip kerja keras, tak heran jika kini Taiwan diakui sebagai salah satu negara Asia paling maju secara teknologi.
   
Salah satu buktinya adalah kereta supercepat, Taiwan High Speed Train, (maksimal 300 km/jam) yang menghubungkan delapan kota besar di barat Taiwan, dari Taipei hingga Zuoying. Jalur sepanjang 345 km, kurang lebih seperti dari Jakarta-Pekalongan, itu dapat ditempuh dalam waktu 96 menit. Tiket kelas biasa untuk jarak terjauh adalah 1.490 dolar Taiwan (Rp447.000). Sepadan dengan kenyamanan dan kepraktisannya, sih. Kereta sama sekali tidak berisik dan minim guncangan. Kereta cepat terkini yang digunakan, seri THSR 700T, serupa dengan 700Series Shinkansen yang digunakan di Jepang. 

Simbol kemajuan Taiwan yang paling menonjol tentu saja gedung Taipei 101. Menjulang setinggi 509 meter, Taipei 101 atau Taipei Financial Center Corporation memegang rekor sebagai gedung tertinggi di dunia pada tahun 2004- 2010. Gedung ini berfungsi sebagai pusat perbelanjaan, perkantoran, dan tentu saja objek wisata. Merek-merek fashion kelas atas, seperti Chanel, Cartier, Bvlgari, Bottega Veneta, Burberry, dan perusahaan besar, seperti Google, Taiwan Stock Exchange Corporation, McKinsey & Company, juga menempati gedung ini.
Dari lantai 5, saya membeli tiket menuju  dek observasi di lantai 89. Hanya 37 detik saja, saya sudah sampai. Cepat banget! Lift rakitan Toshiba ini memang salah satu lift tercepat di dunia, 60,6 km/jam.
   
Karena Taiwan adalah daerah yang sering terjadi gempa dan angin taufan, gedung tinggi ini dirancang agar kuat dari bencana alam. Teknologi yang digunakan sangat unik, menggunakan bandul baja yang menggantung di tengah gedung dari lantai 92 sampai 87. Menurut pemandu saya, saat terjadi gempa, pengunjung yang sedang berada di ruang observasi pasti akan berkumpul melihat bandul di bagian tengah gedung yang bergoyang. Bandul inilah yang menjaga gedung agar tetap stabil.

Di balik kecanggihannya, gedung ini tetap menerapkan unsur-unsur tradisional dan memperhatikan fengsui. Bentuknya menyerupai batang bambu dengan 8 ruas, angka yang melambangkan keberuntungan. Di mana-mana, salah satunya pintu masuk gedung, terpampang hiasan berbentuk ruyi, simbol Cino kuno yang melambangkan awan di surga, identik dengan penyembuhan, perlindungan, dan kesuksesan. Air mancur juga dibuat di titik yang memiliki energi negatif.

Taiwan tetap menyimpan keindahan alam untuk dinikmati. Sun Moon Lake, di Taiwan Tengah, salah satunya. Danau seluas 793 km2, dengan kedalaman hingga 27 m ini  dikelola sangat rapi dan bersih. Namanya berasal dari bentuknya, yang terlihat seperti bulan di satu sisi, dan seperti bulan di sisi yang lain.

Ada tiga cara menikmati suasana Sun Moon Lake. Pertama, menggunakan sepeda mengelilingi jalur yang dibuat mengelilingi danau dan bukit-bukitnya. Sewa sepeda mulai dari 150 dolar Taiwan (Rp45.000). Kedua, mengelilingi danau menggunakan kapal dengan ongkos 300 dolar Taiwan (Rp60.000). Ketiga, menggunakan kereta gantung dengan ongkos 300 dolar Taiwan (Rp60.000). Jika Anda hobi fotografi, bangunlah pagi hari. Suasana danau yang berkabut mistis dan matahari terbit, sayang untuk dilewatkan.


•    Chiang Kai Shek Memorial Hall
Buka tiap hari, dari pukul  9 pagi – 6 sore. Gratis. Naik MRT turun di stasiun Chiang Kai Sek.
•    Taipei 101
Buka dari pukul 9 – 22.00. Untuk naik ke ruang observatory di lantai 89, pengunjung menggunakan lift khusus di lantai 5. Tiket masuk: 500 dolar Taiwan (Rp150.000) untuk orang dewasa.
•    Sun Moon Lake
Daerah Nantou. Gunakan kereta cepat dari Taipei ( 700 dolar Taiwan) selama 1 jam, dilanjutkan perjalanan selama 2 jam menggunakan bus tur dari stasiun kereta (pp 350 dolar Taiwan).


Siang Malam Belanja

Bagi Anda penggemar belanja, Taiwan akan memuaskan Anda. Ratusan toko berdesakan di lorong-lorong yang menyatu di area Wu Fen Pu Wholesale Street. Rasanya tak cukup waktu sehari untuk menyusuri  tiap lorongnya. Tapi, tak perlu terlalu pagi datang ke sini, toko-toko baru buka pukul 11.00 dan tutup pukul 22.00.

Busana dan aksesori wanita dan anak muda yang sedang tren mendominasi toko-toko. Busana pria dan anak-anak ada juga, tapi jumlahnya sedikit. Di sini, Anda tidak akan menemukan merek internasional, kebanyakan yang dijual adalah produk lokal, Cina, dan Korea. Produk Taiwan dan Korea biasanya lebih mahal daripada produk Cina. Walaupun tak bisa ditawar jauh,  harganya sudah termasuk murah dan kualitas barang yang dijual bagus.

Jangan heran melihat wanita yang belanja di sini menggeret tas besar, karena rata-rata mereka  bermaksud menjual kembali barang yang mereka beli. Jika Anda melihat pakaian diletakkan dalam wadah-wadah  plastik yang berjejer di lantai toko, itu bukan berarti dijual diskon, tapi stok barang.

Jika ingin belanja sambil menikmati suasana, datanglah ke Xi Men Ding di Zhonghua Rd. Ini adalah kawasan belanja yang disukai kaum muda. Jejeran toko  merek lokal dan global berbaur di pedestrian yang lebar. Terkadang pemusik dan seniman jalanan ikut meramaikan area pedestrian. Tapi, tak semua boleh mencari keuntungan di area pejalan kaki.

Di Taiwan, pedagang harus berjualan di toko, mereka bisa didenda jika berjualan sembarangan. Jangan kaget kalau melihat pedagang asongan lari terbirit-birit, sembunyi atau kabur, kucing-kucingan dengan petugas. Tapi, tak usah khawatir, beberapa toko meletakkan kursi di depan toko sehingga Anda masih bisa menikmati suasana sambil ngemil .

Menurut saya, yang paling seru adalah belanja dan makan di pasar malam. Hampir tiap kota  di Taiwan memiliki pasar malam. Saya sempat menjelajah Feng Chia night market di Taichung, kota ketiga terbesar di Taiwan, dan Shihlin night market di Taipei. Pasar malam tak hanya ramai di malam Sabtu dan Minggu, di malam-malam hari biasa pun tetap ramai dan seru.

Inilah tempat Anda mencicipi aneka makanan kaki lima khas seperti stinky tofu, oyster omelette, aiyu jelly, strawberry bersalut gula, atau potongan buah segar. Harganya tak mahal, rata-rata hanya 100-300 dolar Taiwan (Rp30.000- Rp60.000). Di Shihlin night market ada juga permainan sederhana ala pasar malam rakyat, seperti menangkap udang dari bak air. Kalau berhasil mengambil, tukangnya akan membakar udang dan bisa Anda nikmati saat itu juga.   


•    Wu Fen Pu Wholesale Market, Taipei. Gunakan metro, kereta bawah tanah, turun di Houshanpi Station.
•    Xi Men Ding. Gunakan metro dan turun di  Ximen Station
•    Feng Chia  Night Market, Taichung. Berlokasi di dekat Feng Chia University. Jika naik bus,  naik yang bernomor 125, 22, atau 125.
•    Shihlin night market, Taipei. Paling mudah gunakan metro, Danshui Line, dan turun di Jiantan Station.









Bersahabat untuk Muslim

Menurut Taiwan Tourism Burau, di Taiwan terdapat lebih dari 170.000 muslim yang tersebar di berbagai kota. Ada enam masjid yang tercatat, yaitu di Kota Taipei, Taoyuan, Taichung, Tainan, dan Kaohsiung. Yang terbesar, Taipei Grand Mosque. Di sisi masjid yang bersahaja ini terdapat kantin yang menyediakan masakan halal dan bahan makanan halal, seperti daging ayam. Saya datang saat menjelang waktu salat Jumat. Di halaman depan masjid, pedagang ayam goreng dan kebab memanfaatkan kesempatan untuk mencari rezeki.
   
Waktu salat Jumat jadi semacam waktu berkumpul bagi muslim dari berbagai penjuru Taipei. Beberapa orang mahasiswa dan pekerja asal Indonesia tampak berkumpul dan saling bertukar kabar. Saat itu tampak muslim dari berbagai belahan dunia berkumpul, dari Afrika, Timur Tengah, Asia, dan juga warga Taiwan.
   
Turis muslim tetap bisa, kok, menikmati jajanan di Taiwan. Saya mendapat daftar nama resto halal dan waktu salat di Taiwan Grand Mosque. Ai-Jia Beef Noodle Shop adalah salah satu dalam daftar. Dari luar, toko ini tampak seperti resto mi biasa, yang datang pun tak berwajah Timur Tengah. Kelezatan Ai-Jia Beef Noodle ini rupanya sudah melintasi batas.

Saya memesan yang hot & spicy. Saat melihat porsi mi pipih berukuran agak lebar seperti kwetiau dipadu kaldu sapi berwarna cokelat sedikit merah, rasanya sulit untuk menghabiskannya. Apalagi mi ini tidak pelit dengan potongan daging sapi. Ukuran dan jumlah potongan dagingnya besar dan banyak. Rasa kaldu sapi hampir tak terasa karena banyaknya bumbu dalam kaldu. Rasanya malah hampir seperti kuah herba. Meski permukaan kuah terlihat berminyak,  rasanya sama sekali tidak bikin enek. Sang pemilik rupanya berasal dari Cina Selatan dan sudah turun-temurun menjual mi ini.
   
Resto lain yang sempat saya kunjungi adalah Yunus Halal Restaurant yang menyajikan masakan ala Thailand, seperti tom yam, spicy fried chicken, seafood salad, dan bubur ketan hitam. 

Menurut Anthony, pemandu saya selama di Taiwan, kalau tidak menemukan resto halal, datang saja ke resto vegetarian. Di Taiwan, banyak penganut Buddha yang tidak memakan daging. Mengenai tempat salat, diakui Anthony memang agak sulit ditemukan, tetapi beberapa hotel bertaraf internasional sudah memasang tanda untuk menunjukkan arah kiblat.


•    Taipei Grand Mosque. Sec. 2, Xinsheng S Rd., Taipei
•    Yunus Halal Restaurant.  36, Beining Rd. Taipei
•    Ai-Jia Qingzhen Beef Noodle. 41, Lane 223, Sec 4, Zhongxiao E.Rd, Taipei
•    Enjoy Kitchen. 2, Lane 84, Sec 3, Roosevelt Rd., Taipei
•    Warung Sate Muslim. 13, Jianjun Road, Kaoshiung
•    Anatolia Turkish restaurant, Taichung














Penerbangan ke Taiwan
Garuda Indonesia terbang  tiap hari pukul 23.45 WIB. Lama perjalanan sekitar 5 jam 30 menit. Tidurlah selama penerbangan. Pagi hari Anda dibangunkan untuk sarapan, sehingga saat mendarat di Taiwan  Taoyuan International Airport, Anda langsung siap menjelajah Taiwan. Waktu Taiwan satu jam lebih cepat dari Jakarta.

Menginap di mana?
•    The Landis Hotel. 41, Sec 2, Min-Chuan East Road, Taipei 104.
Hotel bisnis yang cukup kondang, dilihat dari memorabilia orang penting yang sempat menginap di sini.  Fasilitas hotel bintang 5.
•    Grand Hi-Lai Hotel. N0 266, Cheng-Kung 1st Rd, 801, Kaohshiung
Letaknya strategis, tepat di sebelah pusat perbelanjaan, dekat kawasan bisnis, dan hanya selemparan batu dari Love River, kawasan yang sering digunakan warga untuk berolahraga atau nongkrong. Yang unik, ada Hello Kitty Suite Room dan fasilitas mobil Hello Kitty di sini.
•    The Splendor Hotel, N. 1049, Chien Hsing Rd,Taichung.
Terletak di jantung Kota Taichung. Ada fasilitas sepeda gratis yang bisa Anda gunakan untuk menjelajah Kota Taichung atau kawasan sekitar hotel di pagi hari.

Tip
•    Pembelian kartu data dan telepon cukup ketat dan agak ribet. Lebih baik daftarkan roaming internasional kartu Anda. Terdapat wifi di mana-mana, dengan kata kunci.
•    Angin di sini cukup kencang dan dingin, sebaiknya bawa jaket.
•    Hujan sering turun tiba-tiba, siapkan payung.
•    Visa diperlukan untuk mengunjungi Taiwan, bisa diurus di Kedutaan Republic of China (Taiwan).
•    Bulan Mei - September sering terjadi taifun, sebaiknya perhatikan info cuaca.
•    Money changer jarang ditemukan, bahkan di kawasan turis. Penukaran uang asing biasanya dilakukan di bank.
•    Gunakan easy card, kartu yang bisa digunakan untuk pembayaran berbagai kendaraan. Bisa dibeli dan diisi ulang di berbagai minimarket.



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?