Fiction
Laron Jakarta [7]

6 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

“Sayang, buktinya tidak kuat. Karen tidak memiliki nama wanita itu. Untuk menghormati kemarahan Karen, direktur mengambil langkah bijak, menjadikan Jay konsultan. Bisa bayangkan jika aku bersaksi untuk menolong Karen. Jay dan kamu akan dipecat secara tidak terhormat. Setelah itu kalian berdua tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan di bidang ini.”

“Bagaimana dengan pekerjaanku?”

“Kamu tidak akan diusik. Yang kita singkirkan adalah Jay dan Siska.”

Benar-benar menarik. Aku bisa bayangkan wajah Jay saat tahu bahwa aku yang bersaksi untuk menjatuhkannya. Tapi, bisakah Pak Don kupercaya?

“Apa bukti bahwa Bapak tidak menjebak saya?”

“Saya akan pindahkan kamu ke ruang di depan ruang saya ini.”

Wakil manajer! Aku tersenyum yakin.

“Sebelum jam pulang kita bertemu direktur. Siapkan dirimu....”

Aku kembali ke mejaku di ruang besar, ruang komunal. Kuperhatikan meja dengan seksama, begitu juga dengan pemandangan yang bisa kulihat dari meja. Meja yang menarik, meja terbaik di ruang ini. Sayang, sebentar lagi akan kutinggalkan. Siapa yang akan menempati mejaku nanti. Mataku memandang Beno. Aku tertawa, mungkinkah Beno yang akan berada di sini?

Kualihkan pandangan ke Siska. Apakah kau akan kembali ke Yogya setelah ini? Belanda?

Baru saja aku ingin berangkat menikmati waktu istirahat di puncak gedung, ketika telepon di mejaku berbunyi. “Nad, aku di tempat makan depan kantormu. Ayo, kita makan siang bareng,” ajak Karen.

Tidak ada salahnya. Anggap saja makan bareng terakhir.

Kuperhatikan sekeliling. Sudah sepi. Siska tidak ada di mejanya. Entah kenapa perasaanku tidak nyaman ketika keluar dari gedung. Sepertinya, aku akan mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan, padahal aku hanya akan makan bersama Karen. Ada apa ini?

Tak ada perbincangan yang berarti hingga makan selesai. Karen sudah membuka pembicaraan yang sama sekali tidak kuduga.

“Bagaimana pekerjaanmu, Nad?”

Tumben, baru kali pertama ini Karen berbicara tentang pekerjaan.

“Sebenarnya ini urusan kantor. Tapi, sebagai teman aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin bisa menolongmu. Sebaiknya kamu jauhi Don. Aku menyayangimu sebagai sahabat. Saking sayangnya, aku siap berbagi suami.”

Karen, kamu ngomong apa?

“Don itu ular. Dia melaporkan padaku tentang perselingkuhan Jay. Aku jadi identik dengan istri yang sangat pencemburu.”

“Don yang melaporkan?”

“Ya, dia yang melaporkan.”

“Siapa wanita itu menurut Don?”

“Dia hanya menduga, tidak memberikan nama. Lucunya, direktur malah percaya. Kalau tidak karena aku, mungkin Jay masih menganggur. Kubela dia di depan direktur. Sebenarnya, sejak dulu, aku dan Jay ingin cerita pada kamu. Tapi, kami pikir itu bisa mengganggu suasana kerjamu.”

Aku lega. “Baiklah, jika begitu, kita bicara yang lain saja.”

“Nad, lihat aku baik-baik. Apakah ada wanita seperti aku?”

“Maksudmu?”

“Aku tahu hubunganmu dengan suamiku. Tapi, sungguh, aku malah suka karena kamu yang berhubungan dengannya.”

Karen, apakah kau wanita berhati malaikat?

“Aku sakit, Nad. Paling lama tahun depan aku akan mati. Karena itu, saat Jay mengakui perselingkuhannya dengan kamu, aku sangat senang. Aku tulus.”

“Jangan mengada-ada....“

“Sudahlah, jangan malu. Seperti kukatakan tadi, aku tulus. Aku mencintai Jay. Karena itu, setelah mati, aku ingin ia mendapat pendamping yang benar. Aku setuju kalau dia memilih kamu.”

Apa lagi ini?

“Sudahlah, Nad, jangan merasa bersalah, aku malah mau berterima kasih pada kamu.”

Kupandang Karen dan kudapati kejujuran di sana.

“Aku dan Jay minta maaf. Kami memang sengaja membuat hubungan kalian seakan benar-benar perselingkuhan yang indah, yang memiliki risiko. Aku melarang Jay untuk mengatakannya padamu. Aku takut kamu tidak mau bertemu aku atau Jay lagi.”

“Sekarang kamu sudah tidak takut?”

“Malah sangat takut. Besok aku akan mulai dikarantina. Aku takut kamu malah meninggalkan Jay.”

Kuperhatikan wanita di depanku ini. Dia terbuat dari apa? Terus terang, aku lebih suka dia menjambak dan mencakarku, ketika tahu bahwa aku simpanan suaminya.

“Kamu sakit apa? Kenapa tidak terlihat bahwa kamu sakit parah?”

Dia tertawa.

“Kamu tahu, Nad, munculnya Siska malah menguatkan kami untuk mengatakan hal ini padamu.”

“Kamu tahu dia kekasih Jay?”

Dia tertawa, “Ya, sangat tahu malah.”

“Lalu, kamu biarkan saja?”

“Aku suka sekali ketika kamu kenalkan aku dengan dia. Malam itu Jay malah ingin menyelesaikan semuanya. Dia ingin datang dan memberitahukan semuanya tanpa terkecuali. Termasuk tentang Siska.”

“Siska adalah boneka yang kalian ciptakan untuk mengujiku/”

“Bukan, dia itu tokoh yang muncul di saat yang tepat. Dia itu kaki tangan Don. Seperti yang ada di pikiranmu saat ini, dia adalah simpanan Don! Kamu sudah bisa menebak kenapa dia bisa jadi manajer, ‘kan?”

“Tapi, aku dengar sendiri dia berbicara mesra dengan Jay.”

“Siska disodorkan Don pada Jay. Tapi, aku percaya pada Jay. Dia tidak akan tergoda karena sudah memiliki aku dan kamu. Dia gunakan Siska untuk mengetahui kemauan Don, sekaligus melihat keseriusan kamu padanya.”
Kenapa aku seperti korban permainan begini?

“Jangan marah, ya. Semua ini kami lakukan untuk kebaikan bersama. Saat ini Siska, sudah berada di pihak kita. Mungkin, Don tahu tentang membelotnya Siska. Karena itulah, Don ketakutan hingga mulai mendekati kamu. Siska tadi melapor, kamu dipanggil dan berbincang lama. Bisa ditebak dengan mudah, dia pasti sedang memengaruhi kamu.”

Ah, kenapa semuanya menjadi sangat mengerikan?

“Jay tidak akan kembali lagi ke kantor itu. Ia menjadi konsultan karena ingin terus memantaumu. Jika tidak, mungkin ia akan tolak tawaran direktur itu. Sudahlah, terserah kamu, aku yakin kamu bisa melihat mana yang terbaik. Aku pulang dulu, badanku letih sekali.”

Kubiarkan Karen pulang. Kuambil telepon genggam dan kuhubungi Jay. Pasti dia ada di tempat ini dari tadi. Kenapa aku tak melihatnya?

“Aku sembunyi di meja sebelah sana. Maaf, semua yang dikatakan Karen adalah benar. Kamu kupersilakan marah, tapi tolong jangan tinggalkan aku.”

“Nanti sore Don mengajak aku bertemu dengan direktur,” balasku, tanpa berusaha romantis.

“Oh. Kalau begitu, apa yang sempat dia minta pada kamu jadikan bumerang baginya. Itu saja. Gampang, ‘kan? Aku dukung kamu dari belakang.”

Sampai di kantor langsung kutemui Siska. Hari ini dia memakai baju gado-gado lagi. Kasihan juga, tampaknya aku harus membelikan majalah mode.

“Maaf, Mbak, kalau bukan karena Mbak Karen, tentunya aku tak akan sadar,” katanya.


Penulis: Muram Batu



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?