Fiction
Larasati [6]

12 Mar 2012

<< Cerita Sebelumnya

Di seberang, Santi diam. Memilih kata-kata terbaik untuk sahabatnya. Ia sangat tahu bagaimana kehidupan Larasati. Bahkan, terkadang Santi tidak habis pikir, mengapa masih ada orang seperti Larasati di zaman ini. Menunduk dan mengangguk untuk memuliakan keluarga.

“Untuk apa aku hidup, kalau hanya menjadi boneka orang lain.”

Santi berdehem. “Tetapi, bagaimana dengan ibumu?”

“Aku akan menghadapinya.”

“Kau serius?”

“Serius.”

“Kalau begitu, selamat berjuang untuk kebahagiaanmu.”

Air mata Larasati meleleh. Dadanya sesak mengingat ibunya. Bagaimanapun, ia sangat mencintai wanita yang tak pernah ia pahami jalan pikirannya itu.

“Terima kasih, San,” kata Laras, di sela isak tangis.

“Hei! Jangan menangis, aku harus bagaimana sekarang?” Santi bingung.

“Tolong, berdoalah untukku. Aku juga akan berdoa untukmu.”

Sambungan terputus. Santi tercenung di seberang.

Setelah meletakkan ponsel, tangis Larasati meledak. Sebagian beban yang mengimpit dadanya menghilang. Ia telah mengatakan kepada sahabatnya. Sebuah keputusan besar dalam hidupnya.

“Apakah gugatan cerai yang Anda ajukan itu serius?”

“Bagaimana kalau suami Anda tidak menanggapi gugatan itu?”

“Putri Anda sudah tahu rencana perceraian ini?”

“Penampilan Anda terlihat beda. Anda bahagia mengajar di sekolah ini?”

“Mengapa akhirnya Anda memilih profesi sebagai guru?”

“Apa komentar putri Anda, ketika tahu ibunya menjadi guru?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menyambut Larasati di gerbang sekolah pagi itu. Beberapa wartawan berkerumun menyodorkan alat perekam ke arah Larasati. Kilatan blitz kamera menyambar wajahnya berkali-kali. Kejadian itu menarik perhatian murid-murid dan teman-teman gurunya. Mereka saling memandang dan bertanya.

“Benar kataku, ‘kan? Bu Larasati itu istrinya Baskoro, pengusaha kaya yang dipenjara karena pembunuhan itu!” kata guru wanita kepada teman-temannya. “Aku hafal wajahnya, meski potongan rambutnya saat masuk ke sekolah ini berbeda.”

“Dia mau cerai? Kasihan, ya!” timpal yang lain.

Murid-murid mendekati kerumunan itu.

“Ternyata, Bu Laras itu artis?” kata seorang murid.

“Pantas cantik banget!” tambah temannya.

“Kenapa dia jadi guru?” tanya seorang murid, tapi tak dijawab teman-temannya.

Di sudut halaman sekolah, Winata yang baru datang turut melihat peristiwa itu. Pertanyaan-pertanyaan wartawan jelas terdengar dari tempatnya berdiri. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Membuat dadanya sedikit berdebar.

“Saya serius dengan gugatan cerai itu. Jika semua berjalan dengan baik, saya akan hidup berdua dengan putri saya. Sudah, ya, terima kasih. Saya harus mengajar,” jawab Larasati lugas kepada semua wartawan.

“Bolehkah kami meliput Anda saat mengajar, bu?” kejar seorang wartawan.

“Maaf, saya tidak ingin situasi belajar mengajar di sekolah ini terganggu, karena masalah pribadi saya dan kepentingan pers.”

Larasati mengembangkan senyum dan menyibak kerumunan wartawan. Semua mata penghuni sekolah tertuju padanya. Larasati tak dapat mengartikan makna tatapan itu. Ia berusaha melangkah dengan tenang memasuki ruang guru. Tetapi, guru-guru dalam ruangan itu menatapnya, seolah ia makhluk dari luar angkasa.

“Maaf, kalau keadaan tadi mengganggu kenyamanan,” kata Larasati, seraya melempar senyum.

Teman-teman gurunya mengangguk bersamaan.

Larasati menahan tawa geli melihat anggukan kompak itu.

Telepon di ruang tengah berdering.

“Dari Eyang, Bu…,” kata seorang pembantunya, menyodorkan telepon wireless kepada Larasati.

Meskipun semua telah diperkirakan, tak urung dada Larasati berdebar pula mendengar suara ibunya yang menahan kemarahan.

“Apa yang kau inginkan dengan gugat cerai itu, Laras?”

Larasati menarik napas dalam-dalam. Ia ingin memenuhi paru-parunya dengan banyak oksigen sebelum berbicara dengan ibunya. Mendadak nyalinya menciut. Apa yang telah kulakukan? Bukankah ini akan melukai hati Ibu? Tetapi, sesuatu yang kuat menggeliat dalam dirinya. Aku ingin menentukan jalan hidupku sendiri! Aku ingin bahagia!

“Dalem ingin bahagia, Bu,” jawab Larasati, langsung.

“Sudah kau pikirkan bagaimana Galuh nanti tanpa ayah? Dan kau… kau akan berstatus janda, Laras. Bagaimana kau akan menjalani hidupmu berikutnya?”

“Semua akan baik-baik saja, Bu.”

“Kau tidak memikirkan perasaan Ibu.”

Larasati terdiam. Tenggorokannya tercekik.

“Dalem mohon maaf, Bu. Tetapi, dalem tidak bahagia bersama Mas Baskoro. Dalem berharap Ibu mau memahami.”

“Terserah kaulah!” suara Ibu terdengar naik beberapa oktaf, lalu sambungan telepon terputus.

Larasati berusaha menghubungi lagi, tetapi Ibu tidak mau menerima teleponnya. Tertegun di depan gagang telepon air mata Larasati meleleh. Maafkan dalem, Bu. Semua bisa berubah, demikian juga putri bungsumu ini.

Larasati membayangkan perceraiannya akan melewati proses yang sulit. Pada kenyataannya, Baskoro dengan cepat menanggapi gugatan cerai yang dilayangkan Larasati. Melalui kuasa hukumnya, Baskoro mengabulkan gugatan cerai Larasati dan merelakan Galuh dalam pengasuhan ibunya. Maka, tanpa memakan waktu berkepanjangan, Larasati siang ini telah resmi menjadi janda.

Dadanya terasa lapang, ketika melangkah keluar dari pintu pengadilan. Santi menemaninya. Sahabatnya itulah yang selalu membesarkan hatinya selama proses perceraian berlangsung. Puluhan wartawan menyerbunya di halaman pengadilan. Dan, Larasati menyambut serbuan wartawan itu dengan senyum lega.

“Atas doa teman-teman wartawan, semuanya berjalan lancar. Sekarang, izinkan saya memulai lembar baru dalam kehidupan saya.”

Larasati menyibak kerumunan wartawan itu untuk masuk ke mobilnya. Ia tak ingin banyak bicara. Bagi Larasati, semua sudah usai. Santi berusaha keras menutup pintu mobil, yang diganjal berbagai alat perekam oleh wartawan.

“Ya, ampun! Seperti ini rasanya jadi selebriti?” Santi masih terengah-engah, setelah mobil menjauh dari halaman pengadilan.

“Terima kasih atas bantuanmu, San. Semua sudah berakhir.”

Santi memandang wajah sahabatnya. Kemudian mereka saling berpelukan haru.

“Ke mana sekarang, Bu?” tanya sopirnya, mengejutkan mereka.

Larasati menarik tubuhnya dan menyeka air mata. “Menjemput Galuh di sekolah. Aku ingin jalan-jalan dengannya. Kau ikut, San?”

“Hmm, boleh juga.”

Mereka saling bertukar pandang dan tersenyum.


Penulis: Tary


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?