Rela meninggalkan Jerman setelah berkarier di liga Jerman sejak berusia 5 tahun, Januari 2011 Kim Kurniawan resmi menjadi pemain Persema Malang. Langkah itu sepertinya bukan pilihan yang keliru. Hidupnya berubah drastis, menjadi salah satu idola baru tanah air yang dielu-elukan penggemar layaknya selebritas. Kesempatan dan popularitas yang belum pernah didapatkannya di Jerman diperolehnya dengan mudah di Indonesia. Mantan pemain FC Heidelsheim, sebuah klub yang berkompetisi di Verbandsliga Nordbaden Jerman (satu level di bawah divisi 3 Bundesliga) ini, juga baru bermain di film Tendangan dari Langit.
Waktu awal-awal tiba tinggal di Jakarta, bahasa Indonesia pria berwajah indo Cina-Jerman ini masih terbata-bata. Sekarang, logat Kim nyaris Jawa tulen. “Malah banyak yang bilang, logat bicara saya sekarang sudah seperti orang Madura,” ujar pemilik nama lengkap Kim Jeffrey Kurniawan ini, tanpa merasa malu.
“Saya senang akhirnya bisa tinggal di Indonesia,” ungkapnya. Pria kelahiran Mühlacker (sebuah kota kecil dekat Stuttgart, Jerman), 23 Maret 1990 ini, menuturkan tentang kecintaannya pertama kali pada Indonesia. “Tahun 2001, saya datang ke Indonesia pertama kali untuk berlibur. Saya langsung suka dengan negara ini,” terangnya. “Beda dengan di Jerman, orang-orang di sini ramah sekali. Dan, buat saya, kalau saya lihat ke depannya, masa depan saya lebih pasti di sini daripada di Jerman. Saya ingin sekali masuk tim nasional Indonesia,” kata Kim, yang ayahnya masih berstatus WNI.
Kebulatan tekad dan nada penuh harapan terdengar setiap kali ia menyebut timnas Indonesia. Bagi Kim, sepak bola adalah hidupnya. “Bagi seorang pemain sepak bola, bermain untuk negaranya adalah kebanggaan dan prestasi tertinggi,” terang cucu dari Kwee Hong Sing, pemain Persija Jakarta dan Timnas Indonesia pada era 1950-an ini, tanpa ragu.
Namun diakuinya, cita-citanya itu masih butuh proses panjang untuk terwujud. Kim yang datang lagi ke Indonesia, Agustus 2010 lalu karena mendapat tawaran dari coach Timo Scheunemann untuk bermain di Persema Malang ini, masih memegang paspor Jerman. “Saya pun mengajukan permohonan naturalisasi. Saat itu, saya sempat berpikir bahwa ini akan berlangsung seperti drama yang tak kunjung selesai,” kata Kim. Permasalahan status inilah yang membuat Kim mau tak mau harus kembali ke Jerman.
Namun, pada Desember 2010, statusnya berubah, Kim resmi menjadi warga negara Indonesia. “Saya senang sekali karena saya menjadi pemain naturalisasi pertama dan bisa bermain sepak bola untuk Indonesia,” jelasnya, berbinar. Kim sendiri mengaku sangat mendukung program naturalisasi, khususnya bagi para pemain asing atau keturunan setengah Indonesia seperti dirinya yang punya potensi memajukan persepakbolaan nasional. “Hanya saja, jangan terlalu banyak, dalam satu tim cukup lima orang saja,” ungkapnya tersenyum, dan senyum itu menjalar sampai ke mata sipitnya.
Bergabung dengan Persema segera membuat nama Kim melejit. Mengutip ucapannya, “Rasanya seperti menjadi selebritas. Saya merasa aneh. Soalnya di Jerman tidak ada orang yang kenal sama saya. Mungkin kalau pemain timnas, wajar banyak penggemarnya. Saya merasa biasa saja. Belum layak disebut bintang,” ucapnya.Tak habis pikir dengan status barunya sebagai selebritas, Kim melanjutkan, “Setiap kali makan di luar, pasti ada antrian panjang untuk minta tanda tangan saya. Setahu saya, pemain bola di Jerman tidak pernah sampai mendapat antrian penggemar yang minta berfoto, apalagi saat sedang makan. Di sini kelihatannya lebih fanatik,” ucapnya, sambil geleng-geleng kepala. (f)
Foto: dok. Bola


