<<Cerita SebelumnyaDayu tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Ia ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Dharma. Pulang dari kampus Dayu mampir di rumah Dharma.
“Dayu?!” Komang Sri terkejut. Ketika hendak keluar rumah, ia sudah mendapati Dayu di depan pagar rumahnya.”
“Maaf, Dayu mengganggu, Bi. Tapi, Dayu benar-benar harus bertemu dengan Bli Tut.”
“Aduh, Dayu, Bibi tidak tahu harus bagaimana lagi. Tapi, Ketut benar-benar tidak mau bertemu dengan Dayu.”
“Bi, ini penting sekali. Ini menyangkut hati Dayu dan Bli Tut,” kata Dayu, setengah memohon.
Komang Sri mengalah. “Dayu tunggu di sini dulu, biar Bibi coba panggil Ketut lagi.”
Tak lama kemudian Komang Sri muncul kembali.
“Dayu, Ketut tidak mau keluar. Katanya, Dayu lebih baik pulang dan jangan ganggu dia lagi.”
Dayu memohon. “Maaf, Bi, tolong bantu Dayu lagi. Katakan pada Bli Tut bahwa Dayu sudah siap.”
“Apa benar Dayu siap?” Tiba-tiba saja Bli Tut sudah muncul dari balik pintu. Entah sejak kapan ia mendengarkan perbincangan mereka.
“Bli Tut.”
Wajah Dayu memerah. Rasa rindunya sungguh tak terbendung lagi, air matanya mengalir.
“Ayo, masuk, Dayu.”
Bli Tut menggandeng tangan Dayu. Hati Dayu berdebar.
“Tut, Bibi pergi dulu, ya,” pamit Komang Sri pada Dharma.
Seperti biasa, Dharma dan Dayu duduk di bale bengong di rumah Dharma.
“Bli Tut, maaf, Dayu... kemarin Dayu sempat bimbang akan cinta Dayu pada Bli Tut.”
Dharma menyeka air mata di wajah Dayu dengan kedua tangannya. “Bli mengerti. Dayu hanya ingin menghindar dari segala bentuk masalah.”
Dayu mengangguk. “Sekarang Dayu rela keluar griya demi Bli Tut. Karena, Dayu telah memilih. Dayu tulus mencintai Bli Tut,” kata Dayu, yakin.
Hati Dayu berdebar-debar. Hati Dharma tak kalah kencang berdegup. Mereka berdua akan menghadap Dagus Brama. Jantung Ni Luh Sari ikut berdebar kencang mendapati sepasang kekasih yang sedang kasmaran di depan teras griyanya.
Dagus Brama naik darah, saat mengetahui Dharma berani menginjakkan kaki di griya-nya. Apalagi, sekarang ia sudah berada di ruang tamunya.
“Bukankah Aji sudah bilang, bahwa griya kita tidak boleh dimasuki oleh kaumnya, Dayu?!” kata Dagus Brama pada Dayu, sambil melirik sinis pada Dharma.
Tubuh Dayu terasa dingin, ia sangat gugup.
“Aji... Aji kuno.”
Singkat, namun cukup untuk membuat Dagus Brama bertambah marah.
“Apa maksud Dayu?!” bentak Dagus Brama.
“Maaf Aji. Maksud kedatangan kami berdua...,” Dharma mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Diam!” Dagus Brama melotot. “Aku bertanya pada putriku.”
Dayu meneguhkan tekadnya. Ia menelan ludah dan menenangkan hatinya.
“Maaf Aji. Apakah Aji lihat ada Dagus yang konservatif seperti Aji? Lihat saja Dagus Witra. Anak mereka berteman baik dengan kalangan biasa. Dagus Witra pun tak masalah anak dari kalangan biasa menginjakkan kaki di griyanya. Dayu pikir, Dagus Mantra pun pasti seperti itu. Maaf, Dayu lancang, Aji.”
Dagus Brama naik pitam. Ia menampar pipi Dayu.
“Ini akibatnya jika terlalu sering bergaul dengan orang biasa. Tidak punya sopan santun!”
Dayu menangis.
Dharma menenangkannya dan mengelus pipinya.
Tapi, Dagus Brama bertambah marah. “Sejak kapan orang biasa diizinkan menyentuh putriku!”
“Maaf, Aji. Tiang... tiang mencintai Dayu.”
Dayu dan Ni Luh Sari berdebar-debar menunggu reaksi dari Dagus Brama.
“Apa?!” Dagus Brama memegang dadanya yang seketika terasa sakit mendengar pengakuan Dharma. Ia jatuh terduduk di sofa.
“Aji, tolong restui kami. Selama ini Dayu tidak pernah melawan pada Aji. Tapi, ini soal perasaan. Dayu tidak bisa membohongi perasaan Dayu sendiri.” Dayu memohon, sambil berlutut di kaki Dagus Brama.
Dharma dan Ni Luh Sari ikut berlutut.
“Dayu!” Degup jantung Dagus Brama terasa tak terkendali. “Dia...dia tidak setara dengan kita.” Suaranya mulai berat.
“Apa lagi, Aji? Bli Tut berasal dari keluarga yang berpendidikan. Ia seorang sarjana hukum. Bibinya juga punya beberapa art shop dan juga seorang sarjana pariwisata. Ayah Dharma, Ji Made Eka Baskara, juga meninggalkan sebuah rumah dan sebidang tanah untuk Bli Tut. Kesalahannya hanyalah dia bukan Dagus!” Masih dengan tetap berlutut, Dayu mulai membantah Dagus Brama.
“Tapi, ibunya gila! Sejak Made meninggal, dia punya gangguan jiwa. Itu akan turun-menurun!”
Dagus Brama sangat marah. Dadanya bertambah sakit karena emosinya yang tak terbendung lagi.
Tapi, mendengar perkataan itu, Dharma juga marah. Matanya yang bulat membesar. Ia melotot menantang Dagus Brama.
“Ibu tiang tidak gila. Kalau gila, tidak mungkin kedua kakak tiang besar dan dapat bersekolah dengan normal. Seandainya kakak laki-laki tiang masih hidup, tentu dia jadi orang yang hebat juga!”
Selama ini masyarakat memang menganggap Kompyang, ibu Dharma, mengalami gangguan jiwa. Karena, ia sering tampak linglung, setelah Made Eka Baskara meninggal dunia. Apalagi, Kompyang adalah seorang yang tidak bersekolah, berbeda dari Made Eka Baskara, suaminya, yang seorang insinyur perikanan.
“Kalian...!!!”
Dagus Brama masih memegang dadanya, sakit sekali. Napasnya sesak.
Ni Luh Sari panik. “Aji... Aji... sabar, Ji.”
Dharma berlari keluar, meminjam mobil bibinya. Mereka membawa Dagus Brama ke rumah sakit terdekat. Ia terpaksa diopname, karena ia belum sadarkan diri, sejak pingsan dalam perjalanan ke rumah sakit.
Setelah pingsan selama dua hari, akhirnya Dagus Brama sadar. Ia melihat Ni Luh Sari tertidur di sisi tempat tidurnya.
“Ni Luh...,” panggilnya, pelan.
Ni Luh Sari membuka matanya perlahan. Ia sangat mengantuk. Dua malam penuh ia terus terjaga.
“Aji, syukurlah.” Ni Luh Sari langsung memeluk suaminya.
“Ni Luh, ini pasti karenamu,” kata Dagus Brama, terbata-bata.
“Aji, jangan terlalu banyak bicara.”
Ni Luh Sari khawatir penyakit jantung Dagus Brama kumat lagi.
“Kamu terlalu memanjakan Dayu. Ini akibatnya. Dia jatuh cinta pada orang sembarangan.” Napasnya tersenggal-senggal.
“Mereka teman main sejak kecil, Ji,” Ni Luh Sari membela diri.
Dagus Brama menarik napas berat.
“Itulah yang aku maksud Ni Luh. Kau yang sejak dulu mengizinkan putriku bermain dengannya.”
Ni Luh Sari terdiam. Ia tak tahu akan berkomentar apa lagi. Suami dan anaknya sama-sama orang yang keras kepala.


